Tuesday, July 30, 2019

Sulit Terlewati Tetapi Mengena di Hati "Sepenggal kisah pengabdian, sebuah perjalanan menembus hutan Kalimantan"


Borneo memang merupakan pulau yang kaya, kaya akan budayanya, etnis Dayak dan Melayunya, serta hutan belantara dan seisinya. Hai Indonesia, perkenalkan, sebuah kabupaten yang baru mekar beberapa tahun silam, Kabupaten Bengkayang. Ya, kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Kota Singkawang dan Kabupaten Landak, di sini lah saya bertugas selama satu tahun tepatnya di Kecamatan Suti Semarang. Kecamatan ini merupakan kecamatan baru, pemekaran dari Kecamatan Ledo. Kecamatan tempat saya bertugas merupakan penghasil “sahang” (merica/ lada) yang terkenal di Kabupaten Bengkayang dan ini masih merupakan bagian dari tanah air  kita, Indonesia. Di kecamatan ini memiliki potensi alam yang luar biasa namun akses jalan menuju kecamatan ini memang sulit terlewati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa trans pedalaman Kalimantan memang berbeda dan “istimewa”, begitu pun Suti Semarang bagi saya pribadi memang sangat istimewa karena untuk mencapainya diperlukan kesabaran dan kekuatan jiwa  dan raga serta alamnya yang masih asri, sepi, hutan yg luas dan seisinya membuat hati dan pikiran tentram. Di kecamatan yang terkenal jalan berlumpur dan sahang inilah saya ditugaskan, tercatat sejak tanggal 5 September 2016. Kecamatan Suti Semarang termasuk dalam 3 besar kecamatan yang terpelosok dan terkenal dengan akses jalan yang cukup sulit untuk ditempuh se-Kabupaten Bengkayang, bagaimana tidak? Untuk sampai di kecamatan ini harus menembus hutan belantara karena memang kecamatan ini terletak “di dalam hutan”. Untuk sampai di Suti dapat ditempuh dengan dua jalur, yakni jalur air dan jalur darat. Kedua jalur ini sama-sama menembus hutan. Sebelum sampai ke “steher” atau dermaga, orang gunung Desa Suti harus menempuh jalur darat terlebih dahulu dengan waktu tempuh 30 menit jika jalan kering dan bisa sampai 2 jam jika belum profesional mengendarai motor dengan jalan berlumpur ala Suti Semarang di musim hujan.
Kenapa dinamakan jalur air? Untuk sampai di Suti, menempuh jalur air berarti melewati sungai menembus hutan. Penduduk biasa menggunakan “motor air” atau perahu sampan sebagai alat transportasi mereka. Perahu sampan ini cukup panjang namun tidak begitu lebar, karena hanya muat dua orang saja jika duduk berjajar. Perjalanan via sungai Sambas ini untuk menuju ke kabupaten memerlukan waktu kurang lebih 4 jam lamanya untuk “ilir” (menuju) ke kota dan kurang lebih 6 jam untuk “mudik” (kembali) ke pedalaman (Suti). Lamaya perjalanan tergantung pada pasang surutnya air sungai, jika air sungai sedang tinggi maka untuk ilir biasanya akan lebih cepat bahkan tidak sampai 4 jam begitu pun dengan mudiknya akan pas 6 jam waktu tempuhnya. Namun jika air surut, baik ilir maupun mudik akan memerlukan waktu tempuh yang cukup lama karena harus mengangkat perahu sampannya dan biasanya penumpang akan ikut turun basah-basahan untuk mengangkat perahu. Budget yang harus dikeluarkan untuk membayar perahu ini adalah Rp 50.000,00 per orang itupun hanya sampai di Kecamatan Ledo saja, untuk sampai ke kabupaten harus melanjutkan naik oto atau bus dengan budget Rp 20.000,00 dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan melewati jalan berkelok-kelok. Walaupun begitu, perjalan via jalur ini adalah perjalanan yang santai dan tidak menguras banyak tenaga dan emosi karena sepanjang perjalanan kita hanya duduk saja dan menikmati pemandangan sungai di tengah rimbunnya hutan tropis seisinya khas Borneo, bahkan kita bisa tidur jika kita mengantuk.
Lalu seperti apakah jalur darat? Kalian pernah melihat kejuaraan motor trail? Ya kurang lebih seperti itu lah jalur darat. Sebenarnya menurut saya jalur darat ini jalan yang dilalui lebih mirip jalur pendakian ketika mendaki gunung karena jalannya yang nyaris setapak untuk keluar dari hutan Suti. Bagi yang suka tantangan yang memacu adrenalin dan menguras emosi jiwa dan raga, jalur darat sangat direkomendasikan. Jalannya yang naik turun dan berlumpur ini membutuhkan ketrampilan mengendarai motor, kesabaran dan taktik cara melewati jalan yang akan dipilih agar tidak tumbang atau motor tertanam di lumpur, bahkan ada jalan seperti jalan tamiya dengan kanan kiri lumpur dimana jalan model seperti ini kontrol keseimbangan sangatlah diperlukan. Jalan tamiya tersebut sengaja dibuat penduduk setempat agar motor tidak tertanam di lumpur jika jalan berlumpur memang betul-betul tidak dapat diatasi. Sama seperti jalur air, jalur darat pun menembus hutan belantara khas Borneo namun waktu tempuh yang diperlukan untuk sampai ke kabupaten memang lebih cepat dibandinkgan melewati jalur air karena lewat jalur darat langsung potong kompas tidak seperti jalur air yang jaraknya menjadi lebih jauh karena mengikuti alur sungai. Waktu tempuh untuk sampai di kabupaten jika jalanan kering hanya 2 jam saja untuk profesional namun jika musim hujan bisa sampai 4 jam karena jalan licin dan harus angkat dorong motor. Jalur darat ini harus menyebrangi tiga sungai karena  memang tidak ada jembatan. Maka dari itu, motor yang digunakan haruslah tinggi dengan ban cakar untuk dapat menyeberangi sungai dan melewati jalan licin dan berlumpur. Budget yang diperlukan untuk jalur darat ini tergolong mahal jika tidak menggunakan motor sendiri karena harus menyewa jasa ojek. Ya, jasa ojek untuk sampai ke kabupaten kurang lebih Rp 250.000,00 jadi PP akan menghabiskan ongkos Rp 500.000,00 lebih mahal dibandingkan dengan motor air (perahu sampan). Namun jika menggunakan motor sendiri kita hanya merogoh kocek untuk uang bensin saja PP Rp 80.000,00 plus badan pegal-pegal belum lagi kostum yang basah dan berlumuran lumpur jika hujan. Menurut saya pribadi, baik jalur darat maupun jalur air mempunyai keseruannya dan kesannya masing-mmasing. Perjalanan yang ditempuh sama-sama membelajarkan bagaimana kesabaran, berbagi, menyingkirkan ego, bersyukur dan menikmati setiap perjalanan begitu pun hidup. Perjalanan Suti-Bengkayang dan sebaliknya membelajarkan saya bahwa perjalanan hidup itu tidaklah mudah dan mulus, kuat lahir dan batinnya seseorang dapat diperoleh dari tempaan pada setiap permasalahan dalam perjalanan hidup. Bahwa hidup itu mempunyai tujuan, jika jatuh bangkitlah kembali walaupun bersimpah lumpur kotor, di perjalanan kamu akan bertemu sungai untuk membasuh lumpur tersebut, walau terjatuh kamu tetap akan bertemu banyak orang baik yang akan menolongmu untuk lanjutkan perjalanan ke tujuan hidup. Bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan dan solusi bersamanya J(oleh Fanny Hadi Setyorini, S.Pd.)

No comments:

Post a Comment

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...