Menjadi
seorang guru SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan
Tertinggal) adalah sebuah panggilan. Dikatakan panggilan karena memang tidak
semua orang terpanggil untuk profesi yang selalu disoroti dari sisi kesejahteraannya
yang minim ini. Meskipun pada awalnya saya kuliah jurusan pendidikan karena
salah jurusan, namun setelah saya jalani, saya mulai mencintai profesi sebagai
guru. Saya menikmatinya di mana dengan menjadi guru, saya bisa berbagi ilmu
dengan peserta didik saya.
Entah
apapun alasannya, kalau seseorang menjadi guru, guru adalah guru. Terpaksa atau
tidak, kalau seseorang sudah terjun menjadi guru, pemilihan itu tidak ada lagi.
Apalagi menjadi salah satu guru SM3T yang benar-benar terjun ke daerah 3T.
Guru-guru yang berada di daerah 3T ini harus mendidik siswa-siswinya dengan
segala keterbatasan. Guru-guru di daerah 3T ini harus mampu untuk berpikir dan
bertindak kreatif untuk mendidik para peserta didiknya, meskipun dengan segala
keterbatasan. SMA N 2 Siding merupakan salah satu sekolah, yang letaknya
benar-benar di daerah 3T di mana orang terutama para pendatang harus bisa
menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang masih kental dengan adat dan budaya
dari leluhur mereka. Akses untuk menuju ke lokasi sangat sulit, dengan jarak
tempuh yang cukup lama. Hal ini menyebabkan, tidak banyak guru mau untuk
mengajar di SMA N 2 Siding. Maka, pemerintah Kabupaten Bengkayang mengirimkan 3
Guru SM3T ke SMA N 2 Siding. Salah satunya adalah saya, sebagai guru lulusan
Pendidikan Ekonomi. SMA N 2 Siding berada di pelosok perbukitan di sebuah desa
yang bernama Desa Siding. Desa ini merupakan desa garda depan yang berbatasan
langsung dengan Malaysia. SMA tersebut merupakan sekolah baru dan belum
memiliki gedung sendiri, karenanya sekolah pun menginduk di SMP N 1 Siding yang
sudah lama berdiri dan sudah memiliki bangunan permanen.
Saya
yang merupakan guru lulusan Pendidikan Ekonomi harus mengampu 2 mata pelajaran yaitu
ekonomi sekaligus sosiologi. Pada awal perjumpaan saya dengan siswa-siswi SMA N
2 Siding yang hanya berjumlah 9 orang karena merupakan sekolah baru, saya
merasa kebingungan, bagaimana cara saya untuk menghadapi mereka, karena saya
belum pernah berada dalam kondisi yang serba minim ini. Namun semangat
bersekolah mereka cukup tinggi, hal ini terbukti dengan adanya beberapa siswa
yang harus berjalan selama 3 jam demi menuju ke sekolah, dan itu ia lakukan setiap
hari. Siswa-siswi di sini hampir tidak pernah absen untuk hadir di sekolah.
Namun, ketika proses pembelajarannya, motivasi dan minat siswa dalam
pembelajaran cenderung kurang. Hal ini terbukti ketika saya mengadakan evaluasi
hasil belajar. Hasil pekerjaan mereka sangatkah memprihatinkan. Banyak
jawaban-jawaban yang sangat tidak sesuai dengan pertanyaan yang diberikan.
Misalnya, di lembar jawab mereka mengisi dengan kata “saya tidak bisa pak” pada
setiap pertanyaan yang diberikan. Hal ini membuktikan bahwa minat dan motivasi
anak dalam bersekolah, terutama dalam kegiatan belajar sangatlah kurang.
Sedangkan seharusnya, untuk anak usia SMA pada umumnya, harus sudah mampu untuk
berpikir logis dan kritis dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Namun itulah
tantangan bagi saya dalam mendidik generasi penerus bangsa yang berada di tapal
batas antara Indonesia dan Malaysia ini.
Masalah
lain yang ada di sekolah ini yaitu, banyak siswa yang lebih memilih putus
sekolah karena terbujuk oleh tawaran bekerja di Malaysia. Hal ini sudah biasa
terjadi, yang menyebabkan jumlah siswa di SMA ini sedikit. Oleh sebab itu, kami
sebagai guru SM3T juga bertanggung jawab untuk memberikan motivasi, serta menanamkan
jiwa nasionalisme agar tidak mudah terbujuk oleh rayuan negara tetangga. Namun
masalah tersebut tidak sepenuhnya kesalahan mereka. Ada banyak faktor yang
menjadi penyebab mengapa hal itu terjadi, beberapa faktor tersebut antara lain,
karena kemampuan akademik mereka yang rendah, kurangnya kesadaran orang tua
akan pentingnya pendidikan bagi anak, serta jumlah guru yang terbatas menyebabkan
banyak jam pelajaran kosong. Hal ini disebabkan karena kebanyakan guru di sana
harus pulang pergi dengan kondisi jalan yang sangat susah untuk dilewati,
terkadang ketika hari hujan, jalan menjadi licin dan berlumpur menyebabkan guru
tidak dapat ke sekolah, karena jalannya tidak dapat dilalui menggunakan
kendaraan bermotor.
Menjadi guru di sana membuat saya memperoleh
segudang pengalaman dan pembelajaran hidup yang sangat berarti. Saya menjadi
paham dan mengerti bagaimana saya harus survive
di tempat yang baru dengan bermacam-macam adat istiadat dari leluhur yang
masih dipegang erat oleh warga sekitar. Menjadi seorang guru di tapal batas
negeri ini membuat saya merasa bersyukur, saya dapat berbagi ilmu, belajar
menghadapi berbagai jenis karakter mereka, bermain dengan mereka, bernyanyi
bersama. Saya seperti menemukan keluarga baru di sana, karena kehangatan
warga-warga di sana. Saya berharap, para guru di mana pun berada tetap menjadi
guru yang baik, tetap percaya bahwa tantangan membuat kita akan menjadi pribadi
yang lebih tangguh dan membuat kita selalu mengevaluasi diri agar menjadi guru yang
benar-benar profesional dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa.( oleh Imam Asrofi, S.Pd.)
No comments:
Post a Comment