Pemuda adalah salah satu tumpuan dan harapan
bangsa. Masa muda adalah masa terbaik dalam hidup seseorang. Masa di mana seseorang memiliki semangat yang membara
disertai fisik dan pikiran yang sanggup menyamainya. Presiden RI pertama pernah berkata,
“beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air dan aku akan
mengguncang dunia”. Kalimat singkat Bung Karno yang disampaikannya
dengan berapi-api inilah
yang senantiasa mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa dan negara
Indonesia terletak di tangan generasi muda, maka dari itu penulis tidak menyia-nyiakan masa muda.
Menanamkan dalam diri bahwa
dikehidupan yang sekali, haruslah berarti dan dapat berguna bagi kemajuan negeri.
Menjadi guru memanglah cita-cita penulis sejak kecil. Lahir dan
dibesarkan dalam keluarga ataupun lingkungan pendidik yang berada di perumahan
guru Miliran Yogyakarta. Penulis merajut angan dan cita-cita untuk menjadi seorang guru suatu saat nanti. Setelah lulus SMK, penulis memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta dan mengambil jurusan Pendidikan
Guru Sekolah Dasar. Sebuah kampus
yang didirikan oleh bapak pendidikan
Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara.
Kecintaan terhadap keanekaragaman di negeri ini, mulai dari keberagaman bahasa, budaya, suku, dan masih banyak keberagaman lainnya, membuat penulis ingin menjadi guru yang
dapat berkelana sembari menebarkan ilmu kepada semua orang terkhusus di daerah yang dapat dikatakan sebagai daerah 3T (terdepan,
terluar, tertinggal) yaitu di sudut-sudut negeri ini. Alhamdulillah Tuhan mendengar doa dan keinginan yang telah lama di panjatkan. Rasa bahagia menyelimuti perasaan saat mengetahui bahwa penulis lolos menjadi guru SM-3T angkatan ke VI dari LPTK UNY tahun 2016. Keinginan yang telah lama diimpikan sejak duduk di bangku perkuliahan, tepatnya ketika berada di semester enam.
Desa Tangguh merupakan sebuah desa
tempat penulis di tugaskan. Desa yang berada di Kecamatan Siding, Kabupaten
Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat ini termasuk dalam kategori daerah
3T. Sebuah desa yang berbatasan langsung dengan negara
Malaysia. Dibutuhkan waktu 4
jam untuk menempuh jarak dari ibukota kabupaten menuju daerah penugasan. Ekstrimnya medan menuju daerah penugasan yang merupakan perbatasan Indonesia-Malaysia serta jauhnya Desa Tangguh dari kota menjadikan daerah ini bisa dikatakan pelosok sehingga listrik belum tersedia. Sembako mahal dan sebagian besar makanan
di banjiri oleh produk
Malaysia. Mayoritas pemuda-pemudi yang berusia belasan hingga dua puluhan desa ini meningalkan bangku sekolah dan memilih untuk menjadi
TKI di Malaysia. Karena cukup mudah untuk mereka mendapatkan uang dengan berbagai macam “pekerjaan kasar”.
Desa Tangguh yang luasnya sekitar
5157ha ini dihuni sekitar 600 jiwa penduduk. Mayoritas penduduknya adalah
Suku Dayak Bidayuh yang beragama Kristen dan Katholik. Salah satu hal positif yang perlu dicontoh dari hal-hal positif lainya yaitu tentang arti dari Bhinneka Tunggal Ika. Masyarakat Suku Dayak Bidayuh sangat menjunjung tinggi dan menerapkan prinsip tersebut. Sikap saling menghargai yang diterapkan oleh masyarakat membuat keberagaman di sudut Bumi Sebalo ini bukanlah menjadi perbedaan yang
bertentangan. Justru dengan keberagaman tersebut dapat melebur menjadi satu kesatuan yang selaras sehingga memperkaya dan memperindah negeri tercinta Indonesia.
SD Negeri 06 Lawang menjadi
tempat penulis mengabdikan diri
sebagai guru SM-3T. Sekolah
yang berdiri di antara bukit-bukit perbatasan memiliki 86 siswa dengan pengajar berjumlah 3 guru
PNS dan dibantu 2 guru honor. Sekolah ini memiliki
6 ruang kelas, 4 kamar mandi, dan 1 rumah guru. Berbicara tentang siswa-siswa SD Negeri 06 Lawang, mereka selalu memberikan kesan mendalam bagi hidup penulis. Walaupun mereka berada di
perbatasan dengan terbatasnya sarana dan prasarana sekolah ataupun terbatasnya akses jalan menuju sekolah yang jarak tempuhnya sekitar 3 jam berjalan kaki
menuju sekolah dengan menuruni bukit. Akan
tetapi, hal tersebut tidaklah menyurutkan
semangat serta menjadi penghambat siswa-siswi untuk menuntut ilmu. Dengan semangat merekalah yang menjadikan salah satu suntikan semangat bagi
penulis menjadi guru di Pulau Borneo ini.
Sebagai seorang guru di sekolah yang berbatasan langsung dengan Malaysia tentu menjadi tantangan yang berbeda dan tentunya berat dibandingkan dengan guru lainnya yang berada di Pulau Jawa misalnya. Seorang guru di tapal batas haruslah senantiasa dan selalu mengajarkan semangat nasionalisme serta menanamkan jiwa patriotisme kepada siswa yang berada di garda terdepan negeri ini. Untuk senantiasa memupuk rasa cinta, rasa bangga dan rasa untuk menjaga Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Karena keutuhan dan masa depan negeri berada di tangan murid-murid perbatasan.( oleh Rahmat Hidayat,
S.Pd. )
No comments:
Post a Comment