Indonesia. Ialah sebuah nama yang terpatri
dalam jiwa, sebuah nama yang terukir dalam cita, dan sebuah nama yang kan
selalu teriring dalam doa. Negara yang teramat kucinta, yang ingin kutapaki
setiap sudutnya dengan segenap kemampuan jiwa raga. Itulah mimpiku tentang
Indonesia, mengharumkan nama dan membuatnya bangga dengan kemampuan yang
kupunya.
Terlalu
besar mimpi dan harapanku untuk Indonesia, hingga suatu ketika aku bertanya-tanya,
“Apa yang bisa kuperbuat untuk Indonesia?”. Terlalu besar inginku hingga aku
berpikir keras mencari cara bagaimana aku bisa membuat bangsaku menjadi sedikit
lebih maju dengan keberadaanku sebagai generasi penerus yang punya tanggung
jawab besar terhadap masa depan bangsa. Setidaknya, keberadaanku di dunia ini
membawa manfaat untuk negara. Meskipun hanya dengan hal kecil, tapi aku akan
berusaha mengupayakannya.
Guru,
ialah salah satu titianku mewujudkan mimpi besarku untuk Indonesia. Mungkin
hanya sebatas kata yang terucap apabila terlintas tanya, “Apa cita-citamu?”.
Entah siapa yang menuntun, perlahan kata itu kini mulai menjadi cita dan
pengharapanku. Sebuah kata yang perlahan ingin aku wujudkan, bukan hanya
sebatas mimpi namun kenyataan.
Menjadi guru di daerah 3T
(Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) merupakan sebuah tantangan besar bagiku.
Besar bukan berarti berat karena arti kata berat itu tergantung bagaimana kita
menjalaninya. Menjadi guru di daerah dengan segala keterbatasan merupakan suatu
amanah yang harus dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Namun,
hatiku selalu tergerak untuk bisa mengemban tugas mulia itu. Karena aku yakin,
menjadi guru adalah sebuah tugas sekaligus ibadah. Mengamalkan ilmu yang
dimiliki menjadi ilmu yang bermanfaat untuk orang lain merupakan salah satu amalan
yang tidak akan terputus. Begitulah kiranya agama mengajarkan, sehingga
sedikitpun tak pernah terpatahkan semangatku untuk tetap menjalaninya.
Monterado, ialah sebuah
kecamatan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Dari sini lah kisahku
bermula. Tempat di mana aku melakukan perjalanan yang cukup singkat karena
hanya dalam waktu satu tahun. Namun, perjalanan singkat ini terisi dengan
beragam pengalaman yang tak akan pernah terlupakan sepanjang masa. Perjalanan
singkat yang membawa perubahan dalam hidupku terutama pola pikir dan gaya
hidup.
Menjadi salah satu
pengajar di SMP N 6 Monterado merupakan pengalaman yang tak terbeli dengan
harga berapa pun. Dari sini aku mendapat pelajaran hidup yang luar biasa. Mulai
dari sekolah masuk sore karena belum adanya gedung, kurangnya tenaga pendidik,
dan keterbatasan fasilitas yang mendukung kegiatan pembelajaran. Awalnya aku
belum bisa menerima keadaan, akan tetapi seiring berjalannya waktu aku mulai
terbiasa bahkan merasa nyaman dengan kondisi yang demikian. Semua itu karena
faktor anak didik dan masyarakat di lingkungan tempatku bertugas yang menerima
keberadaanku dengan baik.
Satu hal yang sangat aku kagumi dari
anak-anak. Mereka sangat hormat kepada guru. Setiap kali berangkat mengajar
atau berpapasan di jalan, anak-anak dan warga masyarakat selalu menyapa,
“Selamat pagi, Bu Guru!” atau “Mau kemana, Bu Guru?”. ‘Bu Guru’, itulah
panggilan sekaligus tanda penghormatan yang mereka berikan untukku. Sungguh
luar biasa gembira aku mendapatkan julukan itu. Namun, masih selalu terngiang
pertanyaan dalam benak, “Sudah pantaskah aku mendapat julukan bu guru?” Terasa
seperti mimpi saja aku mendapat predikat guru, karena menjadi guru merupakan
suatu cita yang baru saja kuawali perjalanannya. Tanda penghormatan itu tentu
tak hanya sebatas julukan saja, tapi beriringan dengan beratnya tanggung jawab
yang terselip di dalamnya.
Keterbatasan tenaga
pengajar merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi sekolah tempatku
bertugas. Di sekolah itu hanya terdapat kepala sekolah dan dua guru honorer.
Meskipun baru dibuka atau baru tahun pertama dimulai, sekolah tersebut memiliki
cukup banyak murid. Keterbatasan tenaga pengajar ini menyebabkan satu guru
mendapat tugas mengajar empat mata pelajaran. Di sekolah itu, aku mendapat
tugas mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, TIK, dan Agama
Islam. Ini merupakan tantangan besar bagiku, harus mengajar tiga mapel yang
tidak sesuai dengan latar belakang pendidikanku yaitu pendidikan bahasa dan
sastra Indonesia. Dari sini aku dituntut untuk mampu menjalankan tugas yang
menjadi tanggung jawabku karena di sini aku tidak hanya mengajar tetapi juga masih
harus belajar bidang ilmu lain.
Mengajar bahasa Inggris
merupakan satu hal yang sangat luar biasa sekaligus menjadi
tantangan besar bagiku. Mereka sama sekali belum pernah mendapatkan pelajaran
bahasa Inggris di tingkat pendidikan sebelumnya, sehingga aku harus mengajari
mereka dari nol. Ini merupakan tanggung jawab besar namun sekaligus bentuk
kebanggaan tersendiri karena menjadi yang pertama mengenalkan pada mereka
bahasa Inggris. Terkadang saya merasa kesulitan bahkan hampir putus asa
mengajari mereka, namun antusias belajar mereka yang cukup tinggi membuat
semangatku bangkit lagi. Rasa bangga itu pun hadir ketika mereka tak lagi
belajar bahasa Inggris denganku karena adanya guru pengganti dari mahasiswa PPL
sebelum masa tugasku selesai. Dengan bangganya mereka mengatakan padaku, “Bu,
kami sudah pandai bahasa Inggris.” Seringkali mereka menyapa dan memberi salam
dengan bahasa Inggris. Dalam hati merasa bangga dan bersyukur karena ilmu yang
saya berikan selalu mereka ingat dan terapkan dalam kehidupan. Rasa haru pun
muncul ketika acara perpisahan, mereka mempersembahkan sebuah lagu bahasa
Inggris yang pernah kuajarkan kepada mereka.
Satu hal lagi yang
membuat hatiku tersentuh. Dua anak yang merupakan kakak beradik tidak masuk
sekolah ketika awal tahun ajaran baru dimulai. Bahkan kepala sekolah pun
membujuk mereka untuk tetap masuk sekolah dengan dalih akan dicarikan bantuan
asalkan tetap masuk sekolah. Hingga akhirnya mereka pun bersedia masuk sekolah.
Ketika pelajaran, mereka kutanya perihal alasan tidak masuk sekolah. Dengan
polosnya mereka menjawab, “Saya ikut kerja dompeng, Bu. Saya tidak punya sepatu.”
Hatiku terpukul mendengar jawaban anak itu. Sungguh kerasnya kehidupan mereka,
hingga untuk memenuhi kebutuhan sekolah saja mereka harus berusaha dengan jerih
payah sendiri.
Perlu diketahui, daerah di
mana aku bertugas terkenal dengan kawasan penghasil tambang emas. Dahulu,
daerah ini sangat ramai karena banyaknya tambang emas di kawasan tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu barang tambang itu mulai menurun dan kini yang
ada hanyalah sisa-sisa belaka. Tak sedikit anak yang ikut kerja mendulang emas
setelah pulang sekolah, bahkan sampai tidak masuk sekolah. Tak hanya itu, ada
juga anak yang sering terlambat sekolah dengan alasan bangun kesiangan karena
harus kerja noreh getah pohon karet
pada malam harinya. Bagian yang perlu digarisbawahi adalah semangat mereka yang
besar untuk tetap ikut sekolah meskipun harus melawan keterbatasan.
Masih
banyak lagi cerita yang mungkin takkan pernah cukup tertuang hanya dalam
lembaran kertas saja. Aku dan anak-anak tak ubahnya sebuah hukum alam, ialah
simbiosis. Mereka belajar dariku, aku pun belajar dari mereka. Aku benar-benar
merasakan “Bhineka Tunggal Ika” dalam
realita, bukan hanya sebatas kata yang tertulis dalam pita di bawah cengkeraman
burung garuda. Aku merasakan hangatnya berada di tengah-tengah perbedaan. Kini,
kata “menghargai” bukan lagi sebatas teori, tapi benar-benar kualami lewat
eksistensi diri. Tentang bagaimana caraku bertahan menjadi “minoritas”, belajar
melebur diri di tengah perbedaan dengan tetap berpegang pada prinsip hidup dan
agama.
Anak-anak adalah semangat
dan bahagiaku. Canda dan tawa mereka adalah obat penawar rindu akan sanak
saudaraku di luar sana. Kesedihan mereka adalah air mata dukaku. Tak hentinya
aku kobarkan semangat kepada mereka untuk tetap menjadi orang hebat. Menjadi bagian
penting dalam putaran roda kehidupan negara ini. Kisah hidup dan perjuanganmu
adalah syair senandung cita yang kelak akan kalian persembahkan untuk ibu
pertiwi. Jadilah mutiara-mutiara penghias persada. Kebanggaan ibu pertiwi ada
di tangan kalian.( oleh Rahma Nur
Fitriana, S.Pd. )
No comments:
Post a Comment