Monday, December 31, 2018

Infrasruktur Berperan Penting untuk Pendidikan


Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan bagi setiap manusia di muka bumi ini, pendidikan sering juga disebut sebagai proses belajar, sering pula orang menyebutnya proses dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan tentunya sangat berperan penting dalam kehidupan setiap manusia, oleh karena itu dalam setiap kesempatan sudah sewajarnya semua orang berbondong–bondong mencari bahkan merebut setiap kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Pada tulisan ini akan sedikit  membahas salah satu bagian terkecil faktor yang mampu menunjang pendidikan agar berjalan dengan baik. Salah satu potret pendidikan yang akan di bahas atau dijadikan contoh dalam tulisan ini adalah pendidikan yang sudah lama berjalan di salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat. Pendidikan yang sudah lama berjalan ini begitu menarik perhatian semua kalangan termasuk penulis sendiri, begitu banyak faktor penghambat proses pendidikan tersebut, salah satunya adalah infrastruktur. Infrastruktur merupakan salah satu penunjang atau pendukung terjadinya proses pendidikan, seperti yang tertera pada judul di atas “infrastruktur sangat berperan penting untuk pendidikan”, bayangkan saja seandainya akses murid dan tenaga pengajar menuju ke sekolah terhambat, tentunya proses pendidikan itu tidak akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan. 
Infrastruktur merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya proses pendidikan, tetapi hal itu sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan yang ada di salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, kondisi geografis dan perekonomian daerah menjadi hal utama penyebab susahnya infrastruktur yang dilalui oleh pelajar dan tenaga pengajar di kecamatan tersebut, jarak tempuh yang cukup jauh juga menjadi faktor penghambat terjadinya proses pendidikan di kecamatan tersebut, seperti  yang terlihat pada gambar berikut ini.

             
Gambar di atas merupakan bukti nyata kondisi infrastruktur yang dilalui oleh pelajar dan tenaga pengajar demi mengikuti proses pendidikan. Tenaga pengajar yang tinggal di kecamatan lain dan mengabdi atau mengajar di kecamatan Lembah Bawang memerlukan waktu kurang lebih satu jam untuk  tiba di tempat pengabdian atau mengajar. Ini merupakan salah satu jalan masuk dari tiga jalan masuk menuju kecamatan lembah bawang. Kondisi jalan ini akan lebih parah lagi ketika musim penghujan, bukan sekedar lumpur dan jarak yang menghambat perjalanan tetapi banjir pun sering kali melintasi jalanan ini. Beberapa hal ini menjadi kendala yang besar bagi tenaga pendidik, jikalau kondisi sudah hujan dan banjir tenaga pendidik sedikit kesulitan untuk tiba di tempat pengabdian, bahkan sering kali tenaga pendidik membatalkan perjalanan menuju tempat pengabdian karena kondisi jalan yang sudah tidak memungkinkan. Pertanyaan besar muncul seketika, bagaimana nasib pelajar kalau tenaga pengajar membatalkan perjalanan menuju tempat pengabdian atau sekolah? Pertanyaan ini yang sering muncul ketika kondisi alam sudah tidak bersahabat, sebab tenaga pengajar yang mengajar di beberapa sekolah di kecamatan Lembah Bawang kurang lebih hampir 80% berdomisili di luar kecamatan ini, sehingga ketika muncul pertanyaan seperti di atas maka akan muncul jawaban, “tidak akan terjadi proses pembelajaran”. Hal ini pun sering kali terjadi pada saat-saat tertentu, dan pastinya proses pendidikan tidak akan berjalan dengan baik seperti yang diharapkan, ini merupakan masalah besar bagi pendidikan yang ada di sini, masalah yang harus diatasi demi terjaganya kondisi pendidikan yang sesuai dengan standar. Ini lah cerita singkat tentang potret infrastruktur yang ada di kecamatan Lembah Bawang Kalimantan  Barat.
Dari cerita singkat di atas, dapat kita simpulkan sendiri bagaimana kondisi dan keadaan pelajar ketika alam tidak menundukung infrastruktur yang ada, oleh sebab itu penulis berani mengatakan bahwa infrastruktur memiliki peran penting untuk bidang pendidikan, terutama untuk pendidikan di kecamatan Lembah Bawang. Selain untuk pendidikan, infrastruktur juga sangat mempengaruhi ekonomi warga bahkan kesehatan warga, karena susahnya akses menuju rumah sakit ataupun tempat pengobatan lainnnya. Semua kondisi yang ada di kecamatan Lembah bawang menggambarkan bahwa betapa sulitnya proses pendidikan yang terjadi,  betapa kurangnya standarisasi aspek penunjang pendidikan.
Pada dasarnya proses pendidikan akan berjalan dengan baik ketika semua aspek penunjang proses pendidikan berjalan dengan baik, namun jika salah satu dari faktor penunjang itu sendiri tidak berjalan dengan baik maka kesenjangan proses pendidikan pun pasti akan terjadi seperti pada cerita singkat di atas. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan alasan untuk semua kalangan dalam mempertahankan pendidikan yang ada di kecamatan Lembah Bawang, yaitu semangat dan kemampuan dari semua pelajar yang ada, hal ini juga yang menjadi motivasi tersendiri bagi para tenaga pengajar termasuk penulis sendiri agar tetap bertahan dalam mengemban tugas sebagai seorang guru. Semoga dengan kondisi yang ada di kecamatan Lembah Bawang ini juga bisa menjadi motivasi bagi semua pelajar, guru, masyarakat, dan pemerintah yang berada di luar kecamatan Lembah Bawang untuk lebih semangat dan bersungguh–sungguh menjaga pendidikan yang ada di NKRI, semoga semua faktor penunjang proses pendidikan yang belum merata dapat segera teratasi dan semoga semua proses pendidikan yang sudah berjalan dengan baik mampu ditingkatkan dan dipertahankan, demi keutuhan dan kemajuan NKRI.
Akhirnya melalui tulisan ini juga penulis ingin menyampaikan pesan dari pelajar di pelosok Negeri terutama di kecamatan Lembah Bawang, provinsi Kalimantan Barat, untuk semua pelajar, guru, pemerintah, dan masyarakat yang mungkin sekarang sudah bisa menikmati pendidikan dengan baik  tanpa kurang suatu apa pun, “tetaplah menjaga dan menjunjung tinggi nilai Bangsa dan Negara lewat pendidikan yang kalian dapatkan, jagalah selalu keutuhan bumi Pertiwi dari Sabang Sampai Marauke agar tetap menjadi NKRI, jangan pernah sia-siakan pendidikan yang kalian dapatkan dengan mudah, karena kami yang berada di pelosok negeri ini masih harus mempertaruhkan nyawa demi meraih sedikit pendidikan, semoga kita semua tetap menjadi NKRI yang kompak dan harmonis meskipun berada di daratan yang berbeda, salam hangat dari pelosok Negeri”.
(by. Agustinus L. T. Jemparut, S. Pd.)

Wednesday, December 26, 2018

Guru dan Pengabdian di Bumi Sebalo


      Waktu itu adalah kali pertama untuk saya menginjakan kaki di tanah Borneo. Bukan dalam rangka berlibur namun untuk sebuah tugas pengabdian. Singkat cerita, keesokan harinya akhirnya sampailah saya di daerah penugasan, Kabupaten Bengkayang. Tidak banyak cerita dari kabupaten ini yang saya ketahui. Tapi tugas tetap tugas dan harus tetap dijalani apapun yang akan dihadapi dan saya meyakini ini adalah keputusan yang sudah saya ambil dan pilihan terbaik untuk saya secara pribadi.
Oh ya, sebelumnya bolehlah saya memperkenalkan diri, Achmad Rifqirridho Azzaky sebuah nama yang diberikan oleh orang tua saya sejak saya lahir, bagi sebagian orang mungkin nama saya sedikit susah tapi saya biasa disapa Ridho. Saya berasal dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, bukan daerah perkotaan memang tapi sangat nyaman untuk ditinggali. Saya mendapat tugas pengabdian Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) di salah satu kabupaten di Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Bengkayang. Saya ditempatkan di Kecamatan Lembah Bawang, yakni di SMP Negeri 2 Lembah Bawang. Kebetulan saya sendiri yang ditempatkan di sekolah ini, yang terdekat dengan kawan sesama guru SM-3T ada di TK Negeri Pembina Lembah Bawang yang letaknya tidak begitu jauh.
     Saya ditempatkan di kecamatan Lembah Bawang ini bersama dengan empat rekan saya, yang kesemuanya bertugas di sekolah-sekolah yang berbeda. Mereka semua berempat yakni Agustinus L.T Jemparut biasa dipanggil Tinus atau Tyno, dia berasal dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur dan dia ditempatkan di SMP Negeri 3 Lembah Bawang, Alfiana Rinawati biasa dipanggil Alfi, dia berasal dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dia ditempatkan di TK Negeri Pembina Lembah Bawang, Nining Lisnawati biasa dipanggil Nining, dia berasal dari Magetan Jawa Timur, dia ditempatkan di SMA Negeri 1 Lembah Bawang, dan yang terakhir Febriana Nurrokhmah biasa dipanggil Febri dia ditempatkan bersama Nining di SMA Negeri 1 Lembah Bawang.
      Singkat cerita, saya dan rekan-rekan sampai di daerah penempatan pada hari Rabu, 7 September 2016. Kita sudah membuat janji untuk bertemu ketika sudah sampai, karena kita berangkat ke daerah tidak bersama. Betapa bingung kita ketika ingin menghubungi satu sama lain, jaringan selular pun tidak ada. Akhirnya saya mengajak beberapa murid untuk mengantar di daerah Kecamatan dan syukurnya bertemu dengan kawan, kecuali Tyno yang masih di kota bersama Kepala Sekolahnya. Tak terasa malam pun tiba, kita masih di SMA, karena kita sudah memutuskan untuk tinggal bersama, dan keputusannya yang terletak di tengah yaitu di SMA Negeri 1 Lembah Bawang. Di sini ada ruang yang bisa dipakai untuk menjadi tempat tinggal dan sudah diizinkan oleh Kepala SMA.
     Di sini listrik ada meski menggunakan tenaga surya, sinyal ada karena letak daerahnya cukup tinggi, tetapi air susah didapat, karena tempatnya di atas, sedangkan air di bagian bawah dan harus turun jika akan mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Jangan bayangkan ada tangga, yang ada justru tanjakan curam dan masih berbalut tanah kuning yang jika kena air sangatlah licin. Tapi lupakan itu terlebih dahulu, malam pertama ini kami masih berempat, listrik belum sampai atas, akhirnya kita diajak untuk mandi dan menginap di tempat guru SMA yang berada di sekitar sekolah.
Pagi pun tiba, belum ada aktivitas, masih merancang apa yang akan kami lakukan, berangkat ke sekolah juga belum karena kami masah dalam tahap adaptasi. Akhirnya kami pun berkumpul berlima. Kami merancang apa yang akan kita beli untuk hidup satu tahun ke depan secara bersama. Yang paling utama adalah kendaraan, kami perlu untuk pergi menuju ke sekolah penugasan. Kami pun langsung berusaha beradaptasi secepat mungkin dengan lingkungan sekitar. Waktu dengan cepat berlalu, kami sudah harus menjalani kewajiban kami di sekolah, hari Sabtu saya bersama rekan saya, Alfi, kali pertama ke sekolah  untuk mengajar, kami disuguhi alam yang luar biasa, kami melewati jalan setapak di tengah hutan menggunakan sepeda motor, karena jarak dari tempat tinggal menuju ke sekolah sekitar 8km, tapi ketika bersimpangan dengan motor lain harus bergantian karena jalan yang begitu sempit dan tidak mulus pastinya, ada jalan berbatunya, ada tanah datarnya, ada juga tanah yang berkubang air, ada tanjakan dan turunan yang terjal, dan ada juga jembatan yang hanya dengan kayu satu papan saja. Itu keadaan nyata dan satu-satunya jalan menuju sekolah dan harus kami jalani, saya bersyukur karena masih ada rekan yang berdekatan penempatannya, jadi ketika di jalan kami selalu bercerita atau membicarakan apapun agar waktu di jalan tidak terasa.
      Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan sudah satu bulan, pada saat itu ada pelebaran jalan dimana jalan yang setiap hari saya lewati untuk ke sekolah. Dalam hati merasa senang bakal nyaman jalannya, bakal lebih cepat waktu tempuh untuk kesana. Pelebaran jalan itu pun dimulai, dengan berdatangannya alat-alat berat dan mobil pembawa batu dan pasir untuk pengerasan jalan. Pelebaran ini kira-kira akan berlangsung dua bulan lamanya. Suatu hari setelah pelebaran, turun hujan di pagi hari yang tidak terlalu deras. Sempat muncul keraguan untuk berangkat ke sekolah, tetapi kami merasa berdosa ketika hanya di tempat tinggal dengan santai. Kami putuskan untuk berangkat ketika hujan mulai reda, berbekal sepatu boot pemberian dari Pemerintah kami berangkat. Sampai di seperempat jalan, mulai terasa medan yang kami lewati, jalan yang sehari sebelumnya baru saja ditimbun tanah dan pagi harinya di guyur hujan terasa berat dan sangat licin untuk dilewati. Bukan tanah merah seperti kondisi tanah di tempat kami tinggal, tapi tanah putih yang begitu licin dan sangat mudah menempel di roda sepeda motor dan sangat susah untuk dilepaskan. Hal yang terjadi adalah roda sepeda motor kami tidak bisa bergerak, karena penuh dengan tanah yang menempel di roda sepeda motor dan bagian lainnya. Akhirnya kami putuskan untuk mendorong motor dengan kondisi roda yang tidak dapat berputar, mungkin lebih tepatnya menyeret sepeda motor kami. Di depan ada jembatan dan berjarak kurang lebih 200 meter dari kondisi kami terjebak. Tetapi jarak itu sudah cukup membuat tenaga kami habis untuk "mendorong" sepeda motor dengan kondisi roda yang tidak dapat berputar. Sesampainya di jembatan, kami langsung berusaha untuk membersihkan tanah yang menempel dengan harapan roda sepeda motor kami dapat berputar kembali karena jam sudah hampir menunjukan jam 8. Kami sudah kehabisan akal bagaimana cara membersihkan tanah itu, dengan sisa tenaga kami akhirnya roda sepeda motor kami dapat berputar kembali meski tidak semua tanah yang menempel dapat dibersihkan. Tetapi sudah cukup untuk bergerak kembali agar kami bisa melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah. Akhirnya kami sampai di sekolah meski jam sudah menunjukan hampir di angka 9 dan waktunya hampir istirahat dan rekan saya yang bertugas di TK sudah hampir selesai jam belajarnya.
      Dua bulan sudah berjalan, dengan keadaan yang bisa dibilang susah karena kami tinggal di daerah atas yang susah akan air dan tidak punya tetangga rumah, akhirnya memasuki bulan ketiga kami memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Kami dibagi dua, saya dan rekan yang bertugas di TK tinggal di rumah milik rekan guru di desa sekolah kami berada, sedangkan yang bertiga tinggal di rumah rekan guru yang bertugas di SMP Negeri 3 Lembah Bawang. Kondisi di tempat tinggal yang baru, terdapat sumber air yaitu sumur jadi lebih mudah, tetapi untuk listrik belum sampai di desa ini. Sumber penerangannya yaitu berasal dari mesin. Tetapi tempat tinggal kami tidak memiliki. Satu-satunya dari lampu yang kami sambungkan dengan Power Bank yang setiap tiga hari kami titipkan untuk diisi ulang di tempat rekan guru yang memiliki mesin. Kehidupan seperti itu kami jalani sampai empat bulan.
    Ketika memasuki bulan maret, ada pergantian struktur di kecamatan, yaitu pergantian Camat. Setelah Camat baru sudah bertugas, kami berlima diundang untuk hadir di kantor kecamatan. Kami diminta untuk menempati rumah dinas Camat. Dalam hati kami, kami ingin menolak karena kami sudah merasa nyaman dengan kondisi yang sudah kami jalani. Tetapi kami tidak bisa menolak, itu permintaan atau bahkan bisa dikatakan perintah dari kecamatan. Akhirnya kami berlima berkumpul lagi dan tinggal bersama di rumah dinas Camat. Selama kami tinggal di sana, kami pun sangat merasa nyaman. Kami merasa di rumah kami sendiri atau seperti saat kami menimba ilmu di Perguruan Tinggi dengan fasilitas yang diberikan. Kami merasa tidak seperti SM-3T, kenapa bisa seperti itu, karena kami tinggal di rumah dinas Camat yang pastinya bertembok, rumah yang luas, listrik yang lancar, air yang ada setiap waktu, ditambah tempat tidur berbahan busa dan bahkan spring bed, dan adanya televisi sebagai hiburan kami. Dengan fasilitas itu kami sangat merasa nyaman dan betah untuk di rumah, tetapi kami juga masih menyeimbangi dengan ikut bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, kadang kala kami yang berkunjung, kadang pula masyarakat yang mengunjungi kami. Di rumah dinas Camat itu kami tinggal sampai kami selesai menjalani tugas pengabdian di sekolah masing-masing khususnya kecamatan Lembah Bawang.
      Kegiatan-kegiatan yang saya ikuti selama penugasan, saya bagi menjadi dua. Pertama, program kerja SM-3T Kabupaten Bengkayang, dan yang kedua kegiatan kemasyarakatan. Untuk program kerja dari SM-3T Kabupaten Bengkayang itu adalah Sosialisasi dan Try Out SBMPTN, pengumpulan donasi, dan Festival Pendidikan Kabupaten Bengkayang. Sedangkan kegiatan kemasyarakatan mengikuti kegiatan yang ada di masyarakat, termasuk kegiatan-kegiatan adat yang ada. Seperti, Tahun Baru Padi, kegiatan adat ini sebagai rasa syukur dengan hasil panen yang didapat, kegiatan ini dilaksanakan oleh masing-masing dusun dengan waktu yang berbeda. Kegiatan Naik Dango, kegiatan ini sebagai puncak rangkaian kegiatan adat yang ada, istilah lainnya yaitu Gawai Dayak. Kegiatan ini berisi lomba-lomba dan kegiatan adat yang sudah langka, Sibo Sunsak, yaitu acara adat memanjat pinang tetapi dengan cara terbalik (biasanya kaki di bawah kepala di atas, kegiatan ini dilakukan secara terbalik, yaitu kaki di atas dan kepala di bawah). Kegiatan ini diikuti oleh orang-orang pilihan yang sebelumnya sudah mengikuti ritual adat terlebih dahulu.
      Tempat penempatan saya di Kecamatan Lembah Bawang, berada tepat di kaki Gunung Bawang. Sehingga tempat ini pastinya kaya akan tempat yang bisa dijadikan sebagai objek wisata. Alam di sini sangat masih terjaga kelestariannya, masih benar-benar hutan yang lebat dan masih tumbuh pohon-pohon besar dan juga sumber mata air yang membentuk air terjun yang indah. Hal itu membuat pemandangan di sini sangatlah indah dan memanjakan mata dan pastinya membuat saya pribadi semakin nyaman, betah, dan membuat rindu ketika sudah kembali ke rumah sendiri. Ditambah lagi keramahan orang-orang di sini, yang selalu menyapa ketika berjumpa di jalan. Apalagi siswa-siswi atau anak sekolah dari TK sampai SMA, setiap bertemu di manapun dan kapanpun selalu menyapa dengan ramah. Hal itu yang membuat beda antara di lingkungan rumah saya (Pulau Jawa pada umumnya) dengan suasana di daerah penempatan (Lembah Bawang khususnya). Hal itu pula yang membuat saya merindukan suasana seperti ketika mengabdi di daerah tugas, di daerah penempatan, daerah 3T.
Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia!
(by.  Achmad Rifqirridho Azzaky, S.Pd.)

Tuesday, December 18, 2018

BUDAYA GAWAI NYOBENG DAYAK BIDAYUH SEBUJIT


Indonesia merupakan negara kesatuan yang penuh dengan keberagaman. Indonesia terdiri atas beraneka ragam suku, budaya, ras, dan agama. Indonesia memiliki kebudayaan yang lengkap dan variatif. Keanekaragaman budaya Indonesia merupakan aset yang tidak ternilai harganya, sehingga harus tetap dipertahankan dan terus dilestarikan. Beruntung sekali jika kita bisa berkeliling melihat keanekaragaman budaya Indonesia. 
Penulis memiliki kesempatan untuk melihat dan ikut serta dalam melestarikan salah satu kebudayaan Indonesia yaitu Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit, Kalimantan Barat. Kesempatan ini didapatkan ketika penulis terpilih menjadi salah satu guru SM3T di Kalimantan Barat. Guru SM3T adalah seorang sarjana muda yang dikirim oleh pemerintah untuk mendidik di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal). Pemerintah dengan program SM3T Kemendikbud mengirimkan guru-guru pilihan ke daerah 3T dengan tujuan memeratakan kualitas pendidikan di Indonesia. Penulis ditempatkan di Desa Sebujit, Kec. Siding, Kab. Bengkayang, Prov. Kalimantan Barat, lebih tepatnya di SMP N 3 Siding. Selain fokus terhadap pendidikan penulis juga ikut bersosialisasi dengan masyarakat. Salah satunya adalah ikut serta dalam acara pesta Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit.
Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit merupakan upacara adat untuk menyambut hasil panen yang rutin dilakukan. Upacara adat ini merupakan cara untuk mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen yang melimpah. Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit dilaksanakan selama satu minggu. Selama satu minggu acara Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit diisi berbagai macam kegiatan. Ada acara ramah tamah ke rumah tetangga seperti hari raya idul fitri, diisi dengan makan dan minum, ritual nyobeng (memandikan atau membersihkan tengkorak hasil mengayau oleh nenek moyang), lomba menyumpit, dan panjat pinang terbalik. Ketika acara ramah tamah penulis sedang menjalankan ibadah puasa ramadhan sehingga tidak bisa berkeliling menuju rumah-rumah penduduk. Makanan dan minuman yang disajikan tiap rumah berbeda-beda, tetapi ada satu makanan dan minuman yang pasti ada yaitu lemang dan tuak/arak. Setiap rumah terbuka untuk menyambut semua tamu yang hadir, tidak melihat dari mana asal tempat tinggal baik dari desa sebujit atau dari luar desa sebujit bahkan dari desa dan kecamatan lain. Suasana kekeluargaan sangat terasa ketika acara Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit.


Gambar 1.1 Peserta Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit sedang menari mengitari rumah adat.





Gambar 1.2 Tokoh masyarakat memberikan sambutan saat Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh
Acara Gawai Nyobeng Bidayuh Sebujit saat itu bertepatan dengan bulan puasa agama islam. Acara yang paling ramai gawai adalah ketika datangnya ritual nyobeng. Acara ritual nyobeng ini dilakukan di rumah adat sebujit.  Banyak sekali wisatawan yang datang ke rumah adat sebujit, baik wisatawan lokal ataupun mancanegara. Penulis saat itu ikut dalam perayaan nyobeng dengan berpakaian adat sebujit. Selain ikut menari mengitari rumah adat, penulis juga diminta menuangkan minuman tradisional tuak ke tamu undangan. Setelah acara nyobeng selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah, panjat pinang terbalik dan lomba sumpit. Acara Gawai Nyobeng Bidayuh Sebujit sebagai suatu alat untuk melestarikan dan mengenalkan budaya lokal ke masyarakat umum dan masyarakat dunia. (oleh Ana Mathofani, S.Pd.)

Friday, December 14, 2018

Kisah Guru di Ujung Negeri


Menjadi seorang guru selain mengajar juga mendidik dan menerapkan sikap disiplin, tanggung jawab kepada peserta didik merupakan pondasi awal terciptanya peserta didik yang mempunyai karakter untuk membangun masa depan yang lebih baik guna memperbaiki sumberdaya manusia dan kualitas dalam pendidikan. Dunia pendidikan merupakan hak setiap anak, tidak ada perbedaan antara anak di kota  maupun anak di ujung negeri karena setiap anak bangsa wajib mengenyam pendidikan yang layak setinggi mungkin. Memotivasi anak di ujung negeri bahwa segala keterbatasan yang ada bukan sebuah penghalang untuk berhenti mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Kunci terpenting adalah rajin belajar dan pantang  menyerah dalam mengejar cita-cita, pasti akan selalu menemui jalan keluar.

Pengabdian sebagai guru melalui program SM-3T memberikan banyak pengalaman yang selalu terkenang oleh penulis, banyak hal yang penulis dapatkan dari program tersebut. Dalam pengabdian selama satu tahun penulis ditempatkan di daerah Kabupaten Bengkayang di mana membutuhkan perjalanan darat 4 jam dari Pontianak untuk menuju Kabupaten Bengkayang. Setelah sampai Kabupaten Bengkayang penulis ditempatkan di SMP N 2 Suti Semarang di mana membutuhkan waktu 4-5 jam dari Kabupaten Bengkayang menuju daerah tempat mengabdi, ada satu hal yang baru pertama penulis temui yaitu tentang keadaan jalan menuju daerah penugasan yang sangat luar biasa seperti namanya Suti (sulit terlewati) bukan hanya berlubang lagi tapi sudah berlumpur-lumpur,  genangan air pun menghiasi sepanjang jalan menuju tempat penugasan serta jalan yang licin. Kali pertama penulis masuk ke tempat penugasan tersebut bersama pengojek yang tentunya sudah mahir dengan medan yang luar biasa ini.
SMP Negeri 2 Suti Semarang memiliki gedung dan bangunan yang bisa dibilang layak akan tetapi masih mempunyai banyak kekurangan. Gedung sekolah memang sudah dibuat secara permanen, akan tetapi dinding gedung sekolah sangat tipis sehingga mudah rusak serta sarana dan prasarana yang terbilang masih kurang, sekolah ini berada di tengah-tengah gunung yang namanya Gunung Sekaju di antara sekolah hanya ada  dua rumah warga yang bersebelahan dengan sekolah, sedangkan lainnya masih kawasan hutan. Untuk bisa sampai di daerah perkampungan membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor, tentu saja dengan kondisi jalan yang luar biasa seperti yang sudah digambarkan tadi di atas. Sekolah ini juga merupakan sekolah yang berada di daerah perbatasan antara Kabupaten Bengkayang dengan Kabupaten Landak sehingga banyak murid yang berasal dari Kabupaten Landak.
Guru yang mengajar di SMP N 2 Suti Semarang berjumlah 9 guru, berbeda dengan guru di kota-kota yang hanya mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan bidang studinya, di sekolah ini guru ditugaskan untuk merangkap mata pelajaran lain seperti penulis yang bidangnya Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi harus mengampu mata pelajaran lain seperti IPS, TIK, dan sering mengantikan guru yang ada kegiatan luar. Hal ini dilakukan karena ketika guru ada kegiatan dinas luar, tidak bisa dijangkau selama satu hari karena  medan jalan yang luar biasa ini yang mengakibatkan guru harus menginap di kabupaten kota. Setiap kegiatan yang berkaitan dengan sekolah, meskipun dengan kondisi jalan yang seperti itu tidak ada alasan bagi guru bermalas-malasan. Di sekolah ini guru selalu aktif dan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar dalam mengajar serta menyampaikan materi, karena mereka mempunyai tekad ingin merubah anak di pelosok negeri ini menjadi anak yang mempunyai wawasan yang mumpuni dan berani bersaing dalam bidang akademik dengan sekolah yang berada di daerah perkotan .
Jumlah siswa SMP N 2 Suti Semarang per Juli 2017 adalah 55 orang siswa dengan rincian kelas VII berjumlah 7 orang, kelas VIII berjumlah 23 orang, dan kelas IX berjumlah 25 orang, sehingga total berjumlah 55 orang siswa. Setengah dari mereka adalah dari Kabupaten Landak sehingga siswa harus menginap di asrama sekolah, bagi siswa yang tidak tinggal di asrama mereka sudah harus berangkat sekolah sekitar jam 5 pagi dengan jarak tempuh kira-kira satu jam sampai satu setengah jam perjalanan dengan jalan kaki. Sedangkan anak-anak yang tinggal di asrama sekolah harus bangun jam 5 untuk mandi ke sungai, sambil  mengangkut air untuk kebutuhan seperti memasak dan merebus air untuk diminum karena mereka dituntut untuk mandiri karena tingggal di asrama sekolah jauh dari orang tua. Walupun sekolah di daerah yang jauh dari perkotaan SMP N 2 Suti Semarang menerapakan nilai-nilai disiplin yang tinggi, terbukti anak-anak harus sudah masuk sekolah jam 7 tepat, sebelumnya dikumpulkan untuk melakukan cek kehadiran dan cek tugas piketnya. Bagi siswa yang melanggar atau tidak sesuai dengan aturan akan diberikan konsekuensi, tapi siswa-siswi selalu menjalani dengan semangat tanpa mengeluh demi mengejar cita-cita yang mereka impikan.
            Walaupun berada di ujung negeri proses belajar mengajar di SMP N 2 Suti Semarang berjalan dengan baik dan selalu melakukan upacara bendera rutin setiap hari Senin, serta  banyak kegiatan-kegiatan yang wajib mereka ikuti seperti ektrakulikuler karate dan pramuka guna membekali para peserta didik tentang kepramukaan maupun tentang beladiri. Semangat yang diperlihatkan mereka untuk pergi ke sekolah walaupun dalam keterbatasan membuahkan hasil, walaupun berada di daerah 3T yang jauh dengan perkotaan mereka mampu bersaing dalam olimpiade OSN dengan menjadi salah satu wakil kegiatan OSN tingkat kabupaten untuk ke tingkat provinsi dalam bidang olimpiade Matematika. Hal itu membuktikan bahwa di ujung negeri ini, ada mutiara-mutiara yang akan mengubah masa depan melalui pendidikan yang baik, pendidikan yang menanamkan karakteristik dari dalam diri anak.

            Setelah pulang sekolah mereka tidak langsung pergi bermain atau hanya berdiam diri di rumah saja. Mereka harus membantu orang tua mereka berkebun ke sawah. Mayoritas penduduk Suti Semarang adalah petani merica/lada dan getah karet. Siswa-siswiku ini menjalaninya tanpa ada beban, semuanya terasa ringan karena mereka dengan penuh ikhlas membantu orang tua mereka. Meski sibuk membantu bekerja di kebun mereka tetap tidak mengesampingkan tugas mereka sebagai pelajar yaitu belajar. Tanpa penah ada kata mengeluh, mereka tetap menyempatkan belajar pada malam harinya walaupun badan mungkin sudah terasa lelah. Tapi demi meraih cita-cita yang selalu mereka impikan, itu bukan menjadi masalah. Mereka selalu menanyakan kepada penulis “apakah cita-cita kami bisa terwujud?”, dengan raut wajah polos mereka berkata demikian. Tentu penulis selalu memberikan semangat dan bekal ilmu semaksimal mungkin dan memotivasi mereka untuk selalu belajar dengan rajin, ulet dan tekun agar apa yang dicita-citakan dapat tercapai suatu saat nanti.

“Selalu belajar dan semangat dalam menuntut ilmu siswa-siswiku.
Jemputlah kesuksessanmu di masa depan walaupun kamu jauh dari perkotaan dan berada di ujung negeri....!!!!!”
(oleh M. Ijokio Harto, S.Pd.)

Tuesday, December 11, 2018

Pelita Harapan Sepano


Harapan anak bangsa!
Guru tidak pernah lepas dari mendidik. Mendidik adalah lahan untuk mengeksplorasi diri guna mengembangkan potensi, memenuhi tugas, dan mencapai keberhasilan akan tujuan pendidikan itu sendiri. Salah satu tujuan dari terselenggaranya pendidikan di Indonesia adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Tidak hanya mereka saja yang hidup dalam kemudahan di kota yang berhak untuk mendapatkan pendidikan, tetapi mereka yang hidup di ujung negeripun juga berhak untuk mengenyam pendidikan. Oleh demikian pemerataan pendidikan sampai ke daerah-daerah ujung negeripun semakin gencar dilaksanakan.
            Mengabdi selama satu tahun sebagai guru SM-3T, berbagai pengalaman luar biasa telah didapatkan penulis. Penulis bertugas di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Mungkin di antara pembaca sekalian banyak yang tidak tahu ataupun bahkan belum pernah mendengar nama Kabupaten Bengkayang. Sama halnya dengan penulis yang mungkin tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah mendengar jika penulis tidak mengikuti program ini. Sedikit penulis jelaskan bahwa Kabupaten Bengkayang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat, jarak tempuh dari Kota Pontianak selaku ibu kota provinsi yaitu sekitar 4-5 jam melalui jalur darat. Kabupaten ini adalah salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia.
            Selasa 6 September 2016 pertama kali penulis menginjakkan kaki di Kabupaten Bengkayang, rasanya tidak ada yang berbeda dengan kabupaten-kabupaten yang ada di Pulau Jawa, mungkin perbedaan yang kasat mata adalah tidak seramai kendaraan lalu-lalang seperti jalan raya di Kabupaten Kebumen tempat penulis berasal. Namun setelah penulis melakukan perjalanan menuju tempat tugas di salah satu kecamatan yang ada di Bengkayang ini yaitu Kecamatan Suti Semarang, rasa penasaran beserta pertanyaan yang ada di dalam hati penulis tentang bagaimana kondisi di daerah 3T akhirnya terjawab juga. Dari pusat Kabupaten Bengkayang hingga sampai sekolah tempat penulis akan mengabdi selama setahun lamanya sepanjang perjalanan yang penulis lewati adalah jalan tanah yang pada saat itu kondisi jalannya penuh dengan genangan air dan tanah yang telah berubah menjadi lumpur yang ternyata penyebabnya karena pada bulan-bulan itu memang hujan turun terus-menerus hampir setiap hari. Butuh waktu kurang lebih 4 jam bagi penulis yang saat itu menumpang motor dengan salah guru yang tentunya sudah hafal medan jalannya untuk sampai ke sekolah yaitu SMP Negeri 3 Suti Semarang yang berada di Desa Kiung Kecamatan Suti Semarang.
SMP Negeri 3 Suti Semarang merupakan sekolah baru yang memulai kegiatan belajar mengajar pada tahun pelajaran 2016/2017.  Sekolah ini belum mempunyai bangunan atau gedung sendiri dikarenakan gedung baru masih dalam tahap pembangunan, maka untuk semester 1 kegiatan belajar mengajar dilaksanakan menumpang di gedung sekolah dasar terdekat yaitu SD Negeri 04 Kiung. Setelah gedung baru selesai pada awal semester 2 maka kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke gedung sekolah yang baru.
Meskipun gedung baru namun banyak sekali sarana dan prasarana sekolah yang belum lengkap, mengingat untuk melengkapi itu semua tidak memungkinkan dalam waktu dekat dikarenakan akses jalan yang sulit. Sekolah ini dikelilingi oleh hutan karena letaknya tidak di area Desa Kiung, melainkan berada pada jarak sekitar 500 meter dari pemukiman warga di desa Kiung itu sendiri. Namun di sisi lain walaupun sekolah berada jauh dari kampung dan dikelilingi oleh hutan, terdapat pemandangan bagus saat kita melihat ke sisi yang lain, karena bangunan sekolah terletak tepat di kaki bukit yang mana bukitnya cukup tinggi. Bukit ini telah sejak dulu disakralkan oleh warga desa dan masih digunakan untuk acara persembahan jika diperlukan. Warga Desa Kiung memberi nama bukit ini dengan nama Bukit Sepano. Jadi tidak heran karena letak sekolah yang berada di ketinggian seringkali pada pagi hari halaman sekolah masih penuh dengan kabut bahkan hingga pukul 07.30 kabut pernah belum hilang juga. 
            Jumlah guru yang mengajar di sekolah ini ada 7 guru, dengan ditambah  saya sebagai guru baru menjadikan guru yang mengajar berjumlah 8 guru. Tidak seperti guru pada jenjang sekolah dasar, penulis sebagai guru jenjang SMP hanya di beri tangungjawab tugas untuk mengajar mata pelajaran, yakni mapel yang sesuai dengan jurusan penulis, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dan juga ditambah dengan Bahasa Inggris, karena di sekolah ini belum mempunyai guru bahasa inggris. Begitu pula dengan guru-guru yang lain juga mengajar lebih dari satu mapel, hal ini dikarenakan terbatasnya jumlah guru di SMP Negeri 3 Suti Semarang.
Sedangkan jumlah keseluruhan siswa SMP Negeri 3 Suti Semarang hanyalah 11 siswa yang duduk di kelas 7, dengan rincian 6 siswa putra dan 5 siswi putri. Siswa yang asli berdomisili di Desa Kiung berjumlah 9, hanya 5-10 menit jalan kaki ke sekolah, sedangkan  2 siswa lainnya mereka bertempat tinggal di lain desa. Siswa putra bernama Sukarius dia harus jalan kaki selama 45 menit–1 jam setiap harinya untuk ke sekolah, sedangkan siswi putri bernama Meriandani dia harus berjalan kaki lebih lama karena jaraknya lebih jauh yaitu 1-1,5 jam untuk bisa sampai ke sekolah. Tidak seperti di perkotaan yang bisa mengendarai sepeda ataupun sepeda motor, yang hanya bisa kedua siswa saya lakukan itu hanya jalan kaki mengingat jalanan tanah yang rusak dan juga naik turun.
Meskipun SMP Negeri 3 Suti Semarang kami hanya memiliki 11 siswa saja, tidak mengurangi jumlah kegiatan yang mereka laksanakan setiap harinya. Proses belajar mengajar secara normal di kelas dan di lapangan, mengadakan upacara bendera setiap hari Senin, melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler pramuka, bola voli, dan paskibra. Kemudian juga kegiatan bersih sekolah yang rutin dilaksanakan setiap jumat dan sabtu, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan jumlah siswa yang dapat dikatakan sedikit tersebut, dan juga dengan keterbatasan sarana dan prasarana sekolah yang sangat minim, namun pihak sekolah terus berusaha agar sekolah ini dapat berjalan dengan aktif sebagaimana sekolah pada umumnya
Keterbatasan sarana dan prasarana yang ada di sekolah tidak membuat mereka berkecil hati hingga lantas menjadi malas untuk bersekolah. Mereka walaupun masih berusia 12-15 tahun jika dibandingkan anak seumuran mereka yang tinggal di kota mungkin hanya bersekolah, kemudian bermain, makan, dan tidur malam, paginya sekolah lagi begitu seterunya, tetapi tidak dengan mereka siswa sekolah di daerah 3T. Pada umur mereka yang memang benar seharusnya hanya bersekolah dan bermain, tetapi siswa-siswi penulis yang hidup di pedalaman telah diberi tugas dan tanggungjawab yang lebih oleh orangtuanya. Sebelum berangkat ke sekolah mayoritas dari siswi putri mereka setiap paginya bangun jam 4 subuh untuk memasak menggunakan kayu bakar (karena tabung gas sangat langka di sana) terlebih dahulu guna makan pagi seluruh anggota keluarganya, setelah itu mereka baru bersiap untuk mandi pagi. Untuk mandi di daerah seperti Desa Kiung ini butuh perjuangan sekali, karena di sini air adalah barang yang sangat langka, banyak rumah yang tidak mempunyai kamar mandi karena sulitnya mendapatkan air bersih. Oleh karena itu kebanyakan dari mereka untuk mandi harus berjalan kaki selama sekitar 10 menit menuju ke sumber mata air yang ada yaitu air pancur.
Siang hari setelah sekolah selesai mereka pulang ke rumah untuk menggantikan tugas orang tua mereka di rumah seperti mengasuh adiknya, memasak makan siang, dan lain sabagainya. Banyak juga dari mereka pulang hanya untuk makan siang saja dan setelah itu langsung pergi membantu orang tua yang mayoritas bekerja di ladang atau kebun. Pulang dari membantu orang tua mereka di ladang sekitar pukul 4 sore, mereka lantas pergi mandi sore ke air pancur, mereka tidak hanya sekedar pergi mandi saja, tetapi mereka juga membawa ember atau botol-botol air mineral bekas yang mereka punya untuk mengangkut air bersih guna kebutuhan sehari-hari di rumah.
Mereka memiliki kesempatan untuk belajar hanya pada waktu malam hari, malam yang berbeda dengan malam-malam di kota sana. Malam di sini adalah malam yang gelap bahkan gelap sekali, itu dikarenakan Desa Kiung masih belum terhubung dengan aliran listrik negara. Hanya segelintir rumah saja yang mempunyai jenset listrik pribadi dan itupun tidak setiap malam digunakan. Seluruh warga di sini mengandalkan penerangan yang mereka buat sendiri dengan botol atau kaleng minuman diisi bahan bakar minyak tanah yang kemudian sumbunya dihidupkan dengan api, dan benda tersebut mereka sebut dengan ‘Pelita’. Begitu juga mereka para siswa SMP Negeri 3 Suti Semarang yang hanya mengandalkan penerangan dari sebuah pelita untuk menemani dan memberikan sedikit cahaya untuk mereka belajar mengerjakan tugas-tugas sekolah dan membaca buku-buku pelajaran mereka.
Untuk saat ini mungkin sebagian besar dari mereka siswa-siswi menjalankan kegiatan belajar, mengerjakan tugas dan membaca buku pelajaran di malam hari yang sangat minim penerangan dengan mengandalkan cahaya dari sebuah pelita. Mereka melakukannya hanya sebatas sebuah tuntutan guru, karena jika tidak mengerjakan tugas akan dihukum ataupun takut dimarahi oleh orang tuanya jika nilai sekolah jelek. Namun di sisi lain, dengan mereka terus menumbuhkan rasa semangat untuk pergi belajar menuntut ilmu ke sekolah, mengulang pelajaran selagi di rumah dengan mengerjakan tugas sekolah dan membaca buku pelajaran yang mereka laksanakan setiap malam, meski hanya ‘berteman’ dengan sebuah pelita, bukankah sangat mungkin hal ini justru yang akan membawa mereka satu langkah lebih maju untuk mewujudkan cita-citanya dan juga harapan dari orang tua untuk dapat hidup lebih baik dan lebih baik lagi dari saat ini, kehidupan yang tengah mereka rasakan dengan berbagai keterbatasa yang ada.
     













Berawal dari pelita yang mereka nyalakan setiap malamnya guna menemani mereka dalam belajar, melangkah dengan semangat setiap hari untuk menuntu ilmu di sekolah mereka SMP Negeri 3 Suti Semarang yang berada di kaki bukit Sepano, itu semua demi harapan besar mereka dan orang tua agar menjadikan hidup yang lebih baik dari apa yang sedang mereka rasakan kini. Teruslah bersemangat siswa-siswiku, teruslah berjuang di tengah keterbatasan yang ada, dan teruslah percaya bahwa harapan yang telah kalian miliki suatu saat pasti akan terwujud, karena kalian adalah “Pelita Harapan Sepano”.(oleh Jullio Prassojo, S.Pd.)


Friday, December 7, 2018

Pak Guru, Ijinkan Aku ke Malaysia


Kisah berikut diambil dari rekam jejak kami semenjak pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Sebalo tepatnya di Desa Sungkung Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang. Semenjak awal penentuan tempat untuk mengajar memang kami dapat penempatan di sekolah menengah pertama yang berada di Kecamatan Siding, tepatnya di SMP N 2 Siding. Kecamatan itu terdengar asing bagi kami kemudian di awal kami juga merasa sedikit gelisah dengan kondisi dan situasi di sana setelah mendengar cerita dari kepala sekolah SMP N 2 Siding terkait lingkungan dan kondisi sekolah tersebut. Memang butuh perjuangan dan pengorbanan besar untuk dapat pergi ke sana hingga bisa sampai di lokasi tujuan. Untuk menuju lokasi SMPN 2 Siding, yang beralamatkan di Dusun Kadok, Desa Sungkung, Kecamatan Siding dari Kota Bengkayang dapat ditempuh selama 2 hari perjalanan. Pertama kita naik bus jurusan Bengkayang-Entikong dari kota Bengkayang, perjalanan dari Bengkayang menuju Entikong ini membutuhkan waktu kurang lebih selama 8 jam perjalanan dengan biaya Rp. 100.000. Kami berangkat pagi dari Kota Bengkayang dan dengan waktu tempuh tersebut sampai di Entikong sekitar pukul empat sore. Setelah sampai Entikong kami menginap di salah satu penginapan selain karena tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan dimalam hari juga sekaligus istirahat mempersiapkan fisik untuk perjalanan selanjutnya.  Untuk sampai lokasi kami diharuskan menggunakan jasa motor darat atau menggunakan sampan namun pada saat itu kami menggunakan ojek. Pagi hari pkl. 09.00 WIB kami lanjutkan perjalanan menggunakan motor darat dengan salah satu guru dan kepala sekolah SMP N 2 Siding. Di dalam perjalanan kami harus melewati Kabupaten Landak dan Sanggau untuk bisa sampai lokasi. Hingga akhirnya kami sampai di sekolah pkl. 13.30 WIB. Sungguh perjalanan yang sangat luar biasa, serasa badan semua sakit karena harus melewati lika-liku jalan tanpa aspal dan menyeberangi sungai di tengah-tengah perjalanan.
Beberapa hari di sekolah kami sudah mulai akrab dan mengenal siswa siswi yang ada di SMP N 2 Siding. Kami melihat suasana yang berbeda di sini terkait kondisi dan sikap siswa di sekolah ini dengan kondisi siswa yang ada di lingkungan perkotaan. Sungguh sangat luar biasanya siswa yang ada disini, ya karena ternyata mereka mempunyai semangat yang besar untuk sekolah, hal ini terbukti dari kerelaan mereka untuk berjalan kaki selama beberapa jam untuk menuju ke sekolah. Banyak kami bercerita tentang motivasi meraih asa dan cita-cita untuk masa depan mereka di sekolah. Hal ini semata-mata kami lakukan demi kemajuan dan kemandirian bangsa tercinta kita Indonesia di masa depan. Tetapi apa yang terjadi bahwa sebagian besar siswa yang ada di tapal batas ini masih banyak yang mencintai negara sebelah yaitu Malaysia daripada negerinya sendiri. Apa buktinya, ya sebagian besar siswa yang ada di sekolah ini pernah pergi ke Malaysia untuk bekerja, mereka lebih memilih kerja di negara sebelah karena merasakan nyaman, enak dan terjamin hidup disana. Lantas kerja apa dan tinggal dimana mereka?. Ternyata mereka di sana kerjanya sama dengan di Indonesia yaitu ada yang berkebun dan kerja di bangunan. Di Malaysia mereka ternyata tinggal bersama tokek dan banyak dari mereka sudah punya tokek masing-masing. Apa itu tokek?. Tokek adalah sebutan untuk bos bahkan ada yang sudah menganggap sebagai ayahnya sendiri di Malaysia. Ketika sudah sampai di Malaysia mereka akan bekerja di kebun ataupun bangunan dengan gaji kurang lebih Rm. 20 atau sekitar Rp. 60.000/hari Ketika liburan sekolah pasti mereka selalu pergi ke Malaysia secara bersama-sama. 
Tidak heran bahwa siswa SMP N 2 Siding pasti selalu ada yang pergi ke Malaysia karena memang jaraknya yang dekat dari tempat tinggal, biasa mereka berjalan kaki menempuh waktu selama 6 jam perjalanan untuk bisa sampai ke Malaysia. Tiada paspor dan tiada izin tidak menjadi penghalang buat mereka, karena setelah sampai di Malaysia mereka akan langsung dijemput oleh tokek mereka. Perasaan senang dan gembira muncul di hati para siswa karena mereka akan dimanjakan oleh tokek mereka di Malaysia. Suatu hari kami pernah menanyakan kepada siswa tentang Indonesia, ternyata ada yang tidak tertarik sama sekali bahkan di benak mereka Indonesia itu adalah ladangnya korupsi. Pantas saja siswa yang ada di sini selalu menginginkan pergi dari Indonesia. Bahkan buku tulis mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan mereka memakai produk dari Malaysia. Lantas di mana jiwa patriotisme mereka?. Tidak jarang mereka selalu menyampaikan tentang wujud konkret dari pemerintah untuk kemajuan di daerahnya. Mana jalan aspal?. Mana bantuan dari pemerintah?. Yang katanya menggaung-gaungkan proyek Nawacita?. Bahkan listrik PLN belum menyambangi daerah tersebut. Siswa di sini selalu membandingkan dengan kondisi negara yang ada di sebelah, di negara Malaysia walaupun daerahnya di perbatasan tapi sudah diaspal, listrik dan kehidupannya diperhatikan pak, mengapa di Indonesia kami tidak merasakan hal itu?, di mana pemerintah pak?. Lebih baik saya pergi ke Malaysia saja ya pak. Itu adalah kata-kata yang terbesit di benak mereka. Ini adalah ironi kehidupan siswa yang ada di tapal batas, sempat kami merasakan kesedihan yang amat dalam dengan adanya kondisi ini. Ya, ini sebenarnya adalah tanggung jawab dan tugas kita untuk dapat menyelesaikan masalah ini. 
Di sini kami guru SM3T selalu berusaha dan memberikan motivasi kepada siswa-siswi yang ada di sekolah kami agar mampu dan bisa mencintai bangsa Indonesia dan produk dalam negeri melalui kegiatan kegiatan yang kami laksanakan di sekolah. Kami selalu bersama-sama untuk saling bergandeng tangan dan mengepalkan tangan kita untuk satu tujuan yaitu kemajuan bangsa Indonesia mulai dari daerah perbatasan, sesuai dengan proyek nawacita program dari pemerintah. Dengan adanya proyek itulah maka kita semua ada dan ditugaskan di sini. Tugas kita adalah mengabdikan diri di dunia pendidikan agar peserta didik kita besok dapat meraih asa dan mampu memberikan kontribusi nya untuk kemajuan bangsa bukan malah untuk mencintai bangsa lain. (oleh Nury Nurhayati, S.Pd.)


Monday, December 3, 2018

Kami Terdidik, Maka Kami Mendidik


            Indonesia: negara dengan wilayah yang luas dan heterogen, berpenduduk tidak sedikit, dan memiliki permasalahan pembangunan yang belum merata di setiap wilayahnya. Bahkan hingga saat ini pembangunan masih terpusat pada kota-kota besar terutama di Pulau Jawa, yang notabene menjadi tempat ibu kota Indonesia berada, DKI Jakarta.
            Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara geografis maupun sosiokultural, jelas memerlukan upaya yang tepat untuk mengatasi berbagai masalahannya, diantaranya dalam bidang pendidikan dan khususnya pendidikan di daerah 3T. Beberapa permasalahannya antara lain tentang kekurangan jumlah guru, distribusi guru yang tidak merata, kualifikasi guru tidak memenuhi standar: kurang kompeten dan mengajar pada bidang studi yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Hal lain yang kerap muncul pada pendidikan di 3T adalah angka putus sekolah yang relatif tinggi, partisipasi sekolah yang rendah, sarana prasarana belum memadai, infrastruktur dan akses untuk mengikuti pendidikan masih sangat jauh dari kata layak.
            Pada tahun 2011, Sarjana Mendidik di Daerah 3T atau kemudian lebih dikenal dengan SM-3T untuk pertama kali muncul. Program yang ditujukan dalam rangka percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T ini merupakan salah satu isi dari program pemerintah bertajuk “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”, di dalamnya termasuk Program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T), Program PPG Terintegrasi dan Kewenangan Tambahan (PPGT), dan Program PPG Kolaboratif (PPG Kolaboratif). Program tersebut diharapkan mampu menjadi jawaban atas berbagai permasalahan pendidikan di daerah terutama kategori 3T.
            Kabupaten Bengkayang, sebuah daerah di wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Meski begitu, Kabupaten Bengkayang justru merupakan salah satu daerah yang termasuk dalam kategori daerah 3T. Tahun 2015 adalah kali pertama SM-3T bertugas di daerah ini, dan kemudian pada tahun 2016 adalah giliran kami SM-3T angkatan VI mengemban amanah sebagai guru SM-3T terhitung sejak bulan September 2016-September 2017.
            Mengulik kata-kata dari orang berpengaruh dunia,  Albert Enstein “Ilmu pengetahuan tanpa pengabdian adalah lumpuh. Sudah saatnya cita-cita kesuksesan diganti dengan cita-cita pengabdian”, kemudian coba juga memaknai  kata-kata dari Anies Baswedan “Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik”. Kesemuanya itu adalah pundi-pundi semangat bagi kami, pendidik SM-3T untuk terus mengabdikan diri pada negara. Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia, oleh SM-3T Angkatan VI Kabupaten Bengkayang diwujudkan tidak hanya dalam partisipasinnya menjadi guru yang mengajar murid-muridnya di sekolah penugasan, tapi juga berbaur dengan lingkungan sekitar dengan mengikuti beragam kegiatan seperti tahun baru padi atau gawai padi, kerja bakti lingkungan, dan lainnya. Dalam ranah yang lebih luas SM-3T Angkatan VI Kabupaten Bengkayang membuat berbagai program kegiatan yang dirancang untuk mengisi masa satu tahun pengadian, diantaranya: Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi (terutama jalur beasiswa) dan Tryout SBMPTN, Donasi bertajuk “Seribu Jendela Dunia untuk Anak di Ujung Negeri”, dan Festival Pendidikan Kabupaten Bengkayang.
            Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi dan Tryout SBMPTN, dilaksanakan sejak bulan Desember 2016-Februari 2017 di SMA/K di wilayah Kabupaten Bengkayang baik sekolah yang merupakan tempat penugasan SM-3T maupun bukan. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan motivasi siswa-siswi sekolah menengah atas agar dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, memberikan gambaran tentang jalur masuk khususnya jalur beasiswa karena sebagian besar yang membuat mereka enggan melanjutkan sekolah lantaran stigma mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi, selain itu dengan tryout SBMPTN diharapkan dapat membantu menyiapkan mereka untuk bersaing penuh percaya diri dalam ajang seleksi masuk PTN pilihan mereka nantinya.
            “Seribu Jendela Dunia untuk Anak di Ujung Negeri”, adalah upaya kami untuk menggalang donasi dari seluruh warga Indonesia, dari mereka yang peduli pendidikan, dari mereka yang rindu akan pendidikan Indonesia yang lebih baik dan layak. Siswa yang tidak memiliki tas sekolah, seragam sekolah yang lusuh dan rusak, buku-buku sekolah yang tidak tersedia, sarana prasarana kurang memadai, menjadi pendorong kami menggalang donasi. Donasi yang kami kumpulkan pada awalnya adalah buku bacaan, buku pelajaran, seragam sekolah, tas, sepatu, dan peralatan sekolah; tidak perlu baru, bekas dan masih layak pakai pun kami terima. Tidak hanya di wilayah Kalimantan Barat, beberapa titik pengumpulan juga dibuka di wilayah pulau Jawa atas kerjasama anggota SM-3T dengan sanak-saudara yang sudi untuk diminta bantuan. Donasi dalam bentuk uang tunai juga kami buka, yang digunakan untuk membantu biaya pengumpulan hingga alokasi donasi pada penerima, dan juga digunakan untuk membeli apa-apa yang belum tercukupi dari donasi barang yang sudah terkumpul.
            Seiring berjalannya waktu, muncul inisiatif dari kami untuk membuat sebuah gerakan yang mampu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk sadar dan peduli pada pendidikan di 3T: sebuah video yang diunggah oleh salah satu anggota SM-3T Angkatan VI Kabupaten Bengkayang, Anggit Purwoto berhasil menjadi viral di media sosial, meraup dukungan dari berbagai pihak mulai dari rakyak biasa sampai orang nomor satu Indonesia, Presiden Joko Widodo. Video “Pak Jokowi Minta Tas”, mengambarkan 4 orang siswa SD berpakaian lusuh tanpa alas kaki merintih meminta tas kepada Pak Jokowi. Video itu pun, nyatanya menjadi ujung tombak kami dalam usaha mengumpulkan donasi bagi pendidikan di 3T Kabupaten Bengkayang. Tanggapan positif hadir dari Pak Presiden yang langsung mengutus Sekretaris Pribadinya untuk terjun langsung melihat sekaligus menyerahkan bantuan tas, seragam sekolah, dan perlengkapan sekolah lengkap untuk beberapa sekolah dan siswa di daerah Sungkung, wilayah yang merupakan lokasi penempatan beberapa guru SM-3T, yang salah satunya pengunggah video viral Anggit Purwoto. Sejalan dengan itu, kami juga membuat gerakan bertajuk “Seutas Asa – Sepuluh Ribu Rupiah untuk Tas Anak Tapal Batas Indonesia”. Gerakan yang mengajak masyakarat untuk patungan donasi sebesar sepuluh ribu rupiah yang nantinya digunakan untuk membelikan tas sekolah anak-anak. Hingga ditutupnya program donasi ini, masih banyak donatur yang memberikan bantuan baik berupa barang maupun uang tunai. Dan pada akhirnya donasi secara berkala disalurkan pada bulan Mei-Agustus 2017 sebelum masa penugasan berakhir.
            Festival Pendidikan, menjadi agenda besar kami dalam masa pengabdian di Kabupaten Bengkayang. Berbagai perlombaan untuk siswa sekolah PAUD sampai SMA/K, kemudian stand-stand sekolah yang menampilkan potensi sekolah masing-masing diharapkan mampu berjalan lancar pada 13 Mei 2017. Selain sebagai ajang berkompetisi sehat, kegiatan ini dirancang sebagai bentuk promosi sekolah kepada masyarakat.
            Sedikit menoleh ke belakang, semua permasalahan yang timbul jelas membutuhkan solusi untuk mengatasinya, tidak dapat dipungkiri berbagai solusi tentu sudah dirumuskan oleh para pemangku kepentingan sesuai ranahnya. Persoal masalah pendidikan, bukan tidak pernah dipikirkan solusinya baik oleh pihak sekolah sebagai pelaksana, pemerintah daerah terutama dinas pedidikan setempat maupun pemerintah pusat melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan sebagai pembuat kebijakan. Wajib Belajar Sembilan Tahun, Bantuan Operasional Sekolah, beragam beasiswa pendidikan, Kartu Indonesia Pintar, Sarjana Mendidik di Daerah 3T dan yang terbaru Guru Garis Depan; kesemuanya adalah upaya-upaya baik dari pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan mutu pendidikan. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa praktik-praktik di lapangan pada ranah terkecil sekalipun terkadang tidak sesuai dengan perencanaan saat kebijakan itu dirumuskan. Mereka yang gelap mata karena “termakan” jabatan juga tidak luput menorehkan bercak hitam pada dunia pendidikan.

            Indonesia butuh kita; bukan aku, kamu, mereka, atau segelintir orang saja. Pendidikan juga butuh peran bersama; siswa, orang tua, guru, pemerintah terkait dan pernik lain pendukungnya. SM-3T adalah kita; kita yang terpanggil hatinya untuk memanusiakan manusia lewat pendidikan.  Apresiasi terbesar tentu layak diberikan kepada mereka yang sadar “Kami Orang Terdidik” maka “Kami Harus Mendidik”. Mengabdikan diri pada negeri demi tertunainya janji kemerdekaan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” dan mewujud nyatakan slogan kebanggaan kami SM-3T “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”.
            Sejuta harapan yang tulus mengalir dari kami SM-3T Angkatan VI Kabupaten Bengkayang: Bengkayang mampu berdiri mandiri, dengan peningkatan kualitas dan maksimalnya peran sumber daya manusia terutama para putra-putri daerah, yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan, dan mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas dan cinta tanah air.(oleh Diyah Puspita Rini, S.Pd.)

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...