Saturday, August 24, 2019

Sepenggal Kisah di Bumi Sebalo


Bengkayang adalah sebuah kabupaten yang awalnya tidak pernah masuk dalam list tempat yang tidak disangka dapat saya kunjungi. Namun nyatanya Tuhan memberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di kabupaten yang memiliki julukan “Bumi Sebalo” ini. Sebenarnya nama Kabupaten Bengkayang sudah tidak asing di telinga saya, karena pada saat kuliah, ada beberapa teman yang memang berasal dari kabupaten ini.
Berawal dari program SM3T, saya bisa menginjakkan kaki di Bumi Sebalo ini. Sungguh merupakan hal yang baru buat saya harus berpisah dengan kedua orang tua dan harus tinggal jauh. Namun di sini saya memperoleh banyak pengalaman, ilmu tentang hidup, teman baru dan tentunya keluarga baru. SLB N Adil Ka’talino Bengkayang merupakan tempat saya mengabdi sekaligus menimba ilmu selama satu tahun di Bengkayang. Satu tahun yang sangat bermakna untuk saya, karena dalam waktu satu tahun itu banyak sekali peristiwa menyenangkan, menyedihkan, mengharukan, membahagiakan, menyebalkan namun saat ini semuanya pun menjadi sesuatu yang begitu saya rindukan. Satu tahun di bengkayang sangatlah kurang bagi saya untuk memahami beragam adat-istiadat, kebudayaan yang terdapat di kabupaten ini. Karena di Kabupaten Bengkayang ini sangatlah kaya akan berbagai ragam budaya yang masih sangat dipegang teguh oleh masyarakat di Kabupaten Bengkayang ini. Meskipun di kabupaten ini terdapat berbagai suku, ras, agama dan etnis tetapi rasa toleransinya terasa begitu kuat dan terjalin harmonis. Saya sangat merasakan betapa rasa toleransi yang tinggi dijunjung oleh masyarakat di kabupaten ini. Sikap menghormati dan menghargai di antara perbedaan benar-benar saya apresiasi tinggi karena terjalin sangat indah, yang membuat saya merasa nyaman tinggal di kabupaten Bengkayang ini meskipun hanya satu tahun saja.
SLB N Adil Ka’talino Bengkayang, merupakan SLB pertama dan satu-satunya di Kabupaten Bengkayang ini. SLB yang berdiri sejak tahun 2015 ini sudah memiliki gedung yang megah dan luas. Namun Sekolah ini baru dapat dioperasikan mulai tahun 2016, tepatnya setelah guru SM3T diterjunkan ke sekolah. Alasan sekolah baru dioperasikan pada tahun 2016 ini karena di kabupaten ini belum terdapat lulusan guru SLB. Dan 3 orang guru SM3T termasuk saya yang berasal dari jurusan PLB inilah yang menjadi perintis pendidikan di SLB ini. Namun, saya bersama kedua teman saya yang merupakan guru SM3T ini dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus tidak sendiri. Saya dibantu oleh 5 orang guru honorer sekolah, namun mereka ini bukanlah dari lulusan PLB, melainkan dari lain jurusan yaitu PG Paud, Psikologi, dan Biologi. Pada awal masuk sekolah, SLB ini menerima sebanyak 14 siswa dengan berbagai jenis kebutuhan khususnya. Namun, seiring berjalannya waktu, siswa yang aktif ke sekolah hanya tinggal 7 orang saja. Banyak faktor yang menyebabkan banyak siswa tidak melanjutkan sekolah, antara lain akses yang sangat susah dan jauh untuk menuju ke sekolah yang letaknya berada di tengah kota kabupaten. Sedangkan banyak siswa yang tinggalnya di desa-desa terpencil yang memiliki akses yang sangat susah, yang menyebabkan orang tua malas untuk mengantarkan anak-anaknya ke SLB ini, dan lebih memilih untuk di rumah saja tanpa memberikan pendidikan yang sesuai kebutuhan anak tersebut.
SLB ini memiliki bangunan yang sangat bagus, dibandingkan sekolah-sekolah umum di sekitarnya, namun SLB ini memiliki banyak kekurangan. Antara lain sarana dan prasarana yang belum lengkap, seperti belum adanya listrik yang notabene menjadi salah satu penunjang kegiatan pendidikan di sekolah. Hal ini dikarenakan sekolah belum memiliki cukup dana untuk menyalurkan listrik hingga ke sekolah, meskipun letaknya tidak terlalu jauh dari jalan raya yang merupakan jalan utama kabupaten. Selain listrik, sarana penunjang belajar seperti buku-buku pembelajaran, media pembelajaran, alat bantu khusus untuk anak juga belum tersedia dengan lengkap. Namun dengan semua keterbatasan itu, kami semua berusaha dan terus berusaha untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik yang kami didik. Kami para guru SM3T sangat terbantu dengan adanya guru-guru honorer yang berasal dari warga asli sana, sehingga kami juga dapat bertukar ilmu dengan mereka semua. Di sana kami juga masih belajar dengan lingkungan dan kondisi peserta didik yang jauh berbeda dengan lingkungan dan peserta didik yang ada di Jawa. Kami di sana dalam memberikan pembelajaran juga harus menyesuaikan dengan bahasa dan lingkungan sekitar, agar anak mampu menerima pelajaran yang diberikan.
Di sini kami guru SM3T menjadi guru pokok, karena guru-guru lain belum mampu memahami karakteristik dan cara mendidik anak-anak berkebutuhan khusus ini. Namun para guru-guru di sini bisa memahami karakteristik anak dengan cepat, dan mampu untuk mendidik dengan sabar dan ikhlas. Kalo dilihat dari sisi penghidupan, guru-guru ini hanya memperoleh gaji yang sangat sedikit, dibanding dengan kerja keras dan kesabaran mereka mendidik anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah ini. Guru-guru di sini juga memiliki pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena jika hanya mengandalkan gaji sebagai guru di SLB sangatlah kurang. Guru-guru di SLB ini memiliki jiwa yang tangguh dan bertanggung jawab akan tugasnya sebagai guru. Hal ini terbukti, meskipun mereka memiliki pekerjaan sampingan, tetapi mereka tidak pernah melupakan kewajiban utama seorang guru yaitu mendidik anak-anak yang membutuhkan layanan pendidikan khusus. Dari merekalah kami guru-guru SM3T belajar tentang hidup, tentang perjalanan hidup yang memang harus lebih dulu diawali dengan kepahitan, untuk memperoleh hasil yangmanis serta  membahagiakan, serta kita juga belajar untuk bekerja keras demi memperoleh apa yang kita inginkan. Mulai dari siswa-siswa SLB, teman-teman guru, tetangga kontrakan, warga sekitar kontrakan, memberikan banyak pelajaran hidup bagi kita untuk bekal membangun kehidupan nanti. Bengkayang merupakan salah satu tempat yang memberikan banyak pengalaman bagi saya sebagai seorang guru SLB, dan juga memberikan pelajaran bagi saya sebagai manusia yang akan tumbuh dan berkembang menjadi dewasa hingga tua. Bengkayang akan selalu memiliki tempat di hati saya, karena telah meninggalkan kenangan yang amat sangat terlalu berharga untuk di lupakan.(oleh Nida Ulaiqoh, S.Pd.)

No comments:

Post a Comment

Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar Kebebasan setiap individu atas hak-haknya tanpa melanggar atau mengambil hak kebebasan individu lain-Ki HadjarDewantara Leb...