Saturday, February 23, 2019

Semunying Bertahan dalam Keterbatasan


Kalimantan Barat merupakan kota di Indonesia yang dilewati oleh titik nol derajat, yang di sebut dengan garis katulistiwa yang berada tepat di Kota Pontianak. Dari titik tersebut perjalanan berlanjut kurang lebih 4 jam menuju ke Kabupaten Bengkayang. Selanjutnya, menuju ke arah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia, yaitu Kecamatan Jagoi Babang. Di Kecamatan Jagoi Babang, tepatnya di Dusun Semunying Jaya terdapat sekolah yang berada di tengah perkebunan sawit. Sekolah tersebut adalah SD N 16 Semunying. Letaknya berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia.
            Saat pertama kali dating, sekolah tersebut hanya memiliki 2 ruang kelas dan sudah dalam keadaan rusak parah. Karena keadaan tersebut, pihak sekolah membuat kebijakan untuk kelas tinggi sehari-hari melaksanakan KBM di teras sekolah dan kelas rendah di dalam kelas. Syukur, diakhir tahun 2016 sekolah mendapat bantuan dari Pemda Bengkayang untuk penambahan 2 kelas serta pembuatan sanitasi. Pada pertengahan tahun 2017, sekolah mendapatkan bantuan lagi untuk perbaikan gedung yang rusak serta pembangunan gedung baru yang digunakan sebagai kantor guru. Walaupun sudah ditambah jumlah ruang kelasnya, sekolah tersebut harus berbagi ruangan dengan rombel lain yang bahwasannya satu kelas ditempati oleh 2 rombel. Sumber belajar yang mereka miliki pun masih terbatas.
            SD N 16 Semunying memiliki 1 kepala sekolah yang berstatus sebagai PNS dan 4 guru yang mendapat honor dari perkebunan. Akibat kekurangan guru maka kepala sekolah ikut mengajar sebagai guru kelas. Jumlah siswa di SD N 16 Semunying mengalami peningkatan yang cukup baik pada tahun ajaran 2016/2017 berjumlah 72 siswa, untuk tahun ajaran 2017/2018 menjadi 97 siswa yang terdiri dari 6 rombel.
            Siswa di SD N 16 Semunying terdiri dari beberapa suku antara lain, Dayak, Bugis, Flores, Melayu, dan Jawa. Tetapi mereka tetap saling menghormati serta belajar dan bermain tanpa harus membeda-bedakan. Mayoritas agama siswa adalah Kristen. Siswa tinggal di perumahan divisi perkebunan sawit dan ada pula yang tinggal di Desa Semunying Permai yang kebanyakan ditinggali masyarakat Dayak Iban. Pihak perkebunan PT. Ledo Lestari, ikut membantu dalam hal kenyamanan karyawan mereka dengan menyediakan dete atau truk untuk antar jemput anak sekolah yang rumahnya jauh.
            Semangat siswa untuk menuntut ilmu tidak putus asa. Mereka tetap berangkat walau hujan-panas mereka alami. Kehidupan di perkebunan sawit sangatlah keras. Para pekerja harus melaksanakan apel pukul 05.00 pagi, bagi mereka yang punya anak sekolah harus memasak, menyiapkan keperluan rumah, dan sebagainya. Padahal kondisi perkebunan serba terbatas. Di perkebunan sawit tidak mendapatkan jaringan listrik negara (PLN) jadi mereka menggunakan genset yang hanya hidup dimalam hari selama 2-3 jam. Sumber air yang ada hanyalah sungai kecil yang sudah tercemar oleh pupuk sawit dan mereka harus membeli air bersih untuk minum atau saat musim hujan datang mereka menampung air hujan. Kebutuhan akan pangan pun masih terbilang sulit karena jauh dari pasar dan barang atau makanan yang di jual di dalam perkebunan sangatlah mahal harganya. Terkadang kalau sudah susah bahan makanan mereka mencari bahan makanan di sekitar hutan seperti pakis, miding, rebung, burung, jamur sawit, daun mentimun.
            Susahnya hidup yang dijalani di dalam perkebunan sawit tak membuat mereka bersedih. Tawa dan canda masih nampak dirasakan oleh mereka. Berkumpul bersama-sama dengan orang-orang di sekitar mereka membuat mereka mampu untuk bertahan dalam keterbatasan yang ada. Anak- anak dengan segala keriangannya, tetap asyik bermain dengan alam tanpa mengeluh dengan apa yang ada. Bersyukur atas segala yang ada dan menikmatinya adalah cara terbaik dalam menjalani hidup. Itulah pelajaran yang mereka ajarkan pada saya selama berada di Semunying. Bahkan mereka membantu saya walaupun mereka sendiri juga masih serba kekurangan. Anak- anak datang dan bermain menemani hari- hari saya,  makan bersama-sama,  membawakan makanan serta mencari bahan makanan sepulang sekolah bersama-sama. Untuk Semunying, terimakasih. (oleh Menik Puspita, S.Pd.


No comments:

Post a Comment

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...