Wednesday, April 10, 2019

Senandung Cita Mutiara Bangsa


Indonesia. Ialah sebuah nama yang terpatri dalam jiwa, sebuah nama yang terukir dalam cita, dan sebuah nama yang kan selalu teriring dalam doa. Negara yang teramat kucinta, yang ingin kutapaki setiap sudutnya dengan segenap kemampuan jiwa raga. Itulah mimpiku tentang Indonesia, mengharumkan nama dan membuatnya bangga dengan kemampuan yang kupunya.
            Terlalu besar mimpi dan harapanku untuk Indonesia, hingga suatu ketika aku bertanya-tanya, “Apa yang bisa kuperbuat untuk Indonesia?”. Terlalu besar inginku hingga aku berpikir keras mencari cara bagaimana aku bisa membuat bangsaku menjadi sedikit lebih maju dengan keberadaanku sebagai generasi penerus yang punya tanggung jawab besar terhadap masa depan bangsa. Setidaknya, keberadaanku di dunia ini membawa manfaat untuk negara. Meskipun hanya dengan hal kecil, tapi aku akan berusaha mengupayakannya.
            Guru, ialah salah satu titianku mewujudkan mimpi besarku untuk Indonesia. Mungkin hanya sebatas kata yang terucap apabila terlintas tanya, “Apa cita-citamu?”. Entah siapa yang menuntun, perlahan kata itu kini mulai menjadi cita dan pengharapanku. Sebuah kata yang perlahan ingin aku wujudkan, bukan hanya sebatas mimpi namun kenyataan.
Menjadi guru di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) merupakan sebuah tantangan besar bagiku. Besar bukan berarti berat karena arti kata berat itu tergantung bagaimana kita menjalaninya. Menjadi guru di daerah dengan segala keterbatasan merupakan suatu amanah yang harus dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Namun, hatiku selalu tergerak untuk bisa mengemban tugas mulia itu. Karena aku yakin, menjadi guru adalah sebuah tugas sekaligus ibadah. Mengamalkan ilmu yang dimiliki menjadi ilmu yang bermanfaat untuk orang lain merupakan salah satu amalan yang tidak akan terputus. Begitulah kiranya agama mengajarkan, sehingga sedikitpun tak pernah terpatahkan semangatku untuk tetap menjalaninya.
Monterado, ialah sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Dari sini lah kisahku bermula. Tempat di mana aku melakukan perjalanan yang cukup singkat karena hanya dalam waktu satu tahun. Namun, perjalanan singkat ini terisi dengan beragam pengalaman yang tak akan pernah terlupakan sepanjang masa. Perjalanan singkat yang membawa perubahan dalam hidupku terutama pola pikir dan gaya hidup.
Menjadi salah satu pengajar di SMP N 6 Monterado merupakan pengalaman yang tak terbeli dengan harga berapa pun. Dari sini aku mendapat pelajaran hidup yang luar biasa. Mulai dari sekolah masuk sore karena belum adanya gedung, kurangnya tenaga pendidik, dan keterbatasan fasilitas yang mendukung kegiatan pembelajaran. Awalnya aku belum bisa menerima keadaan, akan tetapi seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa bahkan merasa nyaman dengan kondisi yang demikian. Semua itu karena faktor anak didik dan masyarakat di lingkungan tempatku bertugas yang menerima keberadaanku dengan baik.
 Satu hal yang sangat aku kagumi dari anak-anak. Mereka sangat hormat kepada guru. Setiap kali berangkat mengajar atau berpapasan di jalan, anak-anak dan warga masyarakat selalu menyapa, “Selamat pagi, Bu Guru!” atau “Mau kemana, Bu Guru?”. ‘Bu Guru’, itulah panggilan sekaligus tanda penghormatan yang mereka berikan untukku. Sungguh luar biasa gembira aku mendapatkan julukan itu. Namun, masih selalu terngiang pertanyaan dalam benak, “Sudah pantaskah aku mendapat julukan bu guru?” Terasa seperti mimpi saja aku mendapat predikat guru, karena menjadi guru merupakan suatu cita yang baru saja kuawali perjalanannya. Tanda penghormatan itu tentu tak hanya sebatas julukan saja, tapi beriringan dengan beratnya tanggung jawab yang terselip di dalamnya.
Keterbatasan tenaga pengajar merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi sekolah tempatku bertugas. Di sekolah itu hanya terdapat kepala sekolah dan dua guru honorer. Meskipun baru dibuka atau baru tahun pertama dimulai, sekolah tersebut memiliki cukup banyak murid. Keterbatasan tenaga pengajar ini menyebabkan satu guru mendapat tugas mengajar empat mata pelajaran. Di sekolah itu, aku mendapat tugas mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, TIK, dan Agama Islam. Ini merupakan tantangan besar bagiku, harus mengajar tiga mapel yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikanku yaitu pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Dari sini aku dituntut untuk mampu menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabku karena di sini aku tidak hanya mengajar tetapi juga masih harus belajar bidang ilmu lain.
Mengajar bahasa Inggris merupakan satu hal yang sangat luar biasa sekaligus menjadi tantangan besar bagiku. Mereka sama sekali belum pernah mendapatkan pelajaran bahasa Inggris di tingkat pendidikan sebelumnya, sehingga aku harus mengajari mereka dari nol. Ini merupakan tanggung jawab besar namun sekaligus bentuk kebanggaan tersendiri karena menjadi yang pertama mengenalkan pada mereka bahasa Inggris. Terkadang saya merasa kesulitan bahkan hampir putus asa mengajari mereka, namun antusias belajar mereka yang cukup tinggi membuat semangatku bangkit lagi. Rasa bangga itu pun hadir ketika mereka tak lagi belajar bahasa Inggris denganku karena adanya guru pengganti dari mahasiswa PPL sebelum masa tugasku selesai. Dengan bangganya mereka mengatakan padaku, “Bu, kami sudah pandai bahasa Inggris.” Seringkali mereka menyapa dan memberi salam dengan bahasa Inggris. Dalam hati merasa bangga dan bersyukur karena ilmu yang saya berikan selalu mereka ingat dan terapkan dalam kehidupan. Rasa haru pun muncul ketika acara perpisahan, mereka mempersembahkan sebuah lagu bahasa Inggris yang pernah kuajarkan kepada mereka.
Satu hal lagi yang membuat hatiku tersentuh. Dua anak yang merupakan kakak beradik tidak masuk sekolah ketika awal tahun ajaran baru dimulai. Bahkan kepala sekolah pun membujuk mereka untuk tetap masuk sekolah dengan dalih akan dicarikan bantuan asalkan tetap masuk sekolah. Hingga akhirnya mereka pun bersedia masuk sekolah. Ketika pelajaran, mereka kutanya perihal alasan tidak masuk sekolah. Dengan polosnya mereka menjawab, “Saya ikut kerja dompeng, Bu. Saya tidak punya sepatu.” Hatiku terpukul mendengar jawaban anak itu. Sungguh kerasnya kehidupan mereka, hingga untuk memenuhi kebutuhan sekolah saja mereka harus berusaha dengan jerih payah sendiri.
Perlu diketahui, daerah di mana aku bertugas terkenal dengan kawasan penghasil tambang emas. Dahulu, daerah ini sangat ramai karena banyaknya tambang emas di kawasan tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu barang tambang itu mulai menurun dan kini yang ada hanyalah sisa-sisa belaka. Tak sedikit anak yang ikut kerja mendulang emas setelah pulang sekolah, bahkan sampai tidak masuk sekolah. Tak hanya itu, ada juga anak yang sering terlambat sekolah dengan alasan bangun kesiangan karena harus kerja noreh getah pohon karet pada malam harinya. Bagian yang perlu digarisbawahi adalah semangat mereka yang besar untuk tetap ikut sekolah meskipun harus melawan keterbatasan.
Masih banyak lagi cerita yang mungkin takkan pernah cukup tertuang hanya dalam lembaran kertas saja. Aku dan anak-anak tak ubahnya sebuah hukum alam, ialah simbiosis. Mereka belajar dariku, aku pun belajar dari mereka. Aku benar-benar merasakan “Bhineka Tunggal Ika” dalam realita, bukan hanya sebatas kata yang tertulis dalam pita di bawah cengkeraman burung garuda. Aku merasakan hangatnya berada di tengah-tengah perbedaan. Kini, kata “menghargai” bukan lagi sebatas teori, tapi benar-benar kualami lewat eksistensi diri. Tentang bagaimana caraku bertahan menjadi “minoritas”, belajar melebur diri di tengah perbedaan dengan tetap berpegang pada prinsip hidup dan agama.
Anak-anak adalah semangat dan bahagiaku. Canda dan tawa mereka adalah obat penawar rindu akan sanak saudaraku di luar sana. Kesedihan mereka adalah air mata dukaku. Tak hentinya aku kobarkan semangat kepada mereka untuk tetap menjadi orang hebat. Menjadi bagian penting dalam putaran roda kehidupan negara ini. Kisah hidup dan perjuanganmu adalah syair senandung cita yang kelak akan kalian persembahkan untuk ibu pertiwi. Jadilah mutiara-mutiara penghias persada. Kebanggaan ibu pertiwi ada di tangan kalian.(oleh Rahma Nur Fitriana, S.Pd. )

No comments:

Post a Comment

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...