Mengenal
Sepintas Warisan Adat Gawai Dayak
Di
Desa Sekaruh Kecamatan Teriak Kalimantan Barat
Tidak
semua lulusan sarjana pendidikan ingin mengikuti program SM-3T (Sarjana
Mendidik di Daerah Terdepan, Teluar, dan Tertinggal) dengan berbagai alasan,
seperti alasan lebih baik mencari kerja di daerah sendiri, tidak bisa jauh dari
orang tua, takut tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga, takut bila
ditempatkan di daerah yang jauh dari kota dan masih banyak lagi alasan-alasan
yang lainnya. Tetapi mengikuti program ini merupakan keinginan penulis dari
awal program SM-3T ini diselenggaakan. Melalui progam SM-3T ini selain menambah
wawasan serta pengalaman dalam mengajar peserta didik di daerah 3T juga menambah
pengetahuan tentang adat masyarakat sekitar di daerah tersebut.
Pada
tahun 2017 ini penulis mendapatkan daerah penempatan di Desa Sekaruh, Kecamatan
Teriak, Kabupaten Bengkayangan, Kalimantan Barat yang mayoritas penduduknya
merupakan suku Dayak. Berdasakan sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk
suku Dayak 49.91%, suku Melayu sebesar 16.50%, suku Jawa sebesar 8.66% dan suku
Tionghoa 8.17%. Suku Dayak merupakan suku di daerah pedalaman Kalimantan Barat.
Di
sini penulis akan menceritakan sepenggal pengalaman selama menjalani rangkaian
SM3T di Desa Sekaruh, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayangan, Kalimantan Barat
yaitu salah satunya tradisi Gawai Dayak yang biasa disebut dengan upacara Tahun
Baru Padi. Tradisi Gawai Dayak ini merupakan tradisi turun-temurun yang
diwarisi dari nenek moyang pendahulu suku Dayak asli dari Provinsi Kalimantan
Barat. Upacara adat Gawai Dayak atau upacara Tahun Baru Padi ini, merupakan
upacara adat yang dimaksudkan sebagai bentuk
ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan berkah
dengan hasil panen melimpah yang didapat oleh para petani. Perayaan adat ini
memiliki tujuan yang sama di setiap daerah, namun dalam pelaksanaannya setiap
desa berbeda-beda tergantung pada kepala adat masing-masing desa. Perayaan ini
dilaksanakan setiap awal bulan Januari sampai bulan Juli tiap tahunnya.
Dalam perayaan Gawai Dayak atau tahun baru
padi ini masyarakat akan berkunjung dari rumah kerumah seperti pada saat hari
raya Idul Fitri umat muslim. Perayaan ini akan diawali dengan memanjatkan doa
kepada sang pencipta melalui doa bersama tiap-tiap anggota keluarga di setiap
rumah dan kemudian dilanjutkan dengan acara silaturahmi ke rumah kerabat, tetangga
ataupun handai taulan. Ciri khas dari upacara adat ini ditandai dengan salah
satu kebiasaan dari masyarakat sekitar yaitu dengan cara para tamu-tamu mereka akan
disuguhkan beberapa makan khas Suku Dayak yaitu salah satunya Lemang. Lemang
merupakan makanan yang dibuat dari beras ketan yang dimasukkan kedalam bambu
dengan ditambah santan. Selanjutnya bambu dibakar di atas bara api untuk
memasaknya. Memasak lemang membutuhkan waktu yang cukup panjang sekitar 1 jam
karena tidak boleh dengan api yang besar agar bambu tidak terbakar dan beras
ketan bisa masak dengan merata. Makanan yang disuguhkan berasal dari hasil
panen yang diperoleh para petani.
Setelah
berkunjung masyarakat akan diberikan beberapa dari hasil panen tuan rumah
selain itu juga diberi lemang untuk dibawa pulang ke rumah. Masyarakat akan
saling bertukar hasil panan dengan kerabat atau tamu mereka saat mereka
mendatangi rumah kerabat mereka yang lain. Hal ini dimaksudkan akan menambah kerukuanan
dari masyarakat Dayak pada khususnya dan masyarakat luas yang berada di daerah
itu. Selain itu upacara Gawai Dayak atau upacara Tahun Baru Padi ini turun
temurun dilaksanakan tiap tahunnya agar tradisi warisan dari leluhur mereka
tetap dikenal oleh anak cucu dan tidak akan pernah punah seiring masuknya arus
modernisasi yang mulai menggerogoti warisan adat budaya di Indonesia.( Nuraini
Yuniati, S.Pd)
No comments:
Post a Comment