Kalimantan Barat merupakan kota di
Indonesia yang dilewati oleh titik nol
derajat, yang di sebut dengan garis katulistiwa yang berada tepat di Kota Pontianak. Dari titik tersebut
perjalanan berlanjut kurang lebih 4 jam menuju ke Kabupaten
Bengkayang. Selanjutnya, menuju ke arah kecamatan yang
berbatasan langsung dengan Negara Malaysia, yaitu Kecamatan Jagoi Babang. Di Kecamatan Jagoi
Babang, tepatnya di Dusun Semunying Jaya terdapat sekolah yang berada di tengah
perkebunan sawit. Sekolah tersebut adalah SD N 16
Semunying. Letaknya berbatasan langsung dengan Serawak,
Malaysia.
Saat pertama kali dating,
sekolah tersebut hanya memiliki 2 ruang kelas dan sudah dalam keadaan rusak
parah. Karena keadaan tersebut, pihak sekolah membuat kebijakan untuk kelas tinggi sehari-hari melaksanakan KBM di teras sekolah dan kelas rendah di dalam kelas.
Syukur, diakhir tahun 2016 sekolah mendapat bantuan dari Pemda
Bengkayang untuk penambahan 2 kelas serta pembuatan sanitasi. Pada
pertengahan tahun 2017, sekolah mendapatkan bantuan lagi untuk perbaikan gedung yang rusak serta pembangunan gedung baru yang digunakan sebagai kantor guru. Walaupun sudah ditambah jumlah ruang kelasnya, sekolah tersebut
harus berbagi ruangan dengan rombel lain yang bahwasannya satu kelas ditempati
oleh 2 rombel. Sumber belajar yang
mereka miliki pun masih terbatas.
SD N 16 Semunying memiliki 1 kepala
sekolah yang berstatus sebagai PNS dan 4 guru yang mendapat honor dari
perkebunan. Akibat kekurangan guru maka kepala sekolah ikut mengajar sebagai
guru kelas. Jumlah siswa di SD N 16 Semunying
mengalami peningkatan yang cukup baik
pada tahun ajaran 2016/2017 berjumlah 72 siswa, untuk tahun ajaran
2017/2018 menjadi 97 siswa yang terdiri dari 6 rombel.
Siswa di SD N 16 Semunying terdiri dari beberapa suku antara lain, Dayak, Bugis, Flores, Melayu, dan Jawa. Tetapi mereka
tetap saling menghormati serta belajar dan bermain tanpa harus membeda-bedakan.
Mayoritas agama siswa adalah Kristen. Siswa
tinggal di perumahan divisi perkebunan sawit
dan ada pula yang tinggal di Desa Semunying Permai yang kebanyakan ditinggali
masyarakat Dayak Iban. Pihak perkebunan PT. Ledo Lestari, ikut
membantu dalam hal kenyamanan karyawan mereka dengan menyediakan dete atau truk
untuk antar jemput anak sekolah yang rumahnya jauh.
Semangat siswa untuk menuntut ilmu tidak putus asa.
Mereka tetap berangkat walau hujan-panas mereka
alami. Kehidupan di perkebunan sawit sangatlah keras. Para pekerja harus melaksanakan apel pukul 05.00 pagi, bagi mereka yang punya
anak sekolah harus memasak, menyiapkan keperluan rumah, dan sebagainya. Padahal
kondisi perkebunan serba terbatas. Di perkebunan sawit
tidak mendapatkan jaringan listrik negara (PLN) jadi
mereka menggunakan genset yang hanya
hidup dimalam hari selama 2-3 jam. Sumber air yang
ada hanyalah sungai kecil yang sudah tercemar oleh pupuk sawit dan mereka harus
membeli air bersih untuk minum atau saat
musim hujan datang mereka menampung air hujan. Kebutuhan
akan pangan pun masih terbilang sulit karena jauh
dari pasar dan barang atau makanan yang di jual di dalam perkebunan sangatlah
mahal harganya. Terkadang kalau sudah susah bahan makanan mereka mencari bahan
makanan di sekitar hutan seperti pakis, miding, rebung, burung, jamur
sawit, daun mentimun.
Susahnya hidup yang dijalani di dalam perkebunan sawit tak membuat mereka
bersedih. Tawa dan canda masih nampak dirasakan oleh mereka. Berkumpul
bersama-sama dengan orang-orang di sekitar mereka membuat mereka
mampu untuk bertahan dalam keterbatasan yang
ada. Anak- anak dengan segala keriangannya,
tetap asyik bermain dengan alam tanpa mengeluh dengan
apa yang ada. Bersyukur atas segala yang ada dan menikmatinya adalah cara terbaik
dalam menjalani hidup. Itulah pelajaran yang mereka ajarkan pada saya selama
berada di Semunying. Bahkan mereka membantu saya walaupun mereka sendiri juga
masih serba kekurangan. Anak- anak datang dan bermain menemani hari- hari saya, makan
bersama-sama, membawakan makanan serta
mencari bahan makanan sepulang sekolah bersama-sama. Untuk Semunying, terimakasih. ( oleh Menik Puspita, S.Pd.)
No comments:
Post a Comment