Sunday, March 31, 2019

Warisan Adat Gawai Dayak


Mengenal Sepintas Warisan Adat Gawai Dayak

Di Desa Sekaruh Kecamatan Teriak Kalimantan Barat


Tidak semua lulusan sarjana pendidikan ingin mengikuti program SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Teluar, dan Tertinggal) dengan berbagai alasan, seperti alasan lebih baik mencari kerja di daerah sendiri, tidak bisa jauh dari orang tua, takut tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga, takut bila ditempatkan di daerah yang jauh dari kota dan masih banyak lagi alasan-alasan yang lainnya. Tetapi mengikuti program ini merupakan keinginan penulis dari awal program SM-3T ini diselenggaakan. Melalui progam SM-3T ini selain menambah wawasan serta pengalaman dalam mengajar peserta didik di daerah 3T juga menambah pengetahuan tentang adat masyarakat sekitar di daerah tersebut.
Pada tahun 2017 ini penulis mendapatkan daerah penempatan di Desa Sekaruh, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayangan, Kalimantan Barat yang mayoritas penduduknya merupakan suku Dayak. Berdasakan sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk suku Dayak 49.91%, suku Melayu sebesar 16.50%, suku Jawa sebesar 8.66% dan suku Tionghoa 8.17%. Suku Dayak merupakan suku di daerah pedalaman Kalimantan Barat.
Di sini penulis akan menceritakan sepenggal pengalaman selama menjalani rangkaian SM3T di Desa Sekaruh, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayangan, Kalimantan Barat yaitu salah satunya tradisi Gawai Dayak yang biasa disebut dengan upacara Tahun Baru Padi. Tradisi Gawai Dayak ini merupakan tradisi turun-temurun yang diwarisi dari nenek moyang pendahulu suku Dayak asli dari Provinsi Kalimantan Barat. Upacara adat Gawai Dayak atau upacara Tahun Baru Padi ini, merupakan upacara adat yang dimaksudkan  sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan berkah dengan hasil panen melimpah yang didapat oleh para petani. Perayaan adat ini memiliki tujuan yang sama di setiap daerah, namun dalam pelaksanaannya setiap desa berbeda-beda tergantung pada kepala adat masing-masing desa. Perayaan ini dilaksanakan setiap awal bulan Januari sampai bulan Juli tiap tahunnya.
 Dalam perayaan Gawai Dayak atau tahun baru padi ini masyarakat akan berkunjung dari rumah kerumah seperti pada saat hari raya Idul Fitri umat muslim. Perayaan ini akan diawali dengan memanjatkan doa kepada sang pencipta melalui doa bersama tiap-tiap anggota keluarga di setiap rumah dan kemudian dilanjutkan dengan acara silaturahmi ke rumah kerabat, tetangga ataupun handai taulan. Ciri khas dari upacara adat ini ditandai dengan salah satu kebiasaan dari masyarakat sekitar yaitu dengan cara para tamu-tamu mereka akan disuguhkan beberapa makan khas Suku Dayak yaitu salah satunya Lemang. Lemang merupakan makanan yang dibuat dari beras ketan yang dimasukkan kedalam bambu dengan ditambah santan. Selanjutnya bambu dibakar di atas bara api untuk memasaknya. Memasak lemang membutuhkan waktu yang cukup panjang sekitar 1 jam karena tidak boleh dengan api yang besar agar bambu tidak terbakar dan beras ketan bisa masak dengan merata. Makanan yang disuguhkan berasal dari hasil panen yang diperoleh para petani.
Setelah berkunjung masyarakat akan diberikan beberapa dari hasil panen tuan rumah selain itu juga diberi lemang untuk dibawa pulang ke rumah. Masyarakat akan saling bertukar hasil panan dengan kerabat atau tamu mereka saat mereka mendatangi rumah kerabat mereka yang lain. Hal ini dimaksudkan akan menambah kerukuanan dari masyarakat Dayak pada khususnya dan masyarakat luas yang berada di daerah itu. Selain itu upacara Gawai Dayak atau upacara Tahun Baru Padi ini turun temurun dilaksanakan tiap tahunnya agar tradisi warisan dari leluhur mereka tetap dikenal oleh anak cucu dan tidak akan pernah punah seiring masuknya arus modernisasi yang mulai menggerogoti warisan adat budaya di Indonesia.(Nuraini Yuniati, S.Pd)

No comments:

Post a Comment

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...