Sunday, June 30, 2019

MEMBENTUK KARAKTER SISWA DENGAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA DI SMP N 1 SIDING, SMP N 3 SIDING DAN SMA N 2 SIDING


Manusia dilahirkan dengan karakter yang berbeda satu sama lainnya. Karakter merupakan ciri, gaya, sifat, ataupun karakteristik diri seseorang yang berasal dari bentukan yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya. Karakter yang dimiliki seseorang terbentuk melalui proses yang cukup pajang. Karakter seseorang bukanlah sesuatu yang dibawa dari lahir melainkan bentukan dari orang-orang yang ada di sekitar lingkungan tersebut. Karakter dibentuk melalui proses belajar di beberapa tempat, seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Karakter seseorang akan sejalan dengan perilakunya. Bila seseorang selalu melakukan aktivitas yang baik seperti sopan dalam berbicara, selalu menghormati orang lain dan suka menolong, maka kemungkinan besar karakter orang tersebut juga baik, akan tetapi jika perilaku seseorang buruk seperti berbicara tidak baik, suka berbohong dan suka mencela orang lain, kemungkinan besar karakter orang tersebut juga buruk.
Banyak pihak yang berperan dalam pembentukan karakter seseorang, seperti keluarga, guru dan teman sebaya. Peran keluarga sangatlah penting untuk membentuk karakter seseorang. Keluarga adalah kelompok sosial terkecil dalam masyarakat. Proses sosialisasi seseorang dimulai dari keluarga. Keluarga memberikan pelajaran bagi seseorang untuk belajar bersosialisasi, memahami, menghayati dan merasakan segala aspek kehidupan yang terbentuk dalam miniatur masyarakat yang kompleks. Setelah seseorang keluar dari lingkungan keluarga, peran sekolah sangatlah penting untuk membentuk karakter seseorang terutama usia anak sekolah.
Sekolah adalah rumah kedua bagi anak, karena hampir separuh waktu yang dimiliki anak dihabiskan untuk berkegiatan di sekolah. Sekolah yang baik tidak hanya mementingkan prestasi akademik anak saja melainkan juga mengembangkan kemampuan anak di bidang lainnya seperti penalaran, olahraga dan kesenian. Bidang pengembangan anak di sekolah dapat ditempuh dengan kegiatan ekstrakurikuler. Banyak kegiatan ekstrakurikuler yang memberikan dampak positif bagi anak, salah satunya adalah kegiatan pramuka.
Ekstrakurikuler Pramuka adalah salah kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk membentuk generasi muda yang berkarakter. Ektrakurikuler pramuka akan membentuk anak lebih berahklak mulia, cinta tanah air, berjiwa sosial, mandiri, berani, disiplin, bertanggung jawab dan masih banyak lagi karakter yang baik lainnya.
Pemerintah memberikan kebijakan mewajibkan siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka melalui kurikulum 2013. Kebijakan pemerintah ini membuat sekolah harus mengadakan ektrakurikuler pramuka dan memilih guru untuk menjadi pembina pramuka. Pemerataan fasilitas, sarana prasarana pendidikan serta pemerataan jumlah guru menjadi masalah untuk pemerintah. Sekolah yang jauh dari pusat ibu kota seperti daerah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal) membutuhkan perhatian lebih dibandingkan daerah kota. Pemerintah dengan program SM3T Kemendikbud mengirimkan guru-guru pilihan ke daerah 3T dengan tujuan memeratakan kualitas pendidikan di Indonesia. Penulis adalah salah satu guru pilihan yang ditempatkan di Desa Siding, Kec. Siding, Kab. Bengkayang, Prov. Kalimantan Barat. Lebih tepatnya penulis ditempatkan di SMA N 2 Siding. Penulis tidur di bangunan lab. sekolah SMP N 1 Siding. SMA N 2 Siding berdiri pada bulan Juli tahun 2016. Sekolah ini belum memiliki bangunan sendiri dan masih menginduk di SMP N 1 Siding. Sekolah ini baru memiliki satu kelas dengan jumlah siswa 9. Sekolah ini berada di gunung, berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Jumlah guru PNS hanya satu yaitu kepala sekolah sedangkan guru yang lain masih honor. Jumlah guru yang sedikit dan belum adanya sarana prasarana pendidikan menjadi beban bagi kami dewan guru dan kepala sekolah. Prestasi siswa yang kami janjikan kepada negara harus berjalan dengan ketimpangan-ketimpangan yang ada seperti jumlah guru yang sedikit dan sarana prasarana sekolah yang belum ada.
Kegiatan belajar mengajar di SMA N 2 Siding berjalan sesuai dengan keadaan yang ada dan kami rintis sedikit demi sedikit untuk mengenalkan kepada sekolah yang lain bahwa SMA N 2 Siding itu ada dan eksis. Kegiatan demi kegiatan kami rintis seperti ekstrakurikuler pramuka. Ekstrakurikuler pramuka menjadi hal yang baru di SMA N 2 Siding. Penulis mengajukan diri kepada kepala sekolah untuk membina pramuka di SMA N 2 Siding. Penulis memulai Ekstrakurikuler pramuka dari nol karena siswa masih buta pengetahuan tentang pramuka.  Materi dasar kepramukaan yang penulis sampaikan dari semester 1 sampai dengan semester 2 antara kode kehormatan pramuka, sejarah pramuka indonesia, sejarah pramuka dunia, PBB, isyarat dan semboyan seperti morse & semaphore, sandi, tali temali, pionering, kompas, peta pita, peta lapangan, P3K, dan Sketsa Panorama. Pramuka tidak hanya mengajarkan materi tetapi ada proses penanaman karakter disetiap kegiatan berlangsung seperti saat upacara pembukaan latihan, PBB, dan penjelajahan. Setiap pertemuan siswa harus mendapatkan penanaman karakter dalam dirinya.
Penulis membina pramuka di 3 sekolah yaitu SMA N 2 Siding, SMP N 1 Siding dan SMP N Siding. Penulis membina 3 sekolah dengan jadwal hari yang berbeda. Hari Selasa di SMP N 3 Siding, hari Kamis di SMA N 2 Siding dan hari Jumat di SMPN 1 Siding. Jarak tempat tinggal penulis ke tempat membina pramuka di SMP N 3 Siding sekitar 2 km sehingga penulis membutuhkan sekitar 45 menit menuju ke sekolah dalam kondisi jalan kering. Penulis mempunyai misi untuk mengenalkan pramuka ke seluruh Kec. Siding bahwa pramuka itu eksis dan mampu mengembangkan keterampilan siswa di bidang kepramukaan serta bidang lainnya. Siswa yang ikut ekstrakurikuler terlihat lebih semangat, percaya diri, gembira, disiplin dan bertanggung jawab.
Penulis membuat kegiatan yang variatif agar siswa lebih semangat dalam berkegiatan. Kegiatan ekstrakurikuler pramuka SMP N 1 Siding, SMP N 3 Siding dan SMA N 2 Siding meliputi latihan rutin tiap Rabu, Kamis dan Jumat, penjelajahan akhir semester 1 dan pertengahan semester 2, kemah lomba tingkat 1, kemah gabungan, kemah LDKK Dewan Penggalang, Pelantikan Dewan Penggalang, Pelantikan Golongan Penggalang Ramu, Perekrutan  Saka Wirakartika, Upacara Hari Ulang Tahun Pramuka ke 56 di AURI, Pelantikan Bantara, Pelantikan Dewan Ambalan, Penampilan Yel-yel HUT RI ke-72 di Kantor Kecamatan Siding.
Gambar 1.1 Praktik menggunakan kompas SMPN 3 Siding
Gambar 1.2 Praktik semaphore Kemah LDKK SMP N 1 dan SMP N 3 Siding
Gambar 1.3 Suasana makan pagi kemah LT I SMP N 1 Siding
Gambar 1.4 Suasana pensi saat api unggun kemah LT I SMP N 1 Siding
Gambar 1.5 Prosesi pelantikan Dewan Penggalang SMP N 1 Siding
Gambar 1.6 Proses Pelantikan Bantara SMA N 2 Siding

Penulis merasa bangga kepada siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka karena mereka sangat antusias dan bersemangat. Penulis merasa ada perubahan yang besar di lingkungan sekolah. Tanaman yang sudah ditanam mulai tumbuh, tinggal dipupuk, disiram, dirawat dan menunggu buahnya. Jangan sampai tanaman yang sudah ditanam mati sebelum berbuah. Sekolah yang dulunya sepi sekarang lebih  hidup dan bergairah. Hal ini yang membuat penulis merasa berat ketika harus meninggalkan sekolah karena tugas sudah berakhir. Harapan besar dari penulis adalah pramuka harus tetap hidup dan eksis sampai ke provinsi bahkan nasional. Hidup di daerah 3T bukanlah sebuah hambatan untuk tampil dan eksis. Tunjukan bahwa kalian ada dan mampu bersaing dengan sekolah yang berada di kota.  Jangan selalu bertanya apa yang sudah diberikan negara kepada kalian tetapi jawablah bahwa kalian mampu memberikan prestasi kepada negara.(oleh Ahmad Chabib, S.Pd.)

Tuesday, June 18, 2019

Nikmat Menjadi Guru di Pelosok Negeri


Guru merupakan salah satu profesi yang mengemban tugas  mulia. Melalui gurulah tugas untuk mencerdaskan kehidupan generasi penerus bangsa di amanahkan. Guru menjadi ujung tombak untuk memastikan hak mendapatkan pendidikan bagi setiap anak Indonesia terlaksana. Untuk memenuhi hak pendidikan tersebut maka tersebarlah guru-guru di seluruh Indonesia, baik di perkotaan, pedesaan, maupun pelosok negeri. Lantas, Bagaimana rasanya menjadi guru di pelosok negeri? Apakah menyenangkan atau justru menakutkan?
Saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan di atas berdasarkan pengalaman saya mengabdi selama 1 tahun di pelosok negeri. Saya adalah seorang guru SM-3T yang bertugas di SMA Negeri 1 Lembah Bawang dan membantu mengajar di SMP Negeri 3 Lembah Bawang yang terletak di Kecamatan Lembah Bawang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Kecamatan Lembah Bawang merupakan daerah yang terletak di lereng Gunung Bawang dengan jarak tempuh ± 3 jam dari pusat Kabupaten Bengkayang. Kecamatan Lembah Bawang dihuni oleh masyarakat Suku Dayak, terutama Dayak Bekati dan Beahe serta Suku Jawa.
Menjadi guru di pelosok negeri bukanlah hal yang menakutkan, tetapi merupakan pengalaman yang luar biasa menarik dan menyenangkan. Di pelosok negeri, guru adalah profesi yang sangat dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat. “selamat pagi bu/pak guru, selamat siang bu/pak guru, selamat sore bu/pak guru” adalah sapaan yang diberikan oleh anak-anak ketika bertemu sosok guru diberbagai kesempatan. Sapaan yang akhir-akhir ini jarang untuk ditemui, namun di pelosok negeri seolah menjadi nyanyian merdu bagi perjalanan guru.
Pelosok negeri identik dengan segala keterbatasan, termasuk sarana dan prasarana pendidikan. Kondisi tersebut bukan suatu hambatan melainkan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya dalam memberikan hak pendidikan bagi anak-anak di pelosok negeri. Mereka adalah permata dengan semangat juang luar biasa, permata yang menunggu dipoles agar terlihat keindahannya. Permata yang sangat membutuhkan sosok guru untuk membantu mereka menjaga motivasi dalam meraih impiannya. Karena sejatinya keterbatasan bukan alasan untuk mengubur mimpi melainkan sebuah tantangan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Dan disinilah peran guru untuk menjembatani generasi penerus bangsa agar selalu mengobarkan semangat dalam diri guna menghadapi segala keterbatasan dalam meraih impian. Pendidikan yang layak dan berkualitas adalah hak bagi segenap anak Indonesia, termasuk bagi permata-permata di pelosok negeri.            
Indonesia sebagai negara yang multikultural, tentu kaya akan berbagai suku bangsa, agama, ras, dan budaya. Menjadi guru di pelosok negeri membuka cakrawala pengetahuan mengenai keberagaman Indonesia serta meningkatkan kecintaan terhadap tanah air ini. Selama 1 tahun pengabdian saya hidup di lingkungan masyarakat Dayak yang masih sangat menjunjung adat istiadat dan kearifan lokal. Naik dango (tahun baru padi) sebagai ungkapan syukur atas nikmat panen yang diberikan Tuhan dan berlale sistem gotong royong dalam menggarap ladang merupakan adat istiadat dan kearifan lokal masyarakat yang tetap lestari hingga kini. Bahasa dayak, baik Dayak Bekati maupun Beahe merupakan bahasa daerah yang menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia. Baik adat istiadat maupun bahasa tersebut menarik untuk dipelajari sehingga dapat menambah cakrawala pengetahuan dan meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air.
Selama 1 tahun pengabdian, saya hidup menjadi minoritas di lingkungan masyarakat Dayak. Saya yang seorang muslim tinggal di lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan Katolik. Apakah menjadi minoritas itu lekat dengan keterpasungan dan ketertindasan? Jawabanya adalah Tidak. Mayoritas atau minoritas bukanlah suatu masalah apabila toleransi menjadi kuncinya. Selama dalam masa pengabdian saya menikmati indahnya toleransi dalam bermasyarakat. Kehidupan di sekolah maupun masyarakat menjunjung tinggi toleransi guna mewujudkan keharmonisan. Saya menikmati bagaimana masyarakat saling menghargai dan menghormati satu sama lain tanpa melihat latar belakangnya. Kami hidup dalam harmoni, tanpa terpengaruh oleh isu SARA yang sering kali menjadi perdebatan.
Menjadi guru di pelosok negeri menumbuhkan pemahaman akan nikmat rasa syukur. Saya bersyukur menjadi seorang guru yang diberikan kesempatan melihat pelosok Indonesia. Alangkah nikmatnya mendengar celotehan permata-permata pelosok negeri mengenai mimpinya. Betapa menyenangkannya menumbuhkan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap negeri kepada mereka. Apapun yang terjadi, apapun yang dihadapi dalam kehidupan, NKRI adalah harga mati. Semangat itulah yang mereka tunjukkan, di tengah segala keterbatasan yang dihadapi, kecintaan kepada negeri tetap terpatri dalam hati. Karena semangat nasionalisme dan kecintaan kepada negeri adalah hal wajib yang harus dimiliki setiap warga negara.  
Keasrian dan keindahan alam adalah salah satu nikmat ketika menjadi guru di pelosok negeri. Pesona alam pelosok negeri menjadi obat penawar dikala kejenuhan akan rutinitas melanda. Pesona alam tersebut akan membuka mata kita jika anugerah Tuhan itu tidak terbatas dan betapa indahnya negeri ini. Pesona alam yang harus dijaga dan dilestarikan agar kelak dapat dinikmati oleh generasi penerus bangsa selanjutnya.
Menjadi guru di pelosok negeri? Kenapa tidak, menjadi guru di pelosok negeri bukanlah hal yang menakutkan melainkan pengalaman yang menyenangkan. Keikhlasan dalam menjalani profesi akan semakin terbentuk dan menumbuhkan kecintaan kita terhadap profesi tersebut. Berbagai kesempatan dan tantangan yang menghampiri semakin membentuk sikap profesionalitas seorang guru dalam mendidik generasi penerus bangsa.
Mari keluar dari zona nyaman untuk menemukan zona yang lauh lebih nyaman di luar sana. Bukalah mata dan hati kita jika generasi penerus bangsa di seluruh pelosok Indonesia membutuhkan guru-guru untuk membantu mereka mewujudkan mimpi-mimpinya. Jangan pernah takut menjadi guru di pelosok negeri karena sejatinya menjadi guru di pelosok negeri itu nikmat.(oleh Nining Lisnawati, S.Pd.)




Wednesday, June 12, 2019

GOTONG ROYONG SEBAGAI HASIL PENERAPAN PANCASILA


GOTONG ROYONG

SEBAGAI HASIL PENERAPAN PANCASILA

(Arif Munandar, S/Pd., Gr.)
BAB I
PENDAHULUAN
A.               Latar belakang
Pancasila merupakan dasar dari negara Indonesia. Oleh karena itu sebagai bangsa indonesia harus mengetahui apa itu nilai-nilai yang terkandung didalam pacasia. Dari nilai-nilai tersebut harus dapat diaplikasikan kedalam kehidupan bermasyarakat. Pengamalan nilai-nilai dari pancasila itu sanngat penting untung kengsungan hidup bangsa karena itu sebagai tonggak untuk tetap kokoh bangsa indonesia ini. Apabila nilai-nilai  pancasila sebagai pajangan di tembok yang hanya untuk hiasan tanpa diamalkan maka negara ini perlahan-lahan akan hancur dengan sendirinya karena pancasila merupakan jantung dari negara Indonesia, apabila tidak dijaga maka akan mati.
Sehubungan dengan pengamalan dari sila-sila pancasila yang banyak terealisasi dalam msyarakat, sedangkan masyarakat tidak mengetahui pengamalan-pengamalan dari sila-sila tersebut. Dalam masyarakat banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan setiap harinya, tetapi apakah kegiatan tersebut sudah selaras dan termasuk dalam kandungan nilai-nilai luhur pancasila.
B.     Tujuan
Agar para pembaca dapat memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pncasila pada penangaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga selaras dengan nilai-nilai luhur pancasila.
C.   Rumusan masalah
Dalam kehidupan sehahari-hari kita sering melaksanakan kerja bakti atau lebih dikenal gotong royong.
a.       Apa definisi gotong royong dan apa termasuk pengangamalan dari sila-sila pancasila?
b.      Berikan contoh serta alasannya!

BAB II
PEMBAHASAN

a.     Gotong royong
Gotong royong adalah sebuah kegiatan masyarakat yang dikerjakan bersama-sama untuk memecahkan suatu permasalahan yang ada di masyarakat guna menjaga lingkungan sekitar ataupun membantu warganya sendiri yang membutuhkan.
Gotong royong merupakan pengamalan dari sila-sila pancasila, lebih tepatnya yaitu sila ke-3 yang berbunyi “Persatuan indonesia”.
b.     Alasan serta contoh
Karena dalam gotong royong dilaksanakan bersama-sama oleh anggota masyarakat secara bersamaan di satu waktu dan berkala. Dalam gotong royong itu melibatkan dari anggota masyarakat itu sendiri dimana mereka sadar akan lingkungannya sendiri, sehingga mereka merasa bertanggung jawab untuk merawat dan menjaga lingkungannya serta membantu masyarakat yang membutuhkan. Dalam gotong royong berbagai anggota mayarakat bergabung, bersatu untuk menyelesaikan persoalan lingkungannya sesuai dengan ruang lingkup gotong royong itu yakni tingkat RT, RW, Desa, ataupun Kecamatan. Dalam menyelesaikannya mereka saling bahu-membahu sehingga masalah yang dihadapinya teselesaikan dengan tepat da benar.
Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Desa Waluyorejo Rt 09, Rw 04 Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen pada hari Minggu tanggal 25 Maret 2012 dari jam 07.30 sampai 10.30 WIB.
Gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat Rt 09 itu adalah membersihkan dan memperbaiki jalan yang sebagai akses masyarakat. Kegiatan rutinitas waga tersebut bertujuan agar pengguna jalan nyaman sebagaimana jalan merupakan modal dari suatu masyarakat untuk melakukan aktifitasnya. Gotong royong yang diikuti oleh satu Rt yang mana 23 orang yang berpartisipasi dari 34 kepala keluarga dimana setiap keluarga minimal satu anggota keluarga berpartisipasi. Walalaupun ada beberapa yang tidak dapat mengikuti, mereka tetap ikut berpartisipasi dengan menyumbang rokok dan minum. Bahkan saking semangatnya tidak sedikit  dari mreka berangkat lebih awal tanpa bersarapan dahulu.

Seperti dalam gambar diatas mayarakat membersihkan jalan dengan cangkul dan juga sabit. Mereka membersihkan jalanan dari rumput-rumput yang mengganggu bagi para pejalan. Mereka juga menebang pohon serta ranting-ranting yang menghalangi jalan. Mereka dengan antusias membersihkan jalan-jalan dengan rasa kebersamaan yang tinggi. Mereka rela mengorbankan waktunya untuk kepentingan bersama yaitu gotong royong merawat jalan.
             
        
    Kita bisa lihat masyarakat bekerja sama dengan baik, mereka berbagi tugas dengan yang lainnya. Dimana yang lain membersihkan jalanan, mereka memperbaiki jalan turunan yang tidak rata dan berlubang karena tergerus air ketika hujan datang. Mereka sadar akan jalanan yang merupakan akses transportasi untuk memperlancar perekonomian. 
Tidak ketinggalan, setelah gotong royong selesai mereka berkumpul kembali untuk menyantap hidangan yang telah disediakan yaitu dua buah tumpeng yang mana telah dibuatnya oleh warga secara bergiliran. Jadi kebersamaan dan persatuan masyarakat sangatlah terlihat dalam kegiatan masyarakat ini.
BAB III
PENUTUP
v Kesimpulan
Gotong royong adaah pengamalan Pancasila sila ke-3 yang berbunyi “Persatuan Indonesia”. Gotong royong bisa masuk dalam sila ke-3 karena dalam gotong royong menganut unsur kebersamaan dan persatuan dalam masyarakat.

Tuesday, May 28, 2019

Harapan


Di tengah hamparan padang pasir
Ditengahrai keputusasaan
Terlihat jauh cahaya gemerlap
Tergugah pandngan tajam dngn badan tegak
Tanpa peduli sekitar
Melangkahkan kaki tapak demi tapak
                Harapan yang besar muncul
                Semangat yang tak terpadamkan
Untuk memenuhi hasrat pikiran
Kan kosong akan kedamaian
Yang merindukan sebuah kasih sayang
Hanya demi satu harapan
Untuk mendapatkan setetes kehidupan
Mungkinkah ini hanya perjalanan kosong
Kan hanya kaleng bekas yang membuat kesilauan
Ataukah kubangan air yang diharapkan
Hanya waktu yang menjawabnya
Tak sedikitpun kita bisa mengubahnya

Created by Arif Munandar

ADAKAH NILAI TAMANSISWA DALAM KURIKULUM 2013?


ADAKAH NILAI TAMANSISWA DALAM KURIKULUM 2013?
Arif Munandar, S.Pd., Gr.

Abstrak: Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Berbicara pendidkan tidak lupa dengan Bapak pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan ajaran Tamansiswanya. Untuk meraih sepenuhnya perlulah pendidikan dengan kurikulum yang tepat. Kurikulum 2013 merupakan yang sekarang diterapkan dengan pembaharuan dari kurikulum sebelumnya, menyempurnakan dan melengkapi. Kurikulum yang berbasis karate ini guna untuk mengembalikan karakter bangsa yang dirasa sudah mulai terkikis. Seperti yang ada dalam tamansiswa bangsa akan besar jika tidak kehilangan kepribadianya. Ajaran tamansiswa perlulah diterapkan dalam pembelajaran guna tercapainya tujuan pendidikan. Mengingat adanya kurikulum baru yang berbasis karakter berkaitan dengan ajaran tamansiswa yang kini sudah mulai terlupakan.
Kata kunci: kurikulum 2013, AjaranTamansiswa
Abstract: Education is the process of humanizing. Speaking of education do not forget with Mr. Ki Hadjar Dewantara's education with his Tamansiswa teachings. To achieve it in full, need the right education curriculum. Curriculum of 2013 is a curriculum that is now applied with renew, enhance and complement  from the previous curriculum. This character-based curriculum to restore the nation’s character that has begun to erode. As in Tamansiswa, the nation would be great if it does not lose his personality. Tamansiswa teachings need to be applied in learning in order to achieve educational goals. Given the new curriculum-based character associated with the Tamansiswa teachings has been started to be forgotten.
Keywords: curriculum of 2013, Tamansiswa teachings


Pendahuluan
Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan kebudayaan  bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1995. Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang system pendidikan Nasional. “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya”.
Secara eksplisit bahwa tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berbicara tentang pendidikan tidak lepas dari peran Bapak pendidikan yaitu Ki Hadjar Dewantara dengan ajaran beliau yang  dikenal dengan ajaran Tamansiswa. Dari ajaran beliau salah satunya sebagai semboyan pendidikan yaitu “Tut Wuri Handayani”. Banyak orang yang melupakan ajaran beliau, padahal dari ajaran beliaulah pendidikan bisa sampai sekarang ini.  Ajaran tamansiswa sangatlah menarik dari segi pengajarannya maupun isinya bagi dunia pendidikan walaupun sekarang ini banyak yang ditinggalkan.
Pendidikan nasional tidak lepas dari yang namanya kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu(Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 Pasal 1). Tujuan ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Oleh sebab itu peran pemerintahlah yang mengatur tentang kurikulum tersebut. Kurikulum harus selalu diperbaharuhi sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan kurikulum yang tepat maka pengajaran akan dapat mencapai tujuan pendidikan nasional. Sekarang ini kurikulum yang baru saja diperbaharuhi adalah kurikulum 2013. Dengan adanya kurikulum baru yang bercirikan saintifik dan tematik dengan tidak lepas dari pengajaran karakter diharapkan dapat mengembalikan jati diri bangsa yang sudah mulai bergeser.
Kemudian setelah mengetahui adanya kurikulum baru perlulah tahu isi dan kandungan kurikulum tersebut dengan ajaran-ajaran tentang pendidikan.  Dalam hal ini system ajaran yang diambil adalah ajaran Tamansiswa yang mana sekarang didalam dunia pendidikan kebanyakan mengkiblatkan pendidikan barat. Keterkaitan kurikulum 2013 dengan ajaran Tamansiswa perlulah dikaji supaya dapat mengetahui nilai-nilai atau ajaran-ajaran  Tamansiswa yang diadopsi didalam kurikulum 2013. Selain itu juga dapat mengetahui sejauh mana ajaran tersebut diadopsi, dengan masih sejalan atau tidak dengan pendidikan yang diterapkan sekarang dengan kurikulum baru tersebut.

Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum pengembangan yang disesuikan dengan kondisi sekarang yang dianggap perlu bagi kaum muda guna sebagai penerus bangsa. Seperti dengan Permendikbud nomor 65 tahun 2013 pasal 1 menyatakan Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah selanjutnya disebut Standar Proses merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mencapai kompetensi kelulusan. Dalam hal ini jelas ditegaskan dalam pembelajaran yang perlu diutamakan adalah proses pendidikan bukan hanya hasil pendidikan yang seperti selama ini dilaksanakan. Seperti yang diperjelas pada pasal 63 ayat 1 butir a dilakukan untuk memantau proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar Peserta Didik secara berkesinambungan.
Landasan kurikulum berdasarkan permendikbud nomor 67 Tahun 2013 dikembangakan atas teori “pendidikan berdasarkan standar’ (standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Kurikulum 2013 menganut pembelajaran yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan pembelajaran di sekolah, dikelas maupun dimasyarakat dengan pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curricum) sesuai latar belakang, karakteristik dan kemampuan awal peserta didik yang dimiliki dan berkembang yang menjadi hasil belajar bagi dirinya dan sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum. Sedangkan struktur kurikulum sendiri yang salah satunya adalah kompetensi inti yang mana Kompetensi Inti-1(KI-1)  merupakan kompetensi inti sikap spiritual, Kompetensi Inti-2(KI-2) merupakan kompetensi inti sikap sosial, Kompetensi Inti-3(KI-3) merupakan kompetensi inti pengetahuan dan Kompetensi Inti-4(KI-4) merupakan kompetensi inti ketrampiran.
Kompetensi adalah seperangkat sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh peserta didik yang termuat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013. Hal tersebut juga diperjelas pada pasal 77C, 77D, 77E, dan 77F yang mana dalam pembelajaran haruslah sesuai dengan silabus yang mana didalamnya salah satunya terdapat kompetensi Inti. Kompetensi Inti meliputi seperti yang dimaksud pada ayat mencakup sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan ketrampilan. Dengan demikian sikap spiritual dan sikap sosial sekarang sedikit ditonjolkan, karena dua hal tersebut yang mempengaruhi karakter dari peserta didik dalam jangka panjang. Penjelaan mengenai pengembangan nilai agama dan moral yang tercantum pasal 77G dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 yakni mencakup perwujudan suasana belajar untuk tumbuh kembangnya berperilaku baik yang bersumber atau berdasar dar nilai agama dan moral dalam konteks bermain. Dari hal itu nilai agama dan moral itu sebagai kunci dari berhasilnya pendidikan yang mengacu pada perilaku peserta didik. Oleh sebab itu keutamaan tersebut menjadi sebuah prioritas demi menyelamatkan bangsa dari krisis moral dan budaya. Kemudian untuk tujuan tersendiri dari pendidikan dari masing-masing kompetensi termuat dalam pasal 77I, 77J, 77K. Dalam tujuan yang sifatnya membangun dari karakteristik para penerus bangsa akan datang yang berkarakter, berbudaya, cerdas dalam intelektual maupun sosial.
Dalam pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013 berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kretivitas, inisiatif, inovasi serta kemandirian yang mana dilaksanakan pembelajaran tematik-terpadu dengan keketerpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar dan lintas keragaman budaya di bangsa ini. Dengan demikian pembelajaran tersebut dapat meningkatkan dari berbagai aspek terutama karakter dan sosial. Adanya hal tersebut pendidikan bukan hanya tempat untuk menuntuk ilmu, akan tetapi merupakan proses pembelajaran dalam segi moral, budaya dan juga sikap. Pembelajaran seperti itu menjadikan sekolah seperti rumah dimana semua aspek kehidupan dapat dipelajari dan didalami sesuai kebutuhan dari dari masing-masing individu peserta didik. Dengan lingkungan sekolah yang didesain seperti lingkungan masyarakat akan membuat dampak positif dimana peserta didik akan belajar penelaah permasalahan dengan pertimbangan baik aspek akademik maupun aspek sosial. Hal tersebut membuat peserta didik lebih aktif dalam berbagai hal menghadapi permasalahan, dengan pendidik sebagai pendamping pembelajaran bukan penguasa pembelajaran. 
Ajaran Tamansiswa
Berbicara tentang tamansiswa kita tidak lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara  yaitu bapak pendidikan Indonesia.  Menurut tamansiswa pendidikan nasional ialah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya  dan ditunjukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat Negara dan rakyatnya agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia diseluruh dunia (Ki Hadjar Dewantara, 2011:15).
Adapun pengertian pendidikan itu sendiri yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya(Ki Hadjar Dewantara, 2011:20).
Dalam usaha pendidikan dan pengajaran, para pengusaha tidak meminta, tetapi memberi (Ki Hadjar Dewantara, 2011:186). 
Dari hal tersebut tujuan dari pendidikan bukan semata-mata pengetahuan akademik sehingga jelaslah harus membangun karakter melalui budipekerti sesuai dengan jiwa kebangsaan menuju kesucian, ketertiban dan kedamaian lahir batin dengan mengembangkan atau memperbaharui yang sudah ada dengan faedah yang baik dan sesui dengan tujuan. Selain itu juga memperhatikan pangkal kehidupan kita yang terus hidup dalam kesenian, peradaban, syarat-syarat agama atau ada kitab-kitab cerita seperti dongeng, babad, dan lainnya yang mana tersimpan dalam beberapa kekayaan batin dari bangsa kita yang harus tetap dijaga. Dalam pembelajaran haruslah didekatkan kepada perikehidupan rakyat agar supaya mereka tidak hanya memiliki  pengetahuan tentang hidup rakyatnya akantetapi agar dapat ikut merasakan ataupun mengalami sendiri dan kemudian tidak hidup terpisah dengan rakyat. Maka seyogyanya mengutamakan cara pondoksystem sebagai alat pemersatukan pengajaran-pengetahuan dengan pengajaran-budipekerti. Pengajaran-pengetahuan sudah selayaknya dibangun setinggi-tinginya, sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya agar anak-anak kelak dapat melaksanakan berkehidupan dengan sebaik-baiknya dengan tidak lepas dari budipekerti yang baik.  Selain itu pendidikan jasmani juga perlu untuk mendatangkan kesehatan, menghaluskan tingkah-laku, memperoleh ketangkasan, ketelitian, ketertiban dan lain sebagainya.  
Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain.  Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Oleh karena itu pendidikan dapat terlaksana di mana saja dan dilaksanakan dalam 3 aspek yakni  keluarga, pendidikan dan masyrakat yang dikenal sebagai Tripusat-pendidikan. Mengingat hal itu dalam pembelajaran didunia pendidikan anak akan dididik dengan cara yang dikenal Momong, Among, dan Ngemong. Itulah dasar pendidikan menurut ajaran tamansiswa dengan cara tidak ada unsur memaksa, walaupun hanya sekedar memimpin kadang-kadang juga tidak perlu dan mencampuri kehidupan si anak jika berada dijalan yang salah. Pendidikan dan pengajaran yang leluhur adalah terkandung dalam kodrat alam. Dasar jiwa merupakan hal yang pokok, dengan keadaan jiwa yang asli menurut kodratnya sendri sebelum ada pengaruh lain dan kemudian berkembang dengan bimbingan pendidikan. Artinya dalam perkembangnya seorang anak sesuai dengan apa yang menjadi jiwanya dengan bimbingan dari seorang pengajar yang akan membentuk pengetahuan yang sesuai dengan dirinya dengan tidak mengesampingkan baik buruknya maupun benar salahnya.
            Pendidikan berkuasa untuk mengalahkan dasar-dasar dari jiwa manusia , baik dalam arti melenyapkan dasar-dasar yang jahat maupun dalam arti neutraliseeren (menutupi, mengurangi) tabiat yang kahat atau yang tidak bisa lenyap sama sekali karena sudah melekat dalam jiwa. Dalam hal ini budipekerti, watak atau karakter akan mempengaruhi bersatunya gerak fikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan yang kemudian menimbulkan tenaga semangat baru. Jika  kecerdasan budi itu sungguh baik maka dapat mengadakan budipekerti yang baik dan kokoh, hingga dapat mewujudkan kepribadian dan karakter. Dalam hal ini pembelajaran karakter diutamakan. Proses pembelajaran yang bermuatan pendidikan karakter itu dapat kita implementasikan dari ajaran pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara melalui Trilogi Pendidikan yang diajarkannya, yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Arti dari semboyan Trilogi pendidikan ini adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa, ide dan semangat ), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik).
Kemudian dalam hal agama dalam sekolah menurut Ki Hadjar Dewantara(2011:189) diatur sebagaimana tiap-tiap guru dan murid bebas menganut agama yang dipercayai dan saling menhormati yang dimasukan dalam ethik (budi-pekerti). Dalam pembelajaran bolehlah mengajarkan tentang keagamaan tanpa adanya unsur paksaan. Jangan menyatukan, apa yang tidak mungkin disatukan dan jangan menyatukan, apa yang tidak perlu disatukan, begitulah aspek landasan dalam pembelajaran dalam sekolah.

Keterkaitan kurikulum 2013 dengan ajaran tamansiswa
Berdasarkan permendikbud nomor 67 Tahun 2013, kurikulum 2013 menganut pembelajaran yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan pembelajaran di sekolah, di kelas maupun di masyarakat dengan pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curricum) sesuai latar belakang, karakteristik dan kemampuan awal peserta didik yang dimiliki dan berkembang yang menjadi hasil belajar bagi dirinya dan sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurukulum. Dalam pembelajaran tersebut selaras dengan  pertama yaitu tripusat-system dimana proses pembelajaran berawal dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Dijelaskan diatas tentang pendidikan dikembangkan di sekolah kemudian juga di masyarakat dengan memperhatikan latar belakang maupun kemampuan awal yang sudah diperoleh dari keluarga masing-masing. Yang kedua berkembang dengan karakteristiknya merupakan aplikasi dari ajaran tamansiswa yakni kodrat alam dimana anak berkembang sesuai dengan kodratnya dari segi karakteristik maupun sifatnya. Itu juga didukung dengan pasal 19 ayat 2 butir pertama tentang siswa berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya.
 Seperti yang terkandung dalam permendikbud No. 67 tahun 2013 yang berisi tentang pembelajaran yang berpusat di peserta didik dengan interaksi lebih dari dua arah yang mana pendidik sebagai pembimbing bukan sebagai penguasa pengajaran. Hal tersebut sangat berkaitan dengan ajaran tamansiswa yaitu Momong, Among dan Ngemong dimana didalamnya tidak ada unsur paksaan dengan hanya mengarahkan perkembangan peserta didik sesuai dengan kodratnya. Pendidik yang dimaksud dalam ajaran ini bisa diibaratkan seperti ibu yang mengasuh anaknya dimana peserta didik agar lebih aktif, mandiri dan bersosial dengan pendidik sebagai fasilitator.
Kemudian dalam permendikbud No. 67 tahun 2013 juga disebutkan pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Hal itu juga tecantum dalam ajaran taman siswa yang berisikan segala pengajaran hendaklah senantiasa mengutamakan kefaedahan kebudayaan dan kemasyarakatan (Ki Hadjar Dewantara,2011:142). Usaha kebudayaan harus menuju kearah kemajuan adab, budaya dan persatuan bangsa, dengan tidak menolak bahan-bahan dari kebuyaan asing, yang dapat memperkembang atau memperkaya kebudayaan sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia(Ki Hadjar Dewantara,2011:198). Dengan demikian permendikbud diatas selaras dengan Tamansiswa  yang mana menjadi pintu umum pendidikan kebudayaan bagi kurikulum 2013.
Kemudian isi dari Kompetensi Inti yaitu Kompetensi Inti-1(KI-1)  merupakan kompetensi inti sikap spiritual. Ajaran Tamansiswa memasukan tentang keagamaan sebagai ethik(budhi-pekerti) dimana didalamnya  tidak ada unsur paksaan ataupun diberi keleluasan untuk memeluk dan menjalankan sesuai dengan kepercayaan masing-masing dimana saling menghormati apabila ada perbedaan keyakinan(Ki Hadjar Dewantara,2011:189). Kompetensi Inti-2(KI-2) merupakan kompetensi inti sikap sosial, yakni tentang berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru maupun masyarakat. Seperti syarat-syarat pengetahuan menurut Ki Hadjar yakni ilmu keadaan atau kesopanan, ilmu keindahan atau ketertiban-lahir dan ilmu tambo pendidikan atau ikhtisar cara-cara pendidikan (2011:27). Ketertiban telah dijelaskan oleh Ki Hadjar dalam fahamnya mengenai pedoman untuk keteriban dalam pembelajaran dengan tercapainya jiwa selamat dan bahagia(2011:402). Sedangkan kedisiplinan sendiri dijelaskan merupakan sebuah suatu aturan budipekerti yang termuat dalam suatu kumpulan manusia guna menjaga kesatuan dengan mempertimbangkan kemerdekaan pribadi sebelum menerima kedisiplinan tersebut, jika nanti menerima kedisiplinan itu akan menguntungkan atau mengmerugikan kesatuan diri ataupun kesatuan(Ki Hadjar Dewantara,2011:454). Dengan demikian kedisiplinan sangat berkaitan dengan budhipekerti dimana akan menentukan suatu parameter kedisiplinan dalam suatu masyarakat.   Kompetensi Inti-3(KI-3) merupakan kompetensi inti pengetahuan dengan pembelajaran yang aktif dengan menelaah dan juga mendiskusikan permasalahan yang ada baik dalam dirinya, sekolah mupun linggkungan itu termuat dalam ajaran tamansiswa yang mana sudah dijelaskan sebelumnya mengenai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Kompetensi Inti-4(KI-4) merupakan kompetensi inti ketrampiran yang mana peserta didik dengan aktif memberikan apa yang telah diperoleh sesuai pemikiran atau ide sendiri dengan pengawasan dari pendidik dimana peranya hanya sebagai fasilitator dengan tidak mengindahkan dari budipekerti yang mana akan membentuk suatu karakter. Dalam pengajaaran yang membuahkan ketrampilan dengan dididik yakni merasa bersama-sama hidup, bersama-sama susah dan senang, bersama-sama tnggung jawab apa yang telah menjadi buah pemikirannya  yang dimulai kekeluagaan sekecil-kecilnya sampai kekeluargaan yang sebesar-besarnya, misalnya kekeluargaan bangsa-bangsa (Ki Hadjar Dewantara,2011:139).
Kemudian dalam kurikulum 2013 juga tidak lepas dari Trilogi Kepemimpinan yang mana dalam pembelajrannya setiap pendidik harus mempunya hal tersebut guna tercapainya tujuan kurikulum 2013 yang berbasis karakter. Trilogi Kepemimpinan tersebut yaitu Ing ngarso dari bahasa jawa yang artinya berada di depan, sedangkan sung tulodo artinya memberi contoh jadi guru sebagai ‘tokoh sentral’ bagi anak didik haruslah menjadi contoh bagi murid-muridnya, sebab dengan keteladanan itu maka karakter religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, cinta damai, peduli sosial, dan karakter lain tentu akan berkembang dengan baik. Ing madya mangun karsa berarti di tengah-tengah membina kehendak, kemauan dan hasrat untuk mengabdikan diri kepada kepentingan umum, kepada cita-cita yang luhur. Tut wuri handayani yaitu di belakang/mengikuti dia harus menjadi motivator/pendorong semangat anak didiknya atau seorang guru harus mampu mengarahkan dan memotivasi peserta didik agar dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
Penutup
Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan kebudayaan  bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1995. Pendidikan nasional tidak lepas dari yang namanya kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang dikembangkan dari kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini dikembangkan yang berdasarkan pada pengembangan karater dengan pedoman pembelajaran tematik yakni mengkaitkan lebih dari satu satuan pembelajaran menjadi satu. Tujuan dari kurikulum 2013 untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki keampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Dengan tujuan kurikulum 2013 tersebut tidak lepas dari ajaran-ajaran Ki Hadjar Dewantara yang dikenal dengan ajaran Tamansiswa.  Diantaranya tripusat-system dimana proses pembelajaran berawal dari keluarga, sekolah dan masyarakat yang merupakan pokok dari pendidikan. Selain itu juga sebagai pelaksana pendidikan tidak meminta akantetapi memberi dengan metode Momong, Among, dan Ngemong yang mana peserta didik diberi kebebasan berfikir tanpa ada unsur paksaan sesuai kodrat alam yang ada dalam dirinya dengan peran pendidik sebaigai fasilitator dimana mengarahkan apabila ada kesalahan pemahaman taupun ketidak benaran mengenai apa yang menjadi seharusnya. Kemudian pendikan tidak lepas dari Trilogi Kepemimpinan yaitu Ing Ngarso Sung Tulada(yang didepan member contoh), Ing Madyo Mangun karsa (ditengah member semangat ataupun apresiasi), dan Tut Wuri Handayani(di belakang member dorongan).
Jadi kurikulum 2013 yang becirikan atau berbasis karakter yang merupakan pengembangan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya itu secara isi maupun esensi tidak lepas dari ajaran Tamansiswa.

Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terimakasih  atas bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat menyelesaikan artikel ini. Secara khusus saya mengucapkan terimakasih kepada Denik Agustito, S.Si.,M.Sc. yang telah membantu demi lancarnya tulisan ini dapat terselesaikan. Atas bantuan semua pihak saya hanya bisa mendoakan semoga Alloh memberikan balasan yang sebesar-besarnya. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang Ajaran Tmansiswa berkaitan dengan kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran.
Daftar Pustaka
Dewantara, Ki Hadjar.2011.Bagian Pertama Pendidikan.Yogyakarta:Yayasan Persatuan Tamansiswa(anggota IKAPI)
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 Tahun 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 71 Tahun 2013
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
Warsito D. D. W., Agus. 2013. Proses Pembelajaran Disatuan Pendidikan Berdasarkan Kurikulum 2013. Yogyakarta:Graha Cendekia.







Sunday, May 26, 2019

Aku dan Sebuah Ingatan


Aku bukanlah dia ataupun mereka
Aku juga bukanlah aku
Lantas siapakah aku sekarang
Apakah aku masalalu yang sudah terbuang ditelan bumi
Aku adalah angan yang terlalu tinggi untuk diterbangkan
Aku merupakan berlian di inti bumi yang terlambat di keluarkan
Saat-saat yang lampau..
Aku bangun sebelum ayam berkokok
Aku mandi sebelum embun jatuh
Aku berjalan disaat mereka masih tertidur
Aku duduk di ruangan 6 kali 9
Kemudian aku pulang setelah lama duduk
Ayah ….Ibu…..
Aku bosan
Aku bosan… bosan ..bosan sekali..
Kenapa aku tidak dibiarkan untuk bermain saja
Aku hanya duduk di ruangan dan pulang
Begitu membosankannya hidup ini
Kenapa tidak kerja saja dapat uang dan dipakai buat beli es lilin yang penuh warna warni
Kenapa aku harus sekolah..
Bukanya bapak ibu tidak sekolah sekarang masih bisa hidup..
Aku tersenyum dan menangis mengingat itu semua
Aku tersenyum karena betapa lucunya dulu
Aku menangis krena betapa bodohnya aku berfikaran seperti itu dulu
Saat ini hanya penyesalan yang aku dapat
Kenapa dulu untuk malas utuk sekolah
Kenapa dulu malas belajar
Kenapa buka buku ketika ada PR saja..
Oh tuhan andai saja waktu bisa diulangi lagi
Andai masa kecil ada pengulangan kembali..
Aku mau waktu di ulang lagi..
Agar aku tidak seperti ini..
Aku akan belajar- belajar dan belajar
Dari itu semua baru sekarang aku sadar dan merasakannya
Kenapa penyesalan selalu datang terlambat
Sekarang aku hanya seorang yang penuh dengan berandai-andai
Dengan mimpi-mimpi yang hanya dalam mimpi
Aku dan penyesalan waktu lampau
Ternyata sekolah bukan hanya sekedar sekolah, tetapi jalinan mimpi setiap anak agar bisa menjadi manusia yang lebih baik
Yang belum terlambat maka belajarlah dengan sungguh-sungguh karena akan ada saatnya kamu akan menyadari betapa penting saat sekolah, sebelum kata penyesalan itu datang.
“Hidup tanpa tujuan, bagaikan masakan tanpa garam”
“Keiklasan adalah sebuah kebesaran jiwa”
“Iri dan dengki menunjukan bahwa kita penuh kelemahan”
 Created by : Arif Munandar

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...