Indonesia
merupakan negara kesatuan yang penuh dengan keberagaman. Indonesia terdiri atas
beraneka ragam suku, budaya, ras, dan agama. Indonesia memiliki kebudayaan yang
lengkap dan variatif. Keanekaragaman budaya Indonesia merupakan aset yang tidak
ternilai harganya, sehingga harus tetap dipertahankan dan terus dilestarikan.
Beruntung sekali jika kita bisa berkeliling melihat keanekaragaman budaya
Indonesia.
Penulis
memiliki kesempatan untuk melihat dan ikut serta dalam melestarikan salah satu
kebudayaan Indonesia yaitu Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit, Kalimantan
Barat. Kesempatan ini didapatkan ketika penulis terpilih menjadi salah satu
guru SM3T di Kalimantan Barat. Guru SM3T adalah seorang sarjana muda yang
dikirim oleh pemerintah untuk mendidik di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan
Tertinggal). Pemerintah dengan program SM3T Kemendikbud mengirimkan guru-guru
pilihan ke daerah 3T dengan tujuan memeratakan kualitas pendidikan di
Indonesia. Penulis ditempatkan di Desa Sebujit, Kec. Siding, Kab. Bengkayang,
Prov. Kalimantan Barat, lebih tepatnya di SMP N 3 Siding. Selain fokus terhadap
pendidikan penulis juga ikut bersosialisasi dengan masyarakat. Salah satunya
adalah ikut serta dalam acara pesta Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit.
Gawai
Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit merupakan upacara adat untuk menyambut hasil panen
yang rutin dilakukan. Upacara adat ini merupakan cara untuk mengungkapkan rasa
syukur dan terimakasih kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen yang melimpah. Gawai
Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit dilaksanakan selama satu minggu. Selama satu
minggu acara Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh Sebujit diisi berbagai macam kegiatan.
Ada acara ramah tamah ke rumah tetangga seperti hari raya idul fitri, diisi
dengan makan dan minum, ritual nyobeng (memandikan atau membersihkan tengkorak
hasil mengayau oleh nenek moyang), lomba menyumpit, dan panjat pinang terbalik.
Ketika acara ramah tamah penulis sedang menjalankan ibadah puasa ramadhan
sehingga tidak bisa berkeliling menuju rumah-rumah penduduk. Makanan dan
minuman yang disajikan tiap rumah berbeda-beda, tetapi ada satu makanan dan
minuman yang pasti ada yaitu lemang dan tuak/arak. Setiap rumah terbuka untuk
menyambut semua tamu yang hadir, tidak melihat dari mana asal tempat tinggal
baik dari desa sebujit atau dari luar desa sebujit bahkan dari desa dan kecamatan
lain. Suasana kekeluargaan sangat terasa ketika acara Gawai Nyobeng Dayak
Bidayuh Sebujit.
Gambar 1.1 Peserta Gawai Nyobeng Dayak
Bidayuh Sebujit sedang menari mengitari rumah adat.
Gambar 1.2 Tokoh
masyarakat memberikan sambutan saat Gawai Nyobeng Dayak Bidayuh
Acara
Gawai Nyobeng Bidayuh Sebujit saat itu bertepatan dengan bulan puasa agama
islam. Acara yang paling ramai gawai adalah ketika datangnya ritual nyobeng.
Acara ritual nyobeng ini dilakukan di rumah adat sebujit.Banyak sekali wisatawan yang datang ke rumah
adat sebujit, baik wisatawan lokal ataupun mancanegara. Penulis saat itu ikut
dalam perayaan nyobeng dengan berpakaian adat sebujit. Selain ikut menari
mengitari rumah adat, penulis juga diminta menuangkan minuman tradisional tuak
ke tamu undangan. Setelah acara nyobeng selesai, kegiatan dilanjutkan dengan
ramah tamah, panjat pinang terbalik dan lomba sumpit. Acara Gawai Nyobeng Bidayuh
Sebujit sebagai suatu alat untuk melestarikan dan mengenalkan budaya lokal ke
masyarakat umum dan masyarakat dunia. (oleh Ana Mathofani, S.Pd.)
Menjadi seorang guru selain mengajar
juga mendidik dan menerapkan sikap disiplin, tanggung jawab kepada peserta
didik merupakan pondasi awal terciptanya peserta didik yang mempunyai karakter untuk
membangun masa depan yang lebih baik guna memperbaiki sumberdaya manusia dan
kualitas dalam pendidikan. Dunia pendidikan merupakan hak setiap anak, tidak
ada perbedaan antara anak di kotamaupun
anak di ujung negeri karena setiap anak bangsa wajib mengenyam pendidikan yang
layak setinggi mungkin. Memotivasi anak di ujung negeri bahwa segala
keterbatasan yang ada bukan sebuah penghalang untuk berhenti mengenyam
pendidikan setinggi mungkin. Kunci terpenting adalah rajin belajar dan pantangmenyerah dalam mengejar cita-cita, pasti akan
selalu menemui jalan keluar.
Pengabdian
sebagai guru melalui program SM-3T memberikan banyak pengalaman yang selalu
terkenang oleh penulis, banyak hal yang penulis dapatkan dari program tersebut.
Dalam pengabdian selama satu tahun penulis ditempatkan di daerah Kabupaten
Bengkayang di mana membutuhkan perjalanan darat 4 jam dari Pontianak untuk
menuju Kabupaten Bengkayang. Setelah sampai Kabupaten Bengkayang penulis ditempatkan
di SMP N 2 Suti Semarang di mana membutuhkan waktu 4-5 jam dari Kabupaten
Bengkayang menuju daerah tempat mengabdi, ada satu hal yang baru pertama
penulis temui yaitu tentang keadaan jalan menuju daerah penugasan yang sangat
luar biasa seperti namanya Suti (sulit terlewati) bukan hanya berlubang lagi
tapi sudah berlumpur-lumpur,genangan
air pun menghiasi sepanjang jalan menuju tempat penugasan serta jalan yang
licin. Kali pertama penulis masuk ke tempat penugasan tersebut bersama pengojek
yang tentunya sudah mahir dengan medan yang luar biasa ini.
SMP Negeri 2
Suti Semarang memiliki gedung dan bangunan yang bisa dibilang layak akan tetapi
masih mempunyai banyak kekurangan. Gedung sekolah memang sudah dibuat secara
permanen, akan tetapi dinding gedung sekolah sangat tipis sehingga mudah rusak
serta sarana dan prasarana yang terbilang masih kurang, sekolah ini berada di
tengah-tengah gunung yang namanya Gunung Sekaju di antara sekolah hanya
adadua rumah warga yang bersebelahan
dengan sekolah, sedangkan lainnya masih kawasan hutan. Untuk bisa sampai di
daerah perkampungan membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan menggunakan
sepeda motor, tentu saja dengan kondisi jalan yang luar biasa seperti yang
sudah digambarkan tadi di atas. Sekolah ini juga merupakan sekolah yang berada
di daerah perbatasan antara Kabupaten Bengkayang dengan Kabupaten Landak
sehingga banyak murid yang berasal dari Kabupaten Landak.
Guru yang mengajar di SMP N 2 Suti Semarang berjumlah 9 guru, berbeda
dengan guru di kota-kota yang hanya mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan
bidang studinya, di sekolah ini guru ditugaskan untuk merangkap mata pelajaran
lain seperti penulis yang bidangnya Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
harus mengampu mata pelajaran lain seperti IPS, TIK, dan sering mengantikan
guru yang ada kegiatan luar. Hal ini dilakukan karena ketika guru ada kegiatan dinas
luar, tidak bisa dijangkau selama satu hari karena medan jalan yang luar biasa ini yang
mengakibatkan guru harus menginap di kabupaten kota. Setiap kegiatan yang berkaitan
dengan sekolah, meskipun dengan kondisi jalan yang seperti itu tidak ada alasan
bagi guru bermalas-malasan. Di sekolah ini guru selalu aktif dan mempunyai rasa
tanggung jawab yang besar dalam mengajar serta menyampaikan materi, karena mereka
mempunyai tekad ingin merubah anak di pelosok negeri ini menjadi anak yang
mempunyai wawasan yang mumpuni dan berani bersaing dalam bidang akademik dengan
sekolah yang berada di daerah perkotan .
Jumlah siswa SMP N 2 Suti Semarang per Juli 2017 adalah 55 orang
siswa dengan rincian kelas VII berjumlah 7 orang, kelas VIII berjumlah 23
orang, dan kelas IX berjumlah 25 orang, sehingga total berjumlah 55 orang
siswa. Setengah dari mereka adalah dari Kabupaten Landak sehingga siswa harus
menginap di asrama sekolah, bagi siswa yang tidak tinggal
di asrama mereka sudah harus berangkat sekolah sekitar jam 5 pagi dengan jarak
tempuh kira-kira satu jam sampai satu setengah jam perjalanan dengan jalan kaki.
Sedangkan anak-anak yang tinggal di asrama sekolah harus bangun jam 5 untuk
mandi ke sungai, sambil mengangkut air
untuk kebutuhan seperti memasak dan merebus air untuk diminum karena mereka
dituntut untuk mandiri karena tingggal di asrama sekolah jauh dari orang tua. Walupun
sekolah di daerah yang jauh dari perkotaan SMP N 2 Suti Semarang menerapakan
nilai-nilai disiplin yang tinggi, terbukti anak-anak harus sudah masuk sekolah
jam 7 tepat, sebelumnya dikumpulkan untuk melakukan cek kehadiran dan cek tugas
piketnya. Bagi siswa yang melanggar atau tidak sesuai dengan aturan akan
diberikan konsekuensi, tapi siswa-siswi selalu menjalani dengan semangat tanpa
mengeluh demi mengejar cita-cita yang mereka impikan.
Walaupun berada di ujung negeri proses
belajar mengajar di SMP N 2 Suti Semarang berjalan dengan baik dan selalu
melakukan upacara bendera rutin setiap hari Senin, serta banyak kegiatan-kegiatan yang wajib mereka
ikuti seperti ektrakulikuler karate dan pramuka guna membekali para peserta
didik tentang kepramukaan maupun tentang beladiri. Semangat yang diperlihatkan
mereka untuk pergi ke sekolah walaupun dalam keterbatasan membuahkan hasil, walaupun
berada di daerah 3T yang jauh dengan perkotaan mereka mampu bersaing dalam
olimpiade OSN dengan menjadi salah satu wakil kegiatan OSN tingkat kabupaten untuk
ke tingkat provinsi dalam bidang olimpiade Matematika. Hal itu membuktikan
bahwa di ujung negeri ini, ada mutiara-mutiara yang akan mengubah masa depan
melalui pendidikan yang baik, pendidikan yang menanamkan karakteristik dari
dalam diri anak.
Setelah pulang sekolah mereka tidak
langsung pergi bermain atau hanya berdiam diri di rumah saja. Mereka harus
membantu orang tua mereka berkebun ke sawah. Mayoritas penduduk Suti Semarang
adalah petani merica/lada dan getah karet. Siswa-siswiku ini menjalaninya tanpa
ada beban, semuanya terasa ringan karena mereka dengan penuh ikhlas membantu
orang tua mereka. Meski sibuk membantu bekerja di kebun mereka tetap tidak mengesampingkan
tugas mereka sebagai pelajar yaitu belajar. Tanpa penah ada kata mengeluh,
mereka tetap menyempatkan belajar pada malam harinya walaupun badan mungkin
sudah terasa lelah. Tapi demi meraih cita-cita yang selalu mereka impikan, itu
bukan menjadi masalah. Mereka selalu menanyakan kepada penulis “apakah
cita-cita kami bisa terwujud?”, dengan raut wajah polos mereka berkata
demikian. Tentu penulis selalu memberikan semangat dan bekal ilmu semaksimal
mungkin dan memotivasi mereka untuk selalu belajar dengan rajin, ulet dan tekun
agar apa yang dicita-citakan dapat tercapai suatu saat nanti.
“Selalu
belajar dan semangat dalam menuntut ilmu siswa-siswiku.
Jemputlah
kesuksessanmu di masa depan walaupun kamu jauh dari perkotaan dan berada di
ujung negeri....!!!!!”
Guru
tidak pernah lepas dari mendidik. Mendidik adalah lahan untuk mengeksplorasi
diri guna mengembangkan potensi, memenuhi tugas, dan mencapai keberhasilan akan
tujuan pendidikan itu sendiri. Salah satu tujuan dari terselenggaranya
pendidikan di Indonesia adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusianya. Tidak hanya mereka saja yang hidup dalam kemudahan di kota yang
berhak untuk mendapatkan pendidikan, tetapi mereka yang hidup di ujung
negeripun juga berhak untuk mengenyam pendidikan. Oleh demikian pemerataan
pendidikan sampai ke daerah-daerah ujung negeripun semakin gencar dilaksanakan.
Mengabdi selama satu tahun sebagai
guru SM-3T, berbagai pengalaman luar biasa telah didapatkan penulis. Penulis
bertugas di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Mungkin di antara
pembaca sekalian banyak yang tidak tahu ataupun bahkan belum pernah mendengar nama Kabupaten Bengkayang. Sama
halnya dengan penulis yang mungkin tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah
mendengar jika penulis tidak mengikuti
program ini. Sedikit penulis jelaskan bahwa Kabupaten Bengkayang adalah sebuah
kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat, jarak tempuh dari Kota Pontianak selaku
ibu kota provinsi yaitu sekitar 4-5 jam melalui jalur darat. Kabupaten ini
adalah salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan
negara tetangga,
Malaysia.
Selasa 6 September 2016 pertama kali
penulis menginjakkan kaki di Kabupaten Bengkayang, rasanya tidak ada yang berbeda dengan kabupaten-kabupaten
yang ada di Pulau Jawa, mungkin perbedaan yang kasat mata adalah tidak seramai
kendaraan lalu-lalang seperti jalan raya di Kabupaten Kebumen tempat penulis
berasal. Namun setelah penulis melakukan perjalanan menuju tempat tugas di salah
satu kecamatan yang ada di Bengkayang ini yaitu Kecamatan Suti Semarang, rasa
penasaran beserta pertanyaan yang ada di dalam hati penulis tentang bagaimana
kondisi di daerah 3T akhirnya terjawab juga. Dari pusat Kabupaten Bengkayang
hingga sampai sekolah tempat penulis akan mengabdi selama setahun lamanya
sepanjang perjalanan yang penulis lewati adalah jalan tanah yang pada saat itu
kondisi jalannya penuh dengan genangan air dan tanah yang telah berubah menjadi
lumpur yang ternyata penyebabnya karena pada bulan-bulan itu memang hujan turun
terus-menerus hampir setiap hari. Butuh waktu kurang lebih 4 jam bagi penulis
yang saat itu menumpang motor dengan salah guru yang tentunya sudah hafal medan
jalannya untuk sampai ke sekolah yaitu SMP Negeri 3 Suti Semarang yang berada
di Desa Kiung Kecamatan Suti Semarang.
SMP Negeri 3 Suti
Semarang merupakan sekolah baru yang memulaikegiatan belajar mengajar
pada tahun pelajaran 2016/2017. Sekolah
ini belum mempunyai bangunan atau gedung sendiri dikarenakan gedung baru masih
dalam tahap pembangunan, maka untuk semester 1 kegiatan belajar mengajar dilaksanakan
menumpang di gedung sekolah dasar terdekat yaitu SD Negeri 04 Kiung. Setelah
gedung baru selesai pada awal semester 2 maka kegiatan belajar mengajar dipindahkan
ke gedung sekolah yang baru.
Meskipun
gedung baru namun banyak sekali sarana dan prasarana sekolah yang belum
lengkap, mengingat untuk melengkapi itu semua tidak memungkinkan dalam waktu
dekat dikarenakan akses jalan yang sulit. Sekolah ini dikelilingi oleh hutan
karena letaknya tidak di area Desa Kiung, melainkan
berada pada jarak sekitar 500 meter
dari pemukiman warga di desa
Kiung itu sendiri. Namun disisi
lain walaupun sekolah berada jauh dari kampung dan dikelilingi oleh hutan,
terdapat pemandangan bagus saat kita melihat ke sisi yang lain, karena bangunan
sekolah terletak tepat di kaki bukit yang mana bukitnya cukup tinggi. Bukit ini
telah sejak dulu disakralkan oleh warga desa dan masih digunakan untuk acara
persembahan jika diperlukan. Warga Desa Kiung memberi nama bukit ini dengan nama Bukit Sepano. Jadi
tidak heran karena letak sekolah yang berada di ketinggian seringkali pada pagi
hari halaman sekolah masih penuh dengan kabut bahkan hingga pukul 07.30 kabut
pernah belum hilang juga.
Jumlah guru yang mengajar di sekolah
ini ada 7 guru, dengan ditambah saya
sebagai guru baru menjadikan guru yang mengajar berjumlah 8 guru. Tidak seperti
guru pada jenjang sekolah dasar, penulis sebagai guru jenjang SMP hanya di beri
tangungjawab tugas untuk mengajar mata pelajaran, yakni mapel yang sesuai
dengan jurusan penulis,
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dan juga ditambah dengan
Bahasa Inggris, karena di sekolah ini belum mempunyai guru bahasa inggris. Begitu
pula dengan guru-guru yang lain juga mengajar lebih dari satu mapel, hal ini
dikarenakan terbatasnya jumlah guru di SMP Negeri 3 Suti Semarang.
Sedangkan
jumlah keseluruhan siswa SMP Negeri 3 Suti Semarang hanyalah 11 siswa yang
duduk di kelas 7, dengan rincian 6 siswa putra dan 5 siswi putri. Siswa yang asli
berdomisili di Desa Kiung berjumlah 9, hanya 5-10 menit jalan kaki ke sekolah,
sedangkan2 siswa lainnya mereka
bertempat tinggal di lain desa. Siswa putra bernama Sukarius dia harus jalan
kaki selama 45 menit–1 jam setiap harinya untuk ke sekolah, sedangkan siswi
putri bernama Meriandani dia harus berjalan kaki lebih lama karena jaraknya
lebih jauh yaitu 1-1,5 jam untuk bisa sampai ke sekolah. Tidak seperti di
perkotaan yang bisa mengendarai sepeda ataupun sepeda motor, yang hanya bisa
kedua siswa saya lakukan itu hanya jalan kaki mengingat jalanan tanah yang rusak
dan juga naik turun.
Meskipun
SMP Negeri 3 Suti Semarang kami hanya memiliki 11 siswa saja, tidak mengurangi
jumlah kegiatan yang mereka laksanakan setiap harinya. Proses belajar mengajar secara
normal di kelas dan di lapangan, mengadakan upacara bendera setiap hari Senin,
melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler pramuka, bola voli, dan paskibra.
Kemudian juga kegiatan bersih sekolah yang rutin dilaksanakan setiap jumat dan
sabtu, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan jumlah siswa yang dapat
dikatakan sedikit tersebut, dan juga dengan keterbatasan sarana dan prasarana
sekolah yang sangat minim, namun pihak sekolah terus berusaha agar sekolah ini
dapat berjalan dengan aktif sebagaimana sekolah pada umumnya
Keterbatasan
sarana dan prasarana yang ada di sekolah tidak membuat mereka berkecil hati
hingga lantas menjadi malas untuk bersekolah. Mereka walaupun masih berusia
12-15 tahun jika dibandingkan anak seumuran mereka yang tinggal di kota mungkin
hanya bersekolah, kemudian bermain, makan, dan tidur malam, paginya sekolah
lagi begitu seterunya, tetapi tidak dengan mereka siswa sekolah di daerah 3T.
Pada umur mereka yang memang benar seharusnya hanya bersekolah dan bermain,
tetapi siswa-siswi penulis yang hidup di pedalaman telah diberi tugas dan
tanggungjawab yang lebih oleh orangtuanya. Sebelum berangkat ke sekolah
mayoritas dari siswi putri mereka setiap paginya bangun jam 4 subuh untuk
memasak menggunakan kayu bakar (karena tabung gas sangat langka di sana)
terlebih dahulu guna makan pagi seluruh anggota keluarganya, setelah itu mereka
baru bersiap untuk mandi pagi. Untuk mandi di daerah seperti Desa Kiung ini
butuh perjuangan sekali, karena di sini air adalah barang yang sangat langka,
banyak rumah yang tidak mempunyai kamar mandi karena sulitnya mendapatkan air
bersih. Oleh karena itu kebanyakan dari mereka untuk mandi harus berjalan kaki
selama sekitar 10 menit menuju ke sumber mata air yang ada yaitu air pancur.
Siang
hari setelah sekolah selesai mereka pulang ke rumah untuk menggantikan tugas
orang tua mereka di rumah seperti mengasuh adiknya, memasak makan siang, dan
lain sabagainya. Banyak juga dari mereka pulang hanya untuk makan siang saja
dan setelah itu langsung pergi membantu orang tua yang mayoritas bekerja di ladang
atau kebun. Pulang dari membantu orang tua mereka di ladang sekitar pukul 4 sore, mereka lantas pergi
mandi sore ke air pancur, mereka tidak hanya sekedar pergi mandi saja, tetapi
mereka juga membawa ember atau botol-botol air mineral bekas yang mereka punya
untuk mengangkut air bersih guna kebutuhan sehari-hari di rumah.
Mereka
memiliki kesempatan untuk belajar hanya pada waktu malam hari, malam yang
berbeda dengan malam-malam di kota sana. Malam di sini adalah malam yang gelap
bahkan gelap sekali, itu dikarenakan Desa Kiung masih belum terhubung dengan aliran
listrik negara. Hanya segelintir rumah saja yang mempunyai jenset listrik
pribadi dan itupun tidak setiap malam digunakan. Seluruh warga di sini
mengandalkan penerangan yang mereka buat sendiri dengan botol atau kaleng
minuman diisi bahan bakar minyak tanah yang kemudian sumbunya dihidupkan dengan
api, dan benda tersebut mereka
sebut
dengan ‘Pelita’. Begitu juga mereka para siswa SMP Negeri 3 Suti Semarang yang
hanya mengandalkan penerangan dari sebuah pelita untuk menemani dan memberikan
sedikit cahaya untuk mereka belajar mengerjakan tugas-tugas sekolah dan membaca
buku-buku pelajaran mereka.
Untuk
saat ini mungkin sebagian besar dari mereka siswa-siswi menjalankan kegiatan belajar,
mengerjakan tugas dan membaca buku pelajaran di malam hari yang sangat minim penerangan
dengan mengandalkan cahaya dari sebuah pelita. Mereka melakukannya hanya sebatas sebuah
tuntutan guru, karena
jika tidak mengerjakan tugas akan
dihukum ataupun takut dimarahi oleh orangtuanya jika nilai sekolah jelek. Namun di
sisi lain,
dengan mereka terus menumbuhkan rasa semangat untuk pergi belajar menuntut ilmu
ke sekolah, mengulang pelajaran
selagi
di rumah dengan mengerjakan tugas sekolah dan membaca buku pelajaran yang
mereka laksanakan setiap malam,
meski
hanya ‘berteman’ dengan sebuah pelita, bukankah sangat mungkin hal ini justru yang akan membawa mereka
satu langkah lebih maju untuk mewujudkan cita-citanya dan juga harapan dari
orang tua untuk dapat hidup lebih baik dan lebih baik lagi dari saat ini, kehidupan yang tengah mereka rasakan dengan berbagai keterbatasa
yang ada.
Berawal
dari pelita yang mereka nyalakan setiap malamnya guna menemani mereka dalam belajar,
melangkah dengan semangat setiap hari untuk menuntu ilmu di sekolah mereka SMP
Negeri 3 Suti Semarang yang berada di kaki bukit Sepano, itu semua demi harapan
besar mereka dan orang tua agar menjadikan hidup yang lebih baik dari apa yang
sedang mereka rasakan kini.Teruslah
bersemangat siswa-siswiku, teruslah berjuang di tengah keterbatasan yang ada,
dan teruslah percaya bahwa harapan yang telah kalian miliki suatu saat pasti
akan terwujud, karena kalian adalah “Pelita
Harapan Sepano”.(oleh Jullio Prassojo, S.Pd.)
Kisah berikut diambil
dari rekam jejak kami semenjak pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Sebalo
tepatnya di Desa Sungkung Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang. Semenjak awal
penentuan tempat untuk mengajar memang kami dapat penempatan di sekolah
menengah pertama
yang berada di Kecamatan Siding, tepatnya di SMP N 2
Siding. Kecamatan itu terdengar asing bagi kami kemudian di awal kami juga
merasa sedikit gelisah dengan kondisi dan situasi di sana setelah mendengar
cerita dari kepala sekolah SMP
N 2 Siding terkait
lingkungan dan kondisi sekolah tersebut. Memang butuh perjuangan dan
pengorbanan besar untuk dapat pergi ke sana hingga bisa sampai di lokasi
tujuan. Untuk menuju lokasi SMPN2 Siding, yang
beralamatkan diDusun
Kadok, Desa Sungkung, Kecamatan
Siding dari Kota
Bengkayang dapat ditempuh
selama 2 hari perjalanan. Pertama kita naik bus jurusan Bengkayang-Entikong
dari kota Bengkayang, perjalanan dari Bengkayang menuju Entikong ini
membutuhkan waktu kurang lebih selama 8 jam perjalanan dengan biaya Rp.
100.000. Kami berangkat pagi dari Kota
Bengkayang dan dengan waktu tempuh tersebut sampai di Entikong sekitar pukul
empat sore. Setelah sampai Entikong kami menginap di salah satu penginapan selain karena
tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan dimalam hari juga sekaligus
istirahat mempersiapkan fisik untuk perjalanan selanjutnya. Untuk
sampai
lokasi kami diharuskan menggunakan jasa motor darat atau
menggunakan sampan namun pada saat itu kami menggunakan ojek.
Pagi hari pkl. 09.00 WIB kami lanjutkan perjalanan menggunakan motor darat
dengan salah satu guru dan kepala sekolah
SMP N 2 Siding. Di dalam perjalanan
kami harus melewati Kabupaten Landak dan Sanggau untuk bisa sampai lokasi.
Hingga akhirnya kami sampai di sekolah pkl. 13.30 WIB. Sungguh perjalanan yang
sangat luar biasa, serasa badan semua sakit karena harus melewati lika-liku
jalan tanpa aspal dan menyeberangi sungai di tengah-tengah perjalanan.
Beberapa
hari di sekolah kami sudah mulai akrab dan mengenal siswa siswi yang ada di SMP N 2 Siding. Kami melihat
suasana yang berbeda di sini terkait kondisi dan sikap siswa di sekolah ini
dengan kondisi siswa yang ada di lingkungan perkotaan. Sungguh sangat luar
biasanya siswa yang ada disini, ya karena ternyata mereka mempunyai semangat
yang besar untuk sekolah, hal ini terbukti dari kerelaan mereka untuk berjalan
kaki selama beberapa jam untuk menuju ke sekolah. Banyak kami bercerita tentang
motivasi meraih asa dan cita-cita untuk masa depan mereka di sekolah. Hal ini
semata-mata kami lakukan demi
kemajuan dan kemandirian bangsa tercinta kita Indonesia di masa depan. Tetapi
apa yang terjadi bahwa sebagian besar siswa yang ada di tapal batas ini masih
banyak yang mencintai negara sebelah yaitu Malaysia daripada negerinya sendiri.
Apa buktinya, ya sebagian besar siswa yang ada di sekolah ini pernah pergi ke
Malaysia untuk bekerja, mereka lebih memilih kerja di negara sebelah karena
merasakan nyaman, enak dan terjamin hidup disana. Lantas kerja apa dan tinggal
dimana mereka?.
Ternyata mereka di sana kerjanya sama dengan di Indonesia yaitu ada yang
berkebun dan kerja di bangunan. Di Malaysia mereka ternyata tinggal bersama
tokek dan banyak dari mereka sudah punya tokek masing-masing. Apa itu tokek?. Tokek
adalah sebutan untuk bos bahkan ada yang sudah menganggap sebagai ayahnya
sendiri di Malaysia. Ketika sudah sampai di Malaysia mereka akan bekerja di
kebun ataupun bangunan dengan gaji kurang lebih Rm. 20 atau sekitar Rp.
60.000/hari Ketika liburan sekolah pasti mereka selalu pergi ke Malaysia secara
bersama-sama. Tidak heran bahwa siswa SMP
N 2 Siding pasti selalu ada
yang pergi ke Malaysia karena memang jaraknya yang dekat dari tempat tinggal,
biasa mereka berjalan kaki menempuh waktu selama 6 jam perjalanan untuk bisa
sampai ke Malaysia. Tiada paspor dan tiada izin tidak menjadi penghalang buat
mereka, karena setelah sampai di Malaysia mereka akan langsung dijemput oleh
tokek mereka. Perasaan senang dan gembira muncul di hati para siswa karena
mereka akan dimanjakan oleh tokek mereka di Malaysia. Suatu hari kami pernah
menanyakan kepada siswa tentang Indonesia, ternyata ada yang tidak tertarik
sama sekali bahkan di benak mereka Indonesia itu adalah ladangnya korupsi.
Pantas saja siswa yang ada di sini selalu menginginkan pergi dari Indonesia.
Bahkan buku tulis mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan mereka memakai
produk dari Malaysia. Lantas di mana jiwa patriotisme mereka?. Tidak jarang
mereka selalu menyampaikan tentang wujud konkret dari pemerintah untuk kemajuan
di daerahnya. Mana jalan aspal?. Mana bantuan dari pemerintah?. Yang katanya
menggaung-gaungkan proyek Nawacita?. Bahkan listrik PLN belum menyambangi
daerah tersebut. Siswa di sini selalu membandingkan dengan kondisi negara yang
ada di sebelah, di negara Malaysia walaupun daerahnya di perbatasan tapi sudah
diaspal, listrik dan kehidupannya diperhatikan pak, mengapa di Indonesia kami
tidak merasakan hal itu?, di mana pemerintah pak?. Lebih baik saya pergi ke
Malaysia saja ya pak.
Itu adalah kata-kata yang terbesit di benak mereka. Ini adalah ironi kehidupan
siswa yang ada di tapal batas, sempat kami merasakan kesedihan yang amat dalam
dengan adanya kondisi ini. Ya, ini sebenarnya adalah tanggung jawab dan tugas
kita untuk dapat menyelesaikan masalah ini. Di sini kami guru SM3T selalu
berusaha dan memberikan motivasi kepada siswa-siswi yang ada di sekolah kami
agar mampu dan bisa mencintai bangsa Indonesia dan produk dalam negeri melalui
kegiatan kegiatan yang kami laksanakan di sekolah. Kami selalu bersama-sama
untuk saling bergandeng tangan dan mengepalkan tangan kita untuk satu tujuan
yaitu kemajuan bangsa Indonesia mulai dari daerah perbatasan, sesuai dengan
proyek nawacita program dari pemerintah. Dengan adanya proyek itulah maka kita
semua ada dan ditugaskan di sini. Tugas kita adalah mengabdikan diri di dunia
pendidikan agar peserta didik kita besok dapat meraih asa dan mampu memberikan
kontribusi nya untuk kemajuan bangsa bukan malah untuk mencintai bangsa lain. (oleh Nury Nurhayati, S.Pd.)
Indonesia:
negara dengan wilayah yang luas dan
heterogen, berpenduduk tidak sedikit, dan memiliki permasalahan pembangunan
yang belum merata di setiap wilayahnya. Bahkan hingga saat ini pembangunan
masih terpusat pada kota-kota besar terutama di Pulau Jawa, yang notabene menjadi tempat ibu kota
Indonesia berada, DKI Jakarta.
Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara geografis maupun sosiokultural, jelas
memerlukan upaya yang tepat untuk mengatasi berbagai masalahannya, diantaranya
dalam bidang pendidikan dan khususnya pendidikan di daerah 3T. Beberapa permasalahannya
antara lain tentang kekurangan jumlah guru, distribusi guru yang tidak merata,
kualifikasi guru tidak memenuhi standar: kurang
kompeten dan mengajar pada bidang studi yang tidak sesuai dengan kualifikasi
pendidikannya. Hal lain yang kerap muncul pada pendidikan di 3T adalah
angka putus sekolah yang relatif tinggi, partisipasi sekolah yang rendah,
sarana prasarana belum memadai, infrastruktur dan akses untuk mengikuti
pendidikan masih sangat jauh dari kata layak.
Pada
tahun 2011, Sarjana Mendidik di Daerah 3T atau kemudian lebih dikenal dengan
SM-3T untuk pertama kali muncul. Program yang ditujukan dalam rangka percepatan
pembangunan pendidikan di daerah 3T ini merupakan salah satu isi dari program
pemerintah bertajuk “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”, di dalamnya termasuk
Program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T), Program PPG Terintegrasi dan
Kewenangan Tambahan (PPGT), dan Program PPG Kolaboratif (PPG Kolaboratif).
Program tersebut diharapkan mampu menjadi jawaban atas berbagai permasalahan
pendidikan di daerah terutama kategori 3T.
Kabupaten
Bengkayang, sebuah daerah di wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan
negara Malaysia. Meski begitu, Kabupaten Bengkayang justru merupakan salah satu
daerah yang termasuk dalam kategori daerah 3T. Tahun 2015 adalah kali pertama
SM-3T bertugas di daerah ini, dan kemudian pada tahun 2016 adalah giliran kami
SM-3T angkatan VI mengemban amanah sebagai guru SM-3T terhitung sejak bulan
September 2016-September 2017.
Mengulik
kata-kata dari orang berpengaruh dunia, Albert Enstein “Ilmu pengetahuan tanpa
pengabdian adalah lumpuh. Sudah saatnya cita-cita kesuksesan diganti dengan
cita-cita pengabdian”, kemudian coba juga memaknaikata-kata dari Anies Baswedan “Mendidik
adalah tanggung jawab setiap orang terdidik”. Kesemuanya itu adalah pundi-pundi
semangat bagi kami, pendidik SM-3T untuk terus mengabdikan diri pada negara.
Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia, oleh SM-3T Angkatan VI Kabupaten
Bengkayang diwujudkan tidak hanya dalam partisipasinnya menjadi guru yang
mengajar murid-muridnya di sekolah penugasan, tapi juga berbaur dengan
lingkungan sekitar dengan mengikuti beragam kegiatan seperti tahun baru padi
atau gawai padi, kerja bakti lingkungan, dan lainnya. Dalam ranah yang lebih
luas SM-3T Angkatan VI Kabupaten Bengkayang membuat berbagai program kegiatan
yang dirancang untuk mengisi masa satu tahun pengadian, diantaranya:
Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi (terutama jalur beasiswa) dan Tryout SBMPTN, Donasi bertajuk “Seribu
Jendela Dunia untuk Anak di Ujung Negeri”, dan Festival Pendidikan Kabupaten
Bengkayang.
Sosialisasi
Masuk Perguruan Tinggi dan Tryout
SBMPTN, dilaksanakan sejak bulan Desember 2016-Februari 2017 di SMA/K di
wilayah Kabupaten Bengkayang baik sekolah yang merupakan tempat penugasan SM-3T
maupun bukan. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan motivasi siswa-siswi
sekolah menengah atas agar dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih
tinggi, memberikan gambaran tentang jalur masuk khususnya jalur beasiswa karena
sebagian besar yang membuat mereka enggan melanjutkan sekolah lantaran stigma
mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi, selain itu dengan tryout SBMPTN diharapkan dapat membantu
menyiapkan mereka untuk bersaing penuh percaya diri dalam ajang seleksi masuk
PTN pilihan mereka nantinya.
“Seribu
Jendela Dunia untuk Anak di Ujung Negeri”, adalah upaya kami untuk menggalang
donasi dari seluruh warga Indonesia, dari mereka yang peduli pendidikan, dari
mereka yang rindu akan pendidikan Indonesia yang lebih baik dan layak. Siswa
yang tidak memiliki tas sekolah, seragam sekolah yang lusuh dan rusak,
buku-buku sekolah yang tidak tersedia, sarana prasarana kurang memadai, menjadi
pendorong kami menggalang donasi. Donasi yang kami kumpulkan pada awalnya
adalah buku bacaan, buku pelajaran, seragam sekolah, tas, sepatu, dan peralatan
sekolah; tidak perlu baru, bekas dan
masih layak pakai pun kami terima. Tidak hanya di wilayah Kalimantan Barat,
beberapa titik pengumpulan juga dibuka di wilayah pulau Jawa atas kerjasama
anggota SM-3T dengan sanak-saudara yang sudi untuk diminta bantuan. Donasi
dalam bentuk uang tunai juga kami buka, yang digunakan untuk membantu biaya
pengumpulan hingga alokasi donasi pada penerima, dan juga digunakan untuk
membeli apa-apa yang belum tercukupi dari donasi barang yang sudah terkumpul.
Seiring
berjalannya waktu, muncul inisiatif dari kami untuk membuat sebuah gerakan yang
mampu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk sadar dan peduli pada pendidikan
di 3T: sebuah video yang diunggah oleh
salah satu anggota SM-3T Angkatan VI Kabupaten Bengkayang, Anggit Purwoto
berhasil menjadi viral di media sosial, meraup dukungan dari berbagai pihak mulai
dari rakyak biasa sampai orang nomor satu Indonesia, Presiden Joko Widodo.
Video “Pak Jokowi Minta Tas”, mengambarkan 4 orang siswa SD berpakaian lusuh
tanpa alas kaki merintih meminta tas kepada Pak Jokowi. Video itu pun, nyatanya
menjadi ujung tombak kami dalam usaha mengumpulkan donasi bagi pendidikan di 3T
Kabupaten Bengkayang. Tanggapan positif hadir dari Pak Presiden yang langsung mengutus
Sekretaris Pribadinya untuk terjun langsung melihat sekaligus menyerahkan
bantuan tas, seragam sekolah, dan perlengkapan sekolah lengkap untuk beberapa
sekolah dan siswa di daerah Sungkung, wilayah yang merupakan lokasi penempatan
beberapa guru SM-3T, yang salah satunya pengunggah video viral Anggit Purwoto.
Sejalan dengan itu, kami juga membuat gerakan bertajuk “Seutas Asa – Sepuluh
Ribu Rupiah untuk Tas Anak Tapal Batas Indonesia”. Gerakan yang mengajak
masyakarat untuk patungan donasi sebesar sepuluh ribu rupiah yang nantinya
digunakan untuk membelikan tas sekolah anak-anak. Hingga ditutupnya program
donasi ini, masih banyak donatur yang memberikan bantuan baik berupa barang
maupun uang tunai. Dan pada akhirnya donasi secara berkala disalurkan pada
bulan Mei-Agustus 2017 sebelum masa penugasan berakhir.
Festival
Pendidikan, menjadi agenda besar kami dalam masa pengabdian di Kabupaten
Bengkayang. Berbagai perlombaan untuk siswa sekolah PAUD sampai SMA/K, kemudian
stand-stand sekolah yang menampilkan
potensi sekolah masing-masing diharapkan mampu berjalan lancar pada 13 Mei
2017. Selain sebagai ajang berkompetisi sehat, kegiatan ini dirancang sebagai
bentuk promosi sekolah kepada masyarakat.
Sedikit
menoleh ke belakang, semua permasalahan yang timbul jelas membutuhkan solusi
untuk mengatasinya, tidak dapat dipungkiri berbagai solusi tentu sudah
dirumuskan oleh para pemangku kepentingan sesuai ranahnya. Persoal masalah
pendidikan, bukan tidak pernah dipikirkan solusinya baik oleh pihak sekolah
sebagai pelaksana, pemerintah daerah terutama dinas pedidikan setempat maupun
pemerintah pusat melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan sebagai pembuat
kebijakan. Wajib Belajar Sembilan Tahun,
Bantuan Operasional Sekolah, beragam beasiswa pendidikan, Kartu Indonesia
Pintar, Sarjana Mendidik di Daerah 3T dan yang terbaru Guru Garis Depan; kesemuanya
adalah upaya-upaya baik dari pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan mutu
pendidikan. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa praktik-praktik di
lapangan pada ranah terkecil sekalipun terkadang tidak sesuai dengan perencanaan
saat kebijakan itu dirumuskan. Mereka yang gelap mata karena “termakan” jabatan
juga tidak luput menorehkan bercak hitam pada dunia pendidikan.
Indonesia
butuh kita; bukan aku, kamu, mereka, atau
segelintir orang saja. Pendidikan juga butuh peran bersama; siswa, orang tua, guru, pemerintah terkait
dan pernik lain pendukungnya. SM-3T adalah kita; kita yang terpanggil hatinya untuk memanusiakan manusia lewat
pendidikan. Apresiasi terbesar tentu
layak diberikan kepada mereka yang sadar “Kami Orang Terdidik” maka “Kami Harus
Mendidik”. Mengabdikan diri pada negeri demi tertunainya janji kemerdekaan “Mencerdaskan
Kehidupan Bangsa” dan mewujud nyatakan slogan kebanggaan kami SM-3T “Maju
Bersama Mencerdaskan Indonesia”.
Sejuta
harapan yang tulus mengalir dari kami SM-3T Angkatan VI Kabupaten Bengkayang: Bengkayang mampu berdiri mandiri, dengan
peningkatan kualitas dan maksimalnya peran sumber daya manusia terutama para
putra-putri daerah, yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan,
dan mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas dan cinta tanah air.(oleh Diyah Puspita Rini, S.Pd.)
Guru,
setiap kali kata itu didengar pasti akan tergambar sebuah sosok pengajar yang
berkiprah dalam duniapendidikan. Banyak
statmen untuk sekarang ini mengenai guru dan tunjangannya. Statmen-statmen itu
muncul karena kebanyakan dari pencetus statmen baru melihat guru dari kacamata
luarnya saja. Bagiyang sudah terjun
di dunia pendidikan sebagai seorang guru maupun bukan, statmen itu akan sangat
berbeda dengan yang dilihat dari luar.Dan bagi yang yang benar-benarmelakukannya dengan tulus, maka akan merasakan kenikmatann yang luar
biasa. Ya mungkin melihat pendidikan yang di kota tidak asing lagi dengan
fasilitas pendidik maupun prasarana yang mendukung. Ketika kita melihat aaupun
menjadi pemeran guru di di daerah yang sedikit dalam, pasti membutuhkan tekad
dan semangat yang tinggi walaupun mungkin honor menggiurkan. Ketika menjadi
seorang guru di tempat yang masih tertinggal dengan kondisi sekolah yang serba
terbatas, terbatas fasilitasnya maupun terbatas gurunya, seorang guru dituntut
untuk mengubah dan memaksimalkan pendidikan yang ada dengan mengaruskan bisa
disegala bidang, sebagai guru rangkap pelajaran, pustakawan, administrasi
sekolah dan lainya.
Seperti
halnya dua orang guru yang mengajar di salah satu smp di kabupaten bengkayang
Kalimantan barat.Mereka berasal dari
kabupateen tetangga yaitu kabupaten Landak. Kedua guru itu yakni Pak Andi dan
Pak Handi. Pak Andi merupakan guru pegawai negeri yang mengajar utamanya bahasa
inggris dan Pak Handi masih guru honorer yang mengajar utamanya bahasa
Indonesia. Mereka untuk di lapangan mengajar lebih dari satu mapel.
Pak
Andi termasik guru senior di sana. Beliau setiap hari berangkat dari rumahnya
yang bisa dikatakan menempuh jarak yang lumayan. Beliau berangkat pukul 06.00 WIB
untuk ke sekolah dengan sepatu boot kesangannya. Berangkat lebih awal bukan
berarti jaraknya yang jauh, akan tetapi karena medan jalan yang berlobang dan
berlumpur. Dengan kondisi medan yang demikian dan juga medan pegunungan, beliau
mengusahakan datang lebih awal agarsampai sekolah tidak terlambat. Itupun ketika cuaca bagus, ketika cuaca
kurang bagus kadang-kadang jalan susah untuk dilewati. Kedatangan beliau merukan
kedatangan yang dinantikan oleh siswa-siswanya. Siswa menantikannya karena guru
yang ada disekolah itu terbatas. Guru yang ada dua PNS dan yang lain honorer,
dengan adanya peraturan untuk pembayaran guru honor tidak boleh lebih dari dana
bos, maka pengajaran sangat terbatas dan kekurangan guru. Kekurangan tenaga
pendidik merupakan salah satu kendala dalam pembelajaran. Guru yang merupakan
jantung dari sekolah, apabila kekurangan maka pembelajaran di sekolah tidak akan
berjalan dengan baik.
Ini
seperti kisah dari pak Handi yang menjadi guru honor di dua sekolah, dua
Kabupaten yang berbeda. Untuk hari senin sampai kamis mengajar di sekolah yang
sama dengan pak Andi, sedangkan jum’at dan sabtu mengajar di sekolah di Kabupatenya sendiri. Guru muda ini yang keturunan dayak melayu, mengabdi untuk memajukan
pendidikan yang tergolong masih tertinggal dilain halnya untuk pekerjaan lain
denganiming-iming gaji lebih besar, akan
tetapi dia memilih untuk tetap menjadi guru. Beliau mendedikasikan dirinya
untuk pendidikan dengan pengabdian yang mana dengan honor hanya mencukupimakan keseharianya bahkan
kurang tetapi masih tetap dengan cita-citanya yang mulia di pendidikan. Pak
Handi selain mengajar juga secara tidak langsung penjaga sekolah, karena setelah
mengajar dia menginap diruang sekolah bukan karena tugas, tetapi jika bolak balik
kerumahnya maka tidak cukup honornya untuk perjalanan. Dengan iktikat yang
begitu besar beliau setiap hari minggu menambah penghasilan dengan noreh getah
karet ataupun buruh untuk mencukupi keseharianya karena apabila hanya
mengandalkan dari honor ngajarnya maka tidak cukup. Pendidikan yang masih membutuhkan banyak guru,
perlulah merubah pandangan tentang pendidikan terutama guru, karena masih
banyak diluar sana yang mendedikasikan sebagai guru dengan cita-cita memajukan
pendidikan di Indonesia