Saturday, April 27, 2019

Sepahat Kisah di Garis Batas


Tanah Borneo. Apa yang kalian pikirkan pertama kali ketika mendengar “Tanah Borneo”? Mungkin sama dengan saya, anggapan tentang tanah yang masih asri dengan lebatnya hutan dan adat budaya yang begitu kental, eksotis. Dan di sinilah, saya dan ke-54 teman saya ditugaskan negara untuk menjadi guru SM3T. Kalimantan Barat, tepatnya kami bertugas di “Bumi Sebalo”, Kabupaten Bengkayang. Menginjakkan kaki pertama kali di tanah yang kaya akan hasil bumi Indonesia, rasanya begitu bahagia. “SD Negeri 21 Sepu’u”, adalah sekolah di mana saya bertugas untuk setahun mengajar. Tidak habis untuk membayangkan bagaimana kondisi sekolah, jalan dan masyarakatnya.
Seluas, 8 September 2016. Hari pertama berangkat ke sekolah. Bersiap sepagi itu sudah mandi dan rapi. Hari itu hari Jumat. Saya berangkat dengan memboceng motor kombet (motor modifikasi) Bapak Supono, Kepala SD Negeri 21 Sepu’u. Selama perjalanan saya hanya menebak-nebak lokasi sekolah dan banyak bercerita dengan Bapak. Awal perjalanan melewati jalan aspal, dan saya kira sekolah ada di pinggir jalan. Ternyata, Bapak membelokkan motor beliau ke sebuah simpang dengan kondisi jalan menurun dan aspal hancur. Dan saya masih berpikir, mungkin tidak jauh lagi sampai. Ternyata, di persimpangan jalan tersebut motor kombet Bapak belok masuk ke jalan tanah. Jalan di tengah perkebunan kelapa sawit milik salah satu perusahaan. Iya, dan harapan saya berakhir, sepertinya memang lokasi sekolah masih jauh.
Setelah melewati jalan di tengah kebun kelapa sawit, akhirnya kami masuk ke perkampungan. Lagi-lagi saya menebak, pasti sekolah sudah dekat. Melalui jalan “naik-turun”, akhirnya sampailah kami di satu simpang jalan batu yang menanjak. Jalan yang baru pertama kalinya saya lalui dan semakin menelusuri jalan tersebut, tanjakan dan turunannya sangat mengerikan bagi saya. Ketika Bapak bercerita bahwa “Jalan ini kalau sudah musim hujan datang, payah buat jalan. Tanah kuningnya lengket dan jalan batunya licin sekali. Jadi kalau sudah hujan, saya susah naik ke sekolah.” Terkejut. Begitu beresikonya jalan menuju sekolah jika musim hujan datang.
Seketika rasa takut dan kelelahan muncul saat melewati jalan berbatu, naik-turun, dan berlumpur terhapus sudah dengan sapaan polos dan senyuman manis siswa-siswa SDN 21 Sepu’u. Kebiasaan yang bersahaja, yang tidak selalu aku temui di daerah kota, “Selamat pagi, Pak... Selamat pagi, Bu!”. Setelah memberikan sapaan hangat yang menggembirakan hati saya, mereka berbondong-bondong lari ke arah saya dan Bapak Kepala Sekolah untuk bersalaman. Ternyata, pendidikan karakter mereka sudah tertanam walaupun mereka jauh dari daerah kota. Mereka sudah tahu bahwa saya adalah guru baru untuk setahun ke depan di sekolah mereka. Semangat. Itulah yang saya artikan dari raut muka, lompatan-lompatan kecil, dan tawa ceria mereka. Bahagia yang begitu bermakna, melihat begitu senangnya mereka karena kehadiran saya.
Setiap kali saya sampai di sekolah, sapaan-sapaan itu, senyuman yang menyambut, dan langkah kaki kecil yang berhamburan di halaman sekolah memecahkan rasa lelah selama perjalanan menuju ke sekolah. Iya, tingkah laku anak-anak membuat lelahku menjadi semangat mengajar. Bahkan kadang saya tak peduli, sepatu boot saya sudah terselimut lumpur karena melewati jalan yang tak kering karena hujan di malam sebelumnya. Itulah, lelah tapi yang membahagiakan. Memberikan sedikit demi sedikit pengetahuan kepada mereka dalam keterbatasan. Tidak ada buku atau listrik sekedar untuk menge-charge laptop. Tidak ada peta, yang bahkan ketika saya bertanya tentang negara mereka, mereka menjawab tidak tahu.
Sedikit cerita tentang gambar peta Indonesia tanpa garis lintang dan garis bujur. Saat awal saya mengajar mereka, saya bertanya tempat tinggal, kabupaten, provinsi dan pulau di mana mereka tinggal. Jawaban yang sangat yakin, mereka bisa menjawab semuanya. Hingga akhirnya, saya bertanya “Tahukah kalian bagaimana bentuk Indonesia? Mengapa kalian yang di Kalimantan terpisah dengan Ibu yang di Jawa?”. Dan mereka menjawab tidak tahu gambar pulau-pulau yang berjajar membentuk satu negara yang mereka kenal dengan nama Indonesia. Demi mereka mengetahui tanah air yang mereka tinggali, saya berjanji membawakan gambarnya. Ketika saya bawakan gambar tentang Indonesia, mereka semua heran dan mungkin isi kepala mereka berpikir “Ternyata ini negaraku. Letak di mana aku tinggal”. Dan dengan gambar sederhana yang saya gambar, saya dapat kenalkan mereka dengan pulau lain di Indonesia.
Di sinilah, di daerah seperti ini dengan berbagai kekurangan. Saya harus kreatif mengubah kekurangan dan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar sekolah agar siswa saya belajar dengan suasana dan cara yang baru. Inovasi yang tidak membuat mereka selalu merasa kekurangan. Iya, memanfaatkan potensi alam dan kemampuan mereka adalah cara terbaik membuat proses belajar menjadi bermakna. Ini terlihat, ketika mereka saya ajak belajar sambil bermain di halaman sekolah. Ceria, semangat, dan dapat memahami konsep apa yang pelajari saat itu. Dan menumbuhkan kemauan belajar mereka lebih semangat lagi adalah yang paling utama.
Tak hanya kesan tentang gambar jajaran pulau di Indonesia, tapi juga cerita lain yang menjadi kumpulan kisah di hidup saya. Kisah tentang seikat sayur miding dari siswa. Setiap pagi, sambil menunggu saya datang, mereka mencari sayur miding di hutan samping sekolah. Dan ketika saya tiba di sekolah, dua orang siswa menyusul masuk ke kantor guru dengan membawa seikat besar daun miding untuk saya. Ketika saya menerima sayur itu dan mengucapkan terima kasih, mereka memberikan berkata, “Ibuu..., kami bah bu yang terima kasih ke Ibu. Setiap hari Ibu pergi ke sekolah untuk mengajar kami di sini. Sampai-sampai Ibu harus tumbang berkali-kali. Ibu, tidak usah pulang ke Jawa yah... Ajar kami terus saja bu di sini!” pesan singkat yang ingin mereka sampaikan melalui seikat sayur miding.
Bahkan, kondisi jalan yang seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, terabaikan dengan semangat siswa-siswa saya berangkat ke sekolah. Tak hanya kondisi sekolah yang tidak memiliki buku dan listrik, namun juga kurangnya guru pengampu kelaslah yang menjadi masalah besar. Setiap kali saya dan satu guru lainnya harus mengajar penuh semua kelas. Tidak efektif. Mungkin ini, realita yang pernah saya lihat videonya dan mendengar ceritanya dari alumni SM-3T sebelumnya. Sedih rasanya, bukan karena lelah mengajar lima sampai enam kelas, tapi kesedihan karena siswa-siswa tidak mendapat hak selayaknya dalam proses belajar. Beberapa kali orang tua siswa pun meminta agar saya tidak kembali ke Jawa setelah nanti setahun pengabdian.
Berlipat kenangan yang menjadi kisah yang mengisi kehidupan saya tentang siswa-siswa Sepu’u, tentang pendidikan di Tanah Borneo. Lipatan kenangan itu mau tak mau harus saya rengkuh kuat-kuat ketika setahun pengabdian usai. Menyimpannya rapi-rapi di bagian hati yang sudah dikosongkan untuknya. Pelukan kecil dan air mata yang tulus dari anak-anaklah bekal saya meninggalkan sekolah tersebut. Sesekali celetuk kecil dari mereka sebelum saya benar-benar tak lagi datang ke sekolah, “Ibu, terima kasih untuk semuanya. Hati-hati di jalan ya Ibu.” Menahan air mata di hadapan mereka, dan berpura-pura saya guru yang sempurna, tapi memang tak bisa ditahan lagi cucuran air mata.
Tiga hari sudah di Jawa, handphone saya menjadi sering berdering. Iya, orang tua atau siswa saya sering menghubungi saya. Mereka bilang sedih karena tidak ada guru lagi yang mengajar. Seperti yang diceritakan salah satu orang tua siswa, ”... Iya bu, anak-anak setiap kali sampai di sekolah hanya bermain, setelah itu menunggu-nunggu tidak ada guru yang mengajar mereka. Mereka menangis karena tidak dapat belajar lagi seperti biasanya”. Bahkan, saat tanggal 24 Agustus (jadwal pesawat saya pulang ke Jawa), hamburan kaki kecil mereka berkumpul di halaman sekolah. Ketika itu, ada pesawat melintas di atas langit Dusun Sepu’u, dan mereka melambaikan tangan mereka seolah sedang memberikan salam selamat tinggal untuk saya, dan mungkin anggapan mereka ada saya di pesawat tersebut yang melihat mereka melambaikan tangan. Sambil menangis mereka berkata, “Itu pesawat Bu Galuh. Selamat tinggal Ibu... jangan lupakan kami!” Itulah yang diceritakan oleh orang tua siswa saat menelpon saya.
Betapa mereka menerima saya menjadi guru mereka. Dan berharap ada pengganti yang mampu mengajar mereka lagi seperti biasanya. Itulah salah satu gambaran pendidikan di daerah tertinggal Indonesia yang benar-benar sangat perlu diperhatikan. (oleh Caturini Galuh Prameswari, S.Pd.)

No comments:

Post a Comment

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...