Sunday, July 14, 2019

Guru Garda Depan (Indinesia-Malaysia)


Menjadi seorang guru SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) adalah sebuah panggilan. Dikatakan panggilan karena memang tidak semua orang terpanggil untuk profesi yang selalu disoroti dari sisi kesejahteraannya yang minim ini. Meskipun pada awalnya saya kuliah jurusan pendidikan karena salah jurusan, namun setelah saya jalani, saya mulai mencintai profesi sebagai guru. Saya menikmatinya di mana dengan menjadi guru, saya bisa berbagi ilmu dengan peserta didik saya.
Entah apapun alasannya, kalau seseorang menjadi guru, guru adalah guru. Terpaksa atau tidak, kalau seseorang sudah terjun menjadi guru, pemilihan itu tidak ada lagi. Apalagi menjadi salah satu guru SM3T yang benar-benar terjun ke daerah 3T. Guru-guru yang berada di daerah 3T ini harus mendidik siswa-siswinya dengan segala keterbatasan. Guru-guru di daerah 3T ini harus mampu untuk berpikir dan bertindak kreatif untuk mendidik para peserta didiknya, meskipun dengan segala keterbatasan. SMA N 2 Siding merupakan salah satu sekolah, yang letaknya benar-benar di daerah 3T di mana orang terutama para pendatang harus bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang masih kental dengan adat dan budaya dari leluhur mereka. Akses untuk menuju ke lokasi sangat sulit, dengan jarak tempuh yang cukup lama. Hal ini menyebabkan, tidak banyak guru mau untuk mengajar di SMA N 2 Siding. Maka, pemerintah Kabupaten Bengkayang mengirimkan 3 Guru SM3T ke SMA N 2 Siding. Salah satunya adalah saya, sebagai guru lulusan Pendidikan Ekonomi. SMA N 2 Siding berada di pelosok perbukitan di sebuah desa yang bernama Desa Siding. Desa ini merupakan desa garda depan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. SMA tersebut merupakan sekolah baru dan belum memiliki gedung sendiri, karenanya sekolah pun menginduk di SMP N 1 Siding yang sudah lama berdiri dan sudah memiliki bangunan permanen.
Saya yang merupakan guru lulusan Pendidikan Ekonomi harus mengampu 2 mata pelajaran yaitu ekonomi sekaligus sosiologi. Pada awal perjumpaan saya dengan siswa-siswi SMA N 2 Siding yang hanya berjumlah 9 orang karena merupakan sekolah baru, saya merasa kebingungan, bagaimana cara saya untuk menghadapi mereka, karena saya belum pernah berada dalam kondisi yang serba minim ini. Namun semangat bersekolah mereka cukup tinggi, hal ini terbukti dengan adanya beberapa siswa yang harus berjalan selama 3 jam demi menuju ke sekolah, dan itu ia lakukan setiap hari. Siswa-siswi di sini hampir tidak pernah absen untuk hadir di sekolah. Namun, ketika proses pembelajarannya, motivasi dan minat siswa dalam pembelajaran cenderung kurang. Hal ini terbukti ketika saya mengadakan evaluasi hasil belajar. Hasil pekerjaan mereka sangatkah memprihatinkan. Banyak jawaban-jawaban yang sangat tidak sesuai dengan pertanyaan yang diberikan. Misalnya, di lembar jawab mereka mengisi dengan kata “saya tidak bisa pak” pada setiap pertanyaan yang diberikan. Hal ini membuktikan bahwa minat dan motivasi anak dalam bersekolah, terutama dalam kegiatan belajar sangatlah kurang. Sedangkan seharusnya, untuk anak usia SMA pada umumnya, harus sudah mampu untuk berpikir logis dan kritis dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Namun itulah tantangan bagi saya dalam mendidik generasi penerus bangsa yang berada di tapal batas antara Indonesia dan Malaysia ini.
Masalah lain yang ada di sekolah ini yaitu, banyak siswa yang lebih memilih putus sekolah karena terbujuk oleh tawaran bekerja di Malaysia. Hal ini sudah biasa terjadi, yang menyebabkan jumlah siswa di SMA ini sedikit. Oleh sebab itu, kami sebagai guru SM3T juga bertanggung jawab untuk memberikan motivasi, serta menanamkan jiwa nasionalisme agar tidak mudah terbujuk oleh rayuan negara tetangga. Namun masalah tersebut tidak sepenuhnya kesalahan mereka. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa hal itu terjadi, beberapa faktor tersebut antara lain, karena kemampuan akademik mereka yang rendah, kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan bagi anak, serta jumlah guru yang terbatas menyebabkan banyak jam pelajaran kosong. Hal ini disebabkan karena kebanyakan guru di sana harus pulang pergi dengan kondisi jalan yang sangat susah untuk dilewati, terkadang ketika hari hujan, jalan menjadi licin dan berlumpur menyebabkan guru tidak dapat ke sekolah, karena jalannya tidak dapat dilalui menggunakan kendaraan bermotor.
 Menjadi guru di sana membuat saya memperoleh segudang pengalaman dan pembelajaran hidup yang sangat berarti. Saya menjadi paham dan mengerti bagaimana saya harus survive di tempat yang baru dengan bermacam-macam adat istiadat dari leluhur yang masih dipegang erat oleh warga sekitar. Menjadi seorang guru di tapal batas negeri ini membuat saya merasa bersyukur, saya dapat berbagi ilmu, belajar menghadapi berbagai jenis karakter mereka, bermain dengan mereka, bernyanyi bersama. Saya seperti menemukan keluarga baru di sana, karena kehangatan warga-warga di sana. Saya berharap, para guru di mana pun berada tetap menjadi guru yang baik, tetap percaya bahwa tantangan membuat kita akan menjadi pribadi yang lebih tangguh dan membuat kita selalu mengevaluasi diri agar menjadi guru yang benar-benar profesional dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa.(oleh  Imam Asrofi, S.Pd.)




No comments:

Post a Comment

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...